Resensi Buku Sabar dan Syukur

DATA BUKU

Judul Asli                          : Uddatus Shabirin wa Dzakhiratus Syakirin
Judul Intisari                    : Muhtashar Uddatus Shabirin wa Dzakhiratus Syakirin
Judul edisi terjemah       : Penjelasan Tuntas Tentang Sabar Dan Syukur
Penulis kitab asli              : Imam Ibnul Qayyim rhm
Penyusun intisari             : Dr. Ahmad Utsman al-Mazyad.
Muraja’ah Terjemah        : Tim Editor ilmiah DARUL HAQ
Penerbit                              : DARUL HAQ – Jakarta
Tebal buku                         : 160 halaman
Ukuran buku                     : 14.5 x 20.5
Harga per ex                      : Rp 25.000
TEMA BUKU

SIMULASI ISI BUKU

Buku ini secara fokus menguraikan dua tema besar: Sabar dan syukur

Tentang Sabar:

Setelah penulis mendifinisikan sabar secara jelas dan berbagai pandangan para ulama tentang hakikatnya, penulis kemudian menguraikan:

Sabar, dilihat dari segi tempat bersemayamnya, terbagi menjadi dua: badani dan ruhani. Dan masing-masing ada dua macam: pertama, sabar berdasarkan pilihan dan kemauan (ikhtiyar) sendiri dan kedua, sabar berdasarkan keterpaksaan. Maka sabar dari segi ini adalah empat macam. Dan semuanya diuraikan secara jelas dan gamblang dalam buku kita ini.
Dari segi kekuatan dan kelemahannya melawan desakan hawanafsu, sabar itu juga ada beberapa macam. Silahan Anda kaji dalam buku ini.
Kemudian dari segi kaitannya, sabar ada tiga: pertama, sabar menjalankan perintah Allah hingga mampu menunaikannya secara baik; kedua, sabar dalam menjauhi apa-apa yang dilarang; ketiga, sabar menghadapi ketetapan-ketetapan takdir Allah.
Kemudian dari segi kaitannya dengan hukum taklifiyah yang lima, sabar terbagi menjadi beberapa macam; ada sabar yang wajib, ada sabar yang sunnah, ada sabar yang makruh dan ada juga yang haram.
Sabar juga terbagi menjadi: yang terpuji dan yang tercela.
Bahkan sabar juga ada bebera macam dari segi tingkatan derajatnya.

Dan semua ini, diuraikan dengan sangat indah dan padu oleh Imam Ibnul Qayyim dan diintisarikan dengan padat dan jelas oleh Dr. Ahmad Utsman al-Mazyad.
Saudaraku seiman …
Bersabar adalah suatu yang sangat ditekankan, dalam segala hal, hingga Allah Ta’ala menyebutkan kata “sabar” di dalam al-Qur`an pada 90 tempat, begitu juga Rasulullah saw dalam banyak hadits, serta perkataan as-Salaf ash-Shalih. Begitu pentingnya sikap sabar ini, hingga Imam Ibnul Qayyim, penulis kitab asli dari buku ini, meletakkan satu judul tersendiri: “Manusia tidak mungkin tidak membutuhkan sabar dalam suatu keadaan apapun”. Bahkan Imam Ibnul Qayyim juga meletakkan satu judul tersendiri lainnya: “Sabar itu adalah setengah dari Iman”.
Uraian mengenai sabar ini kemudian mengerucut kepada satu tititk yaitu: orang miskin yang bersabar adalah orang yang utama dan patut diteladani.

Begitu juga tentang syukur, buku ini menjelaskannya dari berbagai segi, sehingga benar-benar sajian yang akan menghujam dalam sanubari setiap orang yang merenunginya. Dan ini mengerucut pada satu titik, yaitu: orang kaya yang bersyukur adalah orang yang utama dan layak menjadi panutan.
Begitu hebat dan tinggi kedudukan sabar dan syukur hingga muncul pertanyaan: Siapa yang lebih utama, orang kaya yang bersyukur atau orang miskin yang sabar?

Pendapat pertama berkata: Orang yang sabar lebih utama
Pendapat kedua berkata: Orang yang bersyukur lebih utama
Pendapat ketiga berkata: Keduanya sama, sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Umar bin al-Khaththab rhu, “Kalau seandainya sabar dan syuukur itu adalah dua ekor unta tunggangan, aku tidak perduli mana di antara keduanya yang aku kendarai.”
Berikut sedikit perbandingan di antara keduanya, secara ringkas:
Orang-orang yang berpendapat bahwa sabar lebih utama, berkata:

(1). Allah memuji sikap sabar, pemiliknya serta memujinya, juga memerintahkan untuk bersabar, bahkan Allah menggantungkan kebaikan dunia dan akhirat kepada sikap sabar. Lebih dari itu, Allah Ta’ala menyebutkan tentang sabar pada tidak kurang dari 90 tempat dalam kitab suciNya. Dan cukuplah sebagai dasar lebih utamanya sabar, sabda Nabi saw,

“Orang yang memberikan makan yang bersyukur, adalah setara dengan kedudukan orang berpuasa yang bersabar.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, dan lainnya).

(2). Jika kita bandingkan antara nash-nash (dalil-dalil) tentang sabar dengan nash-nash (dalil-dalil) tentang syukur, maka kita akan mendapatkan bahwa nash- tentang sabar berlipat-lipat kali dibandingkan dengan syukur.

(3). Sabar masuk dalam semua masalah agama, dan karena itu sabar seperti kedudukan kepala dari badan.

(4). Allah hanya menjanjikan tambahan balasan terkait syukur, yaitu dalam FirmanNya, “Jika kalian bersyukur, niscaya aku tambahkan bagi kalian.” (Ibrahim: 7), sedangkan sabar Allah janjikan balasan tanpa hisab, yaitu dalam FirmanNya, “Sesungguhnya orang-orang yang bersabar dilimpahkan pahalanya tanpa hisab.” (Az-Zumar: 10).

(5). Allah hanya menyebutkan balasan untuk orang-orang yang bersyukur secara umum dalam FirmanNya, “Dan Allah akan memberikan balasan bagi orang-orang yang bersykur.” (Ali Imran: 144). Sedakan balasan bagi orang-orang yang bersabar Allah sebutkan secara khusus (definitif) yaitu dalam FirmanNya, “Dan Kami benar-benar akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl: 96).

(6). Terdapat riwayat shahih bahwa Nabi saw bersabda, “Allah Ta’ala berfirman, ‘Semua amal anak cucu Adam adalah baginya, kecuali Puasa maka ia adalah bagiKu dan Aku-lah Yang akan memberikanbalasan baginya’.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim). Dan itu tidak lain karena sikap sabar yang terkandung di dalam Puasa.

(7). Cukuplah sebagai ungkapan lebih utamanya sabar dibanding syukur, Firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya pada hari ini Aku memberi balasan kepada mereka, karena kesabaran mereka; bahwasanya mereka itulah orang-orang yang memperoleh kemenangan.” (Al-Mu`minun: 111), di mana Allah menetapkan kemenangan mereka (di Hari Kiamat) adalah karena kesabaran mereka.

(8). Dalil-dalil juga menunjukkan bahwa bersikap zuhud terhadap dunia, sebagaimanapun memunginkan, adalah lebih utama dari pada memperbanyak harta benda; dan sikap zuhud terhadap dunia adalah sikap orang yang bersabar sementara memperbanyak harta adalah sikap orang yang bersyukur.

(9). Dan lain sebagainya.

Sementara orang-orang yang berkata bahwa syukur lebih utama, berkata:

[1]. Syukur lebih utama karena Allah Ta’ala menyandingkannya dengan tujuan yang menjadi maksud makhluk diciptakan. Allah Ta’ala berfirman, “Maka ingatlah kalian kepadaKu, niscaya Aku pun akan ingat kepada kalian. Ber¬syu-kurlah kepadaKu, dan janganlah kalian ingkar kepadaKu.” (Al-Baqarah: 152).

[2]. Allah Ta’ala juga menyandingkan syukur dengan Iman. Allah Ta’ala berfirman, “Allah tidak akan menyiksa kalian, ji¬ka kalian bersyukur dan beriman.” (An-Nisa`: 147).

[3]. Allah swt juga mengabarkan bahwa orang-orang yang bersyukur adalah orang-orang yang diistemewakan dengan karunianya di antara hamba-hamba Nya, di mana Allah Ta’ala berfirman, “Demikianlah, Kami telah menguji sebagian mereka (orang yang kaya) dengan sebagian yang lain (orang yang miskin), agar mereka (orang yang kaya itu) berkata, ‘Orang-orang semacam inikah yang diberi anugerah oleh Allah di antara kita?’ (Allah ber¬¬¬firman), ‘Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang mereka yang bersyukur (kepadaNya)?’.” (Al-An’am: 53).

[4]. Allah juga membagi manusia menjadi dua golongan: yang bersyukur dan yang kufur. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguh Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus; (agar) menjadi yang bersyukur atau menjadi yang kafir.” (Al-Insan: 3). Dan yang semakna dengan ini banyak dalam al-Qur`an di mana Allah Ta’ala melawankan syukur dengan kufur

[5]. Allah Ta’ala juga menyatakan bahwa hamba-hambaNya yang bersyukur itu, adalah sedikit. Allah berfirman, “Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang bersyukur.” (Saba`: 13).

[6]. Allah Ta’ala memuji rasul pertama yang Dia utus ke bumi karena sikap syukurnya. Allah berfirman, “(Wahai) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama Nuh (dalam perahu), sesungguhnya dia (Nuh) adalah hamba (Ku) yang banyak bersyukur.” (Al-Isra`: 3).

[7]. Allah juga mengabarkan bahwa keridhaanNya dalam sikap bersyukurnya hamba kepadaNya. Allah Ta’ala berfirman, “Dan jika kalian bersyukur, Dia meridhainya bagi kalian.” (Az-Zumar: 7).

[8]. Allah juga memuji khalilNya Ibrahim karena sikapnya yang mensyukuri nikat-nikmatNya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam (yang dijadikan teladan) lagi patuh kepada Allah dan hanif (lurus), dan dia bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Allah), dia juga seorang yang mensyukuri nikmat-nikmatNya; Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus..” (An-Nahl: 120-121).

[9]. Allah Ta’ala juga mengabarkan bahwa bersyukurnya hamba adalah merupakn tujuan paling tinggi dari penciptaan dan penetapan agamaNya. Allah berfirman, “Dan Allah mengeluarkan kalian dari perut ibu-ibu kalian dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia menjadikan untuk kalian pendengaran, penglihatan dan hati, agar kalian bersyukur.” (An-Nahl: 78).

[10]. Yang mengatakan bahwa bersyukur lebih utama, berhujah dengan mengatakan bahwa bersyukur dikehandaki secara tersendiri (tujuan utama) sedangkan sabar dimaksudkan untuk selainnya (tujuan antara).

[11]. Dan masih ada hujjah-hujjah yang lainnya.

Dan karena begitu kuat dan jelas hujjah-hujjah dari masing, setelah Imam Ibnul Qayyim menyebutkan hujjah-hujjah tersebut, beliau berkata, yang secara ringkas sebagai berikut:
Berdasarkan tahqiq (penelitian seksama), yang lebih utama di antara keduanya adalah yang lebih takwa kepada Allah Ta’ala. Kalau taruhlah kedua-duanya sama dalam hal ketakwaan, maka keduanya sama dalam hal keutamaan. Itulah sebabnya Allah tidak mengutamaan seseorang karena kefakiran dan kekayaan, akan dengan takwa,
{إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ}.
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah, adalah yang paling takwa di antara kalian.” (Al-Hujurat: 13).
Dan takwa itu memang dibangun di atas dua pokok ini, sabar dan syukur. Karena itu, siapa yang sabar dan syukurnya lebih sempurna, pastilah ia lebih utama.

PENUTUP
Buku ini benar-benar sajian tentang dua kewajiban pokok setiap Muslim, yaitu “Sabar’ dan “Syukur”. Ketika seseorang membaca tentang “shabar” dengan semua rinciannya dalam buku ini, dia pasti akan terbersit dalam hatinya bahwa sabar harus menjadi pilihan utama dalam sikap hidupnya. Dan begitu pula ketika dia membaca tentang syukur. Bila dia merenungi tentang keutamaan orang fakir yang sabar, seseorang pasti akan bertekad dalam dirinya untuk mewujudkannya, dan ketika dia membaca keutamana-keutamaan orang kaya yang bersyukur, dia akan bertekad untuk memperbaiki cara pandangnya terhadap harta benda.
Kedua sikap ini adalah suatu yang bagus; karena sabar dan syukur memang dua sikap yang diwajibkan Allah atas setiap hambaNya; dan keduanya merupakan asas bagi ketakwaan seseorang.
Karena itu, silahkan Anda mengkaji dua masalah ini secara mendalam dalam buku ini, insya` Allah dengannya Allah akan mendatangkan berbagai kebaikan untuk meraih ketakwaan.

Register