RESESENSI BUKU JALAN SELAMAT MEMAHAMI SIFAT ALLAH(Taqrib at-Tadmuriyah)

TAQRIB AT-TADMURIYAH

 

DATA BUKU

Judul Asli                          : Taqrib at-Tadmuriyah

Judul Edisi Terjemah     : Jalan Selamat dalam Memahami Sifat-sifat Allah, syari’at dan Takdir

Penulis Kitab asli            : Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rhm.

Penulis Taqrib                 : Syaikh al-Imam Muhammad bin Shalih al-Utsaimin

Penerjemah                      : Izzuddin Karimi, Lc.

Muraja’ah terjemah        : Tim Editor ilmiah DARUL HAQ

Penerbit                            : DARUL HAQ, Jakarta

Tebal buku                       : 238 + viii halaman

Ukuran                             : 14.5 x 20.5

Harga per ex                   : Rp 40.000,-

TENTANG TEMA BUKU

Di awal buku Syaikh Ibu Utsaimin rahimahullah menyatakan, “Yang nampak adalah bahwa risalah ini termasuk jawaban yang Syaikhul Islam rhm tulis untuk penduduk negeri Tadmur (yaitu, sebuah kota kuna di tengah-tengah negeri Syam (Suriah, sekarang; semoga Allah segera memerdekakannya dari pendudukan orang-orang Nushairiyah, pengikut setan). Dan risalah ini adalah di antara tulisan beliau yang paling baik dan paling menyeluruh di dalam tema ini, sekalipun ia ringkas. Karena itu, saya memohon pertolongan kepada Allah untuk menyatukan apa-apa yang terserak darinya, mengumpulkan apa-apa yang terpencar darinya dan mendekatkan maksudnya kepada para pembaca, serta membuang apa-apa yang mungkin tidak dibutuhkan dalam bentuk yang tidak mengugurkan maksud dan tujuannya.”

Dan menurut saya, yang menulis resensi dan memuraja’ah terjemah risalah ini, buku ini memang salah satu buku paling baik dalam mejelaskan masalah nama-nama dan sifat-sifat Allah, yang sekaligus menjelaskan kekeliruan berbagai golongan dalam Islam yang menyimpang di dalamnya, termasuk al-Asya’irah yang dianut sebagian kaum Muslimin di tanah air. Dan karena itu, buku ini memiliki kedudukan penting yang patut menjadi perhatian setiap Muslim. Bahkan buku ini seharusnya menjadi kurikulum wajib di berbagai jenjang pendidikan dan kajian, formal maupun non formal.

Dan sebagaimana disyaratkan di judul, buku ini menguraikan tiga tema besar, yaitu: Nama-nama dan sifat-sifat Allah, Syari’at dan Takdir.

SAJIAN PILIHAN

Pembicaraan tentang tauhid dan sifat-sifat Allah termasuk “kabar berita” yang berporos di antara penafian dan penetapan dari pihak yang berbicara dan mengabarkan (yaitu Allah Yang Maha Pencipta), yang harus disikapi dengan membenarkan atau mendustakan oleh pihak yang menjadi alamat “kabar berita” tersebut (yaitu kita manusia). Hal itu, karena ia adalah kabar berita tentang apa-apa yang wajib bagi Allah berupa tauhid dan sifat-sifat kesempurnaan dan apa-apa yang mustahil bagiNya berupa persekutuan, kekurangan dan kesamaan dengan makhlukNya.

Kemudian dalam masalah Syari’at dan Takdir, ia termasuk “tuntutan” yang berporos di antara perintah dan larangan dari pihak yang berbicara (yaitu, Allah Yang Maha Pencipta), yang harus disikapi dengan ketaatan atau kedurhakaan dari pihak yang menjadi alamat perkataan (yaitu, kita manusia). Hal itu, karena apa-apa yang dituntut untuk dilaksanakan adalah suatu yang dicintai oleh Allah, maka ia diperintahkan, atau sebaliknya ia dibenci oleh Allah maka ia dilarang.

Perbedaan antara “kabar berita” dan “tuntutan” dari segi hakikat makna adalah suatu yang dikethui semua orang.

Yang penting, adalah bahwa yang wajib atas hamba-hamba terkait “kabar-kabar” dari Allah dan RasulNya adalah membenarkan dan mengimamninya sebagaimana yang diinginkan oleh Allah dan Rasulnya. Allah Ta’ala berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman! Berimanlah kepada Allah dan RasulNya dan kepada al-Kitab (al-Qur`an) yang Dia turunkan kepada RasulNya itu serta kitab yang Dia turunkan sebelumnya.” (An-Nisa`: 136).

Dan yang wajib atas hamba-hamba terkait “tuntutan” adalah melaksanakannya sebagaimana yang diinginkan oleh Allah dan RasulNya. Allah Ta’ala berfirman,

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatlah kepada Allah dan RasulNya, dan janganlah kalian berpaling dariNya.”  (Al-Anfal: 20).

Bila ini telah jelas, maka ada dua pokok yang harus diperhatikan;

Pokok pertama: terkait sifat-sifat Allah.

Pokok kedua: terkait Syari’at dan Takdir.

Terkait dengan sifat-sifat Allah, maka yang wajib adalah menyifatiNya dengan sifat-sifat yang Dia tetapkan sendiri untuk DiriNya dan ditetapkan RasulNya untukNya; tanpa menyerupakan dengan sifat makhluk, tidak mengingkari atau menganulirnya dan tanpa menetapkan bentuk dan caranya.

Ini didasari oleh dalil sam’i dan nazhari (pengkajian), dan bisa juga dikatakan, dalil naqli dan aqli.

Tentang dalil-dall sam’i, tercantum begitu banyak di dalam al-Qur`an dan as-Sunnah.

Sedangkan dalil nazhari (pengkajian), adalah karena berkata tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah termasuk “kabar berita” murni yang tidak ada jalan bagi akal untuk mengetahui rinciannya. ِِArtinya, sifat-sifat Allah itu hanya apa yang Allah beritakan kepada kita tentang Dirinya, dan bukan hasil kontruksi hukm akal atau logika. Karena itu,  wajib berhenti pada keterangan yang dihadirkan oleh dalil sam’i atau naqli.

Dalam menyifati Allah Ta’ala, harus menggabungkan antara menetapkan dan menafikan, karena inilah hakikat mentauhidkan Allah. Kalau hanya menafikan berarti hanya penolakan yang tulen dan sebaliknya kalau hanya menetapkan saja, tidak dapat menepis persekutuan dengan yang lain.

Sebagai contoh dari segi bahasa:

Bila Anda berkata, “Zaid pemberani”, berarti Anda hanya menetapkan bahwa dia memiliki sifat berani tetapi tidak menafikan sifat berani dari selainnya, sehingga memungkin dia sama dengan yang lainnya dalam hal sifat berani tersebut, dan ini berarti adanya persekutuan.

Bila Anda berkata, “Zaid bukan pemberani”, berarti Anda menafikan sifat berani dari dirinya.

Dan bila Anda berkata, “Tidak ada yang pemberani kecuali Zaid”, maka berarti Anda menetapkan bahwa hanya dia yang memiliki sifat berani dengan kata “kecuali”, sekaligus Anda tidak menyamakannya dengan orang lain karena Anda menafikan sifat berani itu dari lainnya dengan kata “tidak ada”.

Di sini ada dua dasar pokok yang harus diperhatikan:

Pertama: Sifat-sifat yang wajib ditetapkan bagi Allah (ash-Shifat ats-Tsubutiyah), secara umum berlaku perincian padanya. Hal karena semakin banyak pengabaran tentangnya dan semakin beragam petunjuk maknanya, semakin nampak kesempurnaan PemilikNya, yaitu Allah Ta’ala.

Kedua: Sifat-sifat yang wajib ditiadakan dari Allah (ash-Shifat al-Manfiyah), secara umum yang berlaku padanya adalah “penggelobalan”.

Ada satu kaidah pundamental yang harus dipahami, yaitu bahwasanya kesamaan nama dan sifat tidak menggharuskan kesamaan pada pemilik nama dan pemilik sifat. Dan ini baku dalam dalil sam’i, aqli dan indrawi (hissi).

Pertama: dalil sam’i.

Allah Ta’ala berfirman tentang DiriNya,

{إِنَّ اللَّهَ كَانَ سَمِيْعًا بَصِيْرًا}.

“Sesungguhnya Allah Mendengar lagi Melihat.”

Dan Allah Ta’ala berfirman tentang manusia yang Dia ciptakan,

{إِنَّا خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ نُطْفَةٍ أَمْشَاجٍ نَبْتَلِيْهِ فَجَعَلْنَاهُ سَمِيْعًا بَصِيْرًا}.

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur, (dengan tujuan) Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami menjadikannya mendengar lagi melihat.”

Dengan sangat jelas bahwa Allah menetapkan nama سَمِيْع (Yang Mendengar) untuk DiriNya yang menunjukkan bahwa dia memiliki sifat “mendengar”; dan juga menetapkan سَمِيْع (yang mendengar) juga untuk manusia yang juga menunjukkan bahwa manusia juga memiliki sifat “mendengar”. Akan tetapi kesamaan nama dan sifat ini, tidak berarti hakikat sifat “mendengar” milik Allah sama dengan hakikat sifat “mendengar’ milik manusia. Maka kesamaan ini sama sekali bukan berarti menyerupakan Allah dengan makhluk.

Kedua: dalil aqli (nazhari).

Adalah sesuatu yang diketahui semua orang bahwa kesamaan nama dan sifat di antara dzat-dzat yang ada tidak menunjukkan kesamaan secara total dari segala segi.

Contoh 1: manusia memiliki kaki dan meja juga memiliki kaki; tetapi hakikat kedua kaki tersebut tidaklah sama.

Contoh 2: tubuh manusia lunak dan besi panas juga lunak, tetapi hakikat sifat “lunak” pada keduanya tidaklah sama.

Dan begitu seterusnya.

Ketiga: Dalil indrawi (hissi).

Dengan kasat mata kita dapat melihat gajah memiliki tubuh, telapak kaki dan kekuatan, dan nyamuk juga memiliki tubuh, telapak kaki dan kekuatan. Akan tetapi kita juga melihat dengan kasat mata, perbedaan di antara keduanya dari ketiga sifat tersebut.

Nah, kalau sesama makhluk saja tidak mesti menunjukkan kesamaan, maka apalagi antara Allah Yang Maha Pencipta dengan makhluk yang diciptakanNya.

Ini berlaku untuk semua sifat-sifat Allah, termasuk sifat-sifat DzatNya, seperti, “memiliki wajah”, “memiliki dua tangan” dan sebagainya. Dan karena itu, menetapkan sifat-sifat tersebut bagi Allah, tidak berarti menyerupakan Allah dengan makhlukNya. Dan ini jelas.

Ini sangat penting untuk dipahami secara baik, karena di sinilah letak kekeliruan banyak pihak dalam memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah. Karena itu, jangan heran kalau ada kelompok di tubuh umat Islam yang menuduh Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagai musyabbihah yaitu kelompok yang menyerupakan Allah dengan makhluk. Padahal Ahlus Sunnah wal Jama’ah yang mengikuti manhaj as-Salaf ash-shalih adalah orang-orang yang paling bersih dan paling lurus dalam memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah ini.

Dan di antara kelompok yang keliru dalam masalah sifat-sifat Dzat Allah ini adalah al-Asya’irah yang sebenarnya lebih tepat dinamakan dengan al-Qullabiyah, karena imam al-Asy’ari sendiri kemudian meninggalkan metodologi yang mereka anut tersebut dan mengikuti manhaj Imam Ahmad yang tentu sejalan dengan manhaj as-Salaf ash-Shalih. Dan ini pula sebabnya, banyak penganut metodologi Asya’irah menakwilkan sifat-sifat dzat Allah, yang tentu saja bertentangan dengan akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

 

Begitu pula di antara golongan yang tersesat dalam masalah nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah Mu’tazilah dan jahmiyah, yang dapat Anda kaji dengan baik di sini serta bantahannya.

Dan dalam buku ini terdapat penjelasan yang sangat apik dan rapi tentang bagaimana memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah sehingga menjadi tauhid yang benar, sebagaimana yang diridhai oleh Allah Ta’ala, dan lebih dari itu terdapat bantahan yang mengagumkan terhadap semua golongan yang menyimpang dalam masalah nama-nama dan sifat-sifat Allah. Ini tentu penting untuk kita pegang teguh, karena sebagaimana kita wajib bertauhid kita juga wajib memerangi syirik, sebagaimana kita wajib mengikuti Sunnah begitu juga kita wajib meninggalkan bid’ah, dan sebagaimana kita wajib menetapkan nama-nama dan sifat-sifat Allah kita juga wajib meninggalkan orang-orang yang menyimpang dalam masalah nama-nama dan sifat-sifat Allah tersebut. Allah Ta’ala menegaskan,

{وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ}.

Dan Allah memiliki Asma`ul Husna, maka berdoalah (memohon) kepadaNya dengan (menyebut)nya, dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran) dalam Nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (Al-A’raf: 180).

Dan kaidah pokoknya adalah Firman Allah Ta’ala,

“Tidak ada sesuatupun yang serupa denganNya, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi maha Melihat.” (Asy-Syura: 11).

Di sini, Allah meniadakan kesamaan antara DiriNya dengan makhlukNya, tetapi bersama itu Dia mnetapkan bahwa dia mendengar dan melihat, sementara manusia juga mendengar dan juga melihat.

Karena itu, sangat sederhana, kita hanya menetapkan sifat-sifat yang Allah tetapkan bagi DiriNya dan ditetapkan oleh RasulNya untukNya disertai dengan tidak menyamakan sifatnya dengan sifat makhluknya.

PENUTUP

 

Apa yang sampat disajikan dalam resensi ini, hanya sebagian kecil dari hamparan ilmu dan ma’rifat yang luas yang diuraikan dalam buku ini.

Dan sebagaimana tertera di judul, buku ini, di samping menjelaskan masalah manhaj yang shahih dalam memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah, buku ini juga menguraikan masalah Syari’at dan Takdir, yang ketiganya merupakan tema-tema yang asasi dalam Agama Islam Yang agung ini.

Saya yang merensi dan memuraja’ah terjemahan buku ini merekomendasikan buku ini sebagaimana buku primer yang patut menjadi bahan kajian dan kurikulum ajar di lembaga-lembaga pendidikan, yang formal maupun yang tidak formal. Maka buku ini patut menjadi perhatian setiap Muslim yang ingin memahami nama-nama dan sifat-sifat Allah, serta Syari’at dan Takdir dengan baik dan benar.

Semoga Allah memberikan kita taufik kepada ilmu yang shahih dan amal yang shalih. Sesungguhnya dia Maha Mendengar, Maha Dekat lagi maha Mengabulkan.

Tinggalkan Balasan

Register