RESENSI BUKU PARA SAHABAT NABI

DATA BUKU

Judul Asli                    : Shuwar Min hayat ash-Shahabah
Judul terjemah           : PARA SAHABAT NABI ; Kisah Perjuangan,
Pengorbanan dan Keteladanan.
Penulis                         : Dr. Abdul Hamid as-Suhaibani.
Muraja’ah Terjemah : Tim Editor Ilmiah DARUL HAQ.
Penerbit                      : DARUL HAQ – Jakarta.
Tebal buku                 : 424 + xvi (soft cover).
Ukuran buku              : 15,5x 24 cm
Harga                          : Rp. 70.000,-

KEDUDUKAN PENTING TEMA BUKU

Tidak ada keraguan bahwa para sahabat Nabi adalah generasi terbaik
dari umat ini. Tidak ada yang menyelisihi ijma’ para ulama ini, kecuali para
pengikut hawa nafsu dan sekte-sekte sesat yang merusak di dalam tubuh umat
Islam. Bahkan terdapat satu rumusan baku dari para ulama Ahlus Sunnah wal
Jama’ah berbunyi:

الصحَّاَبةَ كلُهُّمُ ثقِاَتٌ عدُلُ (para sahabat semuanya adalah orang-orang
yang kredibel dan adil).

Ini sejalan dengan al-Qur`an, as-Sunnah dan akal sehat. Hal itu, karena Islam adalah agama terakhir, Rasulullah Muhammad Shalallahu alaihi wassalam adalah rasul terakhir, dan al-Qur`an adalah kitab suci terakhir yang Allah turunkan sebagai hujjah atas manusia yang harus tetap terjaga hingga akhir zaman. Karena itu, para pengemban al-Qur`an dan as-Sunnah haruslah orang-orang yang tsiqah dan adil. Tidak mungkin mereka semuanya murtad, sebagaimana yang dituduhkan oleh orang-orang syi’ah; karena bila para sahabat semuanya murtad dan kafir kecuali beberapa orang saja, maka agama yang diwariskan kepada kaum Muslimin tidak memiliki nilai, karena orang-orang yang menyampaikannya pertama kali dari Nabi Shalallahu alaihi wassalam, adalah orang-orang tidak yang diterima. Inilah sebenarnya tujuan utama orang-orang Syi’ah mengkafirkan para sahabat, agar Islam luntur di hati kaum Muslimin dan diganti dengan ajaran Syi’ah yang mereka sembunyikan di balik kedok cinta keluarga Nabi Shalallahu alaihi wassalam.

Nah, mempelajari perjalanan hidup para sahabat dapat menepis semua itu dan mendatangkan banyak manfaat. Di antaranya:
1. Mengambil ibroh atau pelajaran dari jejak langkah mereka dalam beriman dan berislam yang telah menyebabkan mereka meraih predikat sebagai generasi terbaik.
2. Memahami bentuk yang aktual dari konsep Islam dan Iman pada pribadi-pribadi mereka, karena setelah Nabi Shalallahu alaihi wassalam, merekalah orang-orang yang paling gigih menjalankan agama Islam secara konsisten dan totalitas.
3. Agar kita menyadari secara baik bahwa merekalah yang patut menjadi figur kita kaum Muslimin, setelah Nabi Shalallahu alaihi wassalam,dan agar semangat kita terus berkobar untuk agama ini, sebagaimana yang telah mereka lakukan.
4. Dengan menguasai sejarah hidup para sahabat, kita dapat memiliki bahan yang kuat untuk membela mereka dari keritikan dan cacian para pengusung ajaran setan dari para Majusi pendusta.
5. dan lain sebagainya.

TENTANG ISI BUKU

Sebagaimana judulnya, buku ini memaparkan kisah 47 orang sahabat nabi Shalallahu alaihi wassalam dalam perjuangan, pengorbanan, keteladanan. Dan buku ini adalah salah satu karya tulis terbaik dalam menggambarkan keperibadian mereka.

Kisah sahabat yang akan kami angkat pada resensi kali ini adalah kisah seorang sahabat yang bernama Abdullah bin Rawahah
Beliau memiliki nama lengkap Abdullah bin Rawahah bin Tsa’labah al-Anshari al-Khazraji, seorang laki-laki yang meraih kedudukan mulia di tengah-tengah kaumnya, di mana dia adalah seorang penyair, petarung, pemimpin, dan panglima perang.
Abdullah mendapatkan perhatian di masa jahiliyah seperti anak-anak keluarga yang mulia, di mana keluarga telah mendidiknya dari kecil dengan sangat baik yang jarang ada yang sepertinya; dia pandai membaca dan menulis sejak kecil, padahal menulis sangat jarang ditemukan di bangsa Arab ketika itu, sebagaimana dia menguasai syair sejak kecil. Manakala kedua lengannya telah kuat, dia menjelma menjadi penyair ulung.

KISAH MASUK ISLAM ABDULLAH BIN RAWAHAH

Bila kita mengembalikan pemikiran ke hari-hari Islam pertama, kita melihat di antara para sahabat Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam ada orang-orang yang mana sumber perbincangan tentang mereka tidak pernah kering, ada pula yang lain yang tidak sepadan dengan kelompok pertama dari sisi nama dan ketenaran, namun kedua kubu berjalan seiring dalam petunjuk, mendukung satu prinsip yang tidak berbeda.
Di antara para sahabat yang paling bersinar kepribadiannya dan paling menonjol pengaruhnya adalah Abdullah bin Rawahah, dia hampir tidak pernah tersembunyi dari pandangan kita dalam perjalanan hidupnya sejak dia masuk Islam hingga dia kembali kepada Allah Ta’ala sebagai syahid yang dimuliakan, karena dia ikut dalam seluruh peperangan bersama Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam. Kesempatan pertama yang kita menyaksikannya padanya adalah bai’at Aqabah kedua bersama tujuh puluh orang Anshar, saat itu Nabi Shalallahu alaihi wassalam menetapkan syarat atas mereka agar melindungi beliau seperti mereka melindungi keluarga dan anak-anak mereka, dan sesudahnya Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam menunjuk dua belas orang penanggung jawab, satu dari mereka adalah Abdullah bin Rawahah.

Ibnu Rawahah mencapai tingkatan tinggi di bidang dzikir dan zuhud terhadap dunia, hati dan lisannya senantiasa berdzikir kepada Allah, mengajak siapa yang ditemuinya untuk berdzikir. Suatu kali dia berkata kepada seorang rekannya, “Kemarilah, kita beriman sesaat.” Rekannya berkata, “Bukankah kita orang-orang beriman?” Ibnu Rawahah berkata, “Benar, akan tetapi kita mengingat Allah untuk meningkatkan iman kita.”
Ibnu Rawahah tidak hanya membela Islam dengan pedang dan lidahnya semata, sebaliknya dia mengajak kepada Allah dan RasulNya dengan segala kekuatan yang dimilikinya dalam menjelaskan dan mempengaruhi, dan Islamnya Abu ad-Darda` disebabkan olehnya.

Al-Hakim meriwayatkan dalam al-Mustadrak dari al-Waqidi, dia berkata, “Abu ad-Darda` adalah orang terakhir dari keluarganya yang masuk Islam. Dia masih berat meninggalkan berhalanya. Ketika Abdullah bin Rawahah mengajaknya kepada Islam dia tidak menerima. Abdullah bin Rawahah lalu
datang ke rumah Abu ad-Darda, dua laki-laki ini bersaudara di zaman jahiliyah sebelum Islam, manakala Ibnu Rawahah melihat Abu ad-Darda` keluar dari rumahnya, dia menyelinap lalu masuk ke rumahnya, saat itu istrinya, Ummu ad-Darda` sedang menyisir rambutnya. Ibnu Rawahah bertanya, ‘Mana Abu ad-Darda`?’ Istrinya menjawab, ‘Saudaramu telah keluar belum lama.’ Maka Ibnu Rawahah masuk ke ruangan di mana berhala itu berada, dia membawa kapak, lalu menghancurkan berhala itu berkeping-keping, sambil mulutnya bergumam, ‘Ketahuilah, bahwa segala apa yang disembah bersama Allah adalah batil.’ Kemudian dia keluar. Istri Abu ad-Darda` mendengar suara kapak yang menghantam berhala suaminya, dia berkata, ‘Ibnu Rawahah, kamu mencelakakanku!’ Lalu Ibnu Rawahah pergi seolah-olah tidak terjadi sesuatu hingga Abu ad-Darda` pulang ke rumahnya, dia masuk dan melihat istrinya duduk menangis karena kasihan kepadanya. Abu ad-Darda` bertanya, ‘Ada apa denganmu?’ Istrinya menjawab, ‘Saudaramu, Ibnu Rawahah, dia datang ke sini dan melakukan apa yang engkau lihat.’ Maka Abu ad-Darda` marah besar, namun dia buru-buru merenung, ‘Seandainya berhala ini memiliki kebaikan, niscaya ia membela dirinya.’ Lalu Abu ad-Darda` pergi menuju Rasulullah yang sedang bersama Ibnu Rawahah dan dia masuk Islam.” Suatu kali, Abu ad-Darda` berkisah, “Bila Abdullah bin Rawahah bertemu denganku, dia berkata, ‘Uwaimir, duduklah, kita berdzikir sesaat.’ Maka kami duduk berdzikir. Kemudian dia berkata, ‘Ini adalah majelis iman. Iman itu seperti bajumu, suatu saat kamu melepasnya bila kamu memakainya, suatu saat kamu memakainya bila kamu melepasnya. Hati itu lebih cepat berbalik daripada air dalam bejana yang terus-menerus mendidih’.” Abu ad-Darda` berkata, “Aku masih teringat ketika kami bersama Rasulullah di sebuah perjalanan, hari itu sangat panas, hingga seseorang meletakkan tangannya di atas kepalanya karena panas yang menyengat, dan tak seorang pun berpuasa kecuali Rasulullah dan Abdullah bin Rawahah.”

Zaid bin Arqam menambahkan sebuah sifat mulia Ibnu Rawahah lainnya, bila nama Ibnu Rawahah disebut di depannya, maka dia mendoakannya semoga Allah merahmatinya, dia berkata, “Dulu aku berada dalam asuhan Abdullah bin Rawahah, aku tidak melihat seorang wali anak yatim yang lebih baik darinya.”1

Manakala berita terbunuhnya al-Harits sampai kepada Rasulullah, beliau sangat prihatin, beliau mengabarkan pembunuhan terhadap al-Harits kepada para sahabat dan mendorong mereka untuk berangkat berjihad, maka terkumpul tiga ribu prajurit dan mereka bermarkas di al-Juruf. Syahidnya Ibnu Rawahah di perang Mu’tah Perang Mu`tah terjadi di bulan Jumadil Ula tahun 8 H, kurang lebih lima bulan sesudah Umrah Qadha`. Latar belakang terjadinya perang ini adalah bahwa Rasulullah mengirim delegasi kepada para raja dan gubernur untuk mengajak mereka kepada Islam, semuanya memuliakan utusan Rasulullah dan menyambutnya dengan baik selain Syarahbil bin Amr al-Ghassani, seorang penguasa Syam bawahan Romawi, di mana saat al-Harits bin Umair al-Azdi datang kepadanya dan tiba di Mu`tah, laki-laki ini menghadangnya dan berkata, “Hendak ke mana kamu?” Al-Harits menjawab, “Syam.” Dia bertanya, “Kamu utusan Muhammad?” Al-Harits menjawab, “Benar, aku utusan Rasulullah.” Lalu Syarahbil memerintahkan anak buahnya agar menangkapnya dan mengikatnya, kemudian dia memenggal leher al-Harits dalam keadaan terikat, hanya al-Harits inilah yang dibunuh dari para utusan Rasulullah.
Saat keberangkatan ke Mu`tah tiba, orang-orang melepas kepergian trio panglima Rasulullah; Zaid, Ja’far, dan Abdullah bin Rawahah. Saat itu Abdullah bin Rawahah menangis, maka orang-orang bertanya, “Mengapa kamu menangis wahai Ibnu Rawahah?” Dia menjawab, “Demi Allah, bukan karena aku mencintai dunia atau tetap ingin bersama kalian, akan tetapi aku mendengar Rasulullah membaca satu ayat dalam kitab Allah yang menceritakan tentang neraka,
‘Dan tidak ada seorang pun dari kalian, melainkan akan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan.’ (Maryam: 71),
aku tidak tahu apakah aku bisa keluar sesudah aku mendatanginya.”
Kaum Muslimin berkata, “Semoga Allah beserta kalian menjaga kalian, dan memulangkan kalian dengan selamat kepada kami
Kemudian pasukan kaum muslimin berangkat membawa bekal wasiat-wasiat Rasulullah dan dilepas oleh doa kaum Muslimin, pasukan terus bergerak hingga singgah di Ma’an, di bumi Syam. Orang-orang mendengar bahwa kaisar Heraklius tiba di Ma`ab dengan pasukannya yang berjumlah seratus ribu orang Romawi, ditambah dengan kabilah-kabilah Arab yang beragama Nasrani dari Lakham, Judzam, al-Qain, Bahra`, dan Bali yang juga berjumlah seratus ribu. Ketika kaum Muslimin mendengar jumlah dan perlengkapan yang telah disiapkan oleh orang-orang Romawi, mereka tinggal selama dua hari di Ma’an memikirkan urusan mereka. Sebagian dari mereka berkata, “Kita menulis surat kepada Rasulullah, kita katakan kepada beliau tentang jumlah musuh kita, mungkin beliau akan menambah jumlah kita atau memerintahkan sesuatu dan kita laksanakan.”
Namun, Abdullah bin Rawahah dengan penuh semangat dan kekuatan terdorong oleh imannya yang mendalam kepada Allah, mengajak kaum Muslimin untuk tetap maju, dia berkata, “Wahai kaum Muslimin! Demi Allah, sesungguhnya apa yang tidak kalian sukai adalah apa yang kalian cari, yaitu mati syahid. Kita tidak berperang karena jumlah, kekuatan, dan banyaknya pasukan kita, kita tidak berperang melawan mereka kecuali karena agama ini yang dengannya Allah memuliakan kita. Kita berangkat, karena di depan kita ada satu dari dua kebaikan; menang atau mati syahid.” Maka orang-orang menjawab, “Demi Allah, Ibnu Rawahah berkata benar.” Maka mereka sepakat maju.
Kaum Muslimin meninggalkan markas mereka di Ma’an dan berangkat ke utara hingga ketika mereka tiba di pinggiran Balqa`, mereka bertemu dengan pasukan orang-orang Romawi dan orang-orang Arab di sebuah desa dari desa-desa Balqa` yang bernama Masyarif. Kemudian musuh mendekat dan kaum Muslimin menepi ke sebuah desa bernama Mu`tah, di sana mereka menata pasukan dan menyiapkan diri mereka. Lalu pasukan bertemu, perang berkecamuk, Abdullah bin Rawahah memegang panji sebelum ia jatuh setelah dua panglima sebelumnya Zaid bin Haritsah dan Ja’far bin Abu Thalib gugur, dia maju di atas punggung kudanya dengan gagah berani.
Ketika dia turun dari kudanya, sepupunya memberinya sepotong tulang berdaging, dia berkata kepadanya, “Tegakkanlah tulang sulbimu dengan ini, karena kamu telah menghadapi di hari-harimu ini apa yang kamu hadapi.” Maka dia mengambilnya dan menggigitnya, kemudian dia mendengar suara berkecamuknya perang di salah satu sudut, maka dia berkata, “Dan kamu masih di dunia.” Kemudian dia meletakkannya dari tangannya lalu mengambil pedangnya kemudian maju berperang hingga gugur. Lalu panji dipegang oleh
salah seorang pejuang Anshar, Tsabit bin Aqram, dia berkata, “Wahai kaum Muslimin! Bersepakatlah untuk memilih seseorang dari kalian.” Mereka berkata, “Sudah, kamu saja.” Tsabit menjawab, “Tidak, aku tidak mau.” Akhirnya mereka sepakat memilih Khalid bin al-Walid.
Khalid mampu mengelabui musuh, dia menata ulang pasukannya lalu mulai menarik mundur sedikit demi sedikit hingga orang-orang Romawi mengira kaum Muslimin hendak menyeret mereka ke padang pasir, maka mereka tidak mengejar, Khalid terus berperang melawan musuh hingga dia bisa menyelamatkan pasukannya dan pulang tanpa kehilangan anggotanya kecuali hanya dua belas orang saja. Di perang inilah Nabi menamakan Khalid dengan Saifullah (pedang Allah).
Sebelum pasukan meninggalkan medan Mu`tah untuk pulang, Rasulullah di Madinah menyampaikan gugurnya tiga panglima, sementara mata beliau menetes karena sedih kepada mereka. Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah mengabarkan kematian tiga panglima perang Mu`tah, beliau bersabda, “Mereka semuanya gugur, kemudian panji dipegang –beliau bersabda kepada orang-orang seraya menangis– oleh salah satu pedang Allah, Khalid.
Demikianlah, Ibnu Rawahah gugur sebagai syahid, ruhnya naik kepada Tuhannya, dia telah menjual dirinya demi meraih ridha Allah, surga adalah sebaik-baik tempat kembali untuknya.
Bila dia terbunuh dan tidak meninggalkan sesuatu, maka sebenarnya dia meninggalkan nama yang terpuji, pengaruh yang mendalam, aromanya yang harum terus semerbak sepanjang zaman, seolah-olah dia berkata kepada orang-orang sesudahnya dari pasukan kaum Muslimin, “Inilah jalan untuk menyebarkan agama Allah di negeri-negeri itu, telah terbentang dan disiapkan, setelah ia kenyang dengan darah para syuhada.”
Ini adalah sepenggal kisah hidup yang sempat kami sajikan dari buku ini. Dan di dalam buku ini terhampar berbagai kisah indah dari 47 orang sahabat Nabi Shalallahu alaihi wassalamdalam menjemput ridha dan cinta Allah Ta’ala. Setiap Muslim hendaklah berusaha membacanya, karena para sahabat Nabi Shalallahu alaihi wassalam adalah figur-figur sejati dalam mengarungi kehidupan sebagai orang-orang Islam.

Penutup

Buku ini patut disampaikan kepada semua generasi, sebagai cermin bagi pribadi-pribadi mereka. Buku ini hendaklah diletakkan diperpustakaan masjid atau sekolah, terlebih perpustakaan pribadi; agar menjadi sumber inspirasi bagi keluarga dan masyarakat dekat kita. Semoga Allah mendatangkan manfaat dengannya. Amin.
Informasi:

(Hanya pada jam dan hari kerja)
Telp: 021 84999585, Sms/Wa: 0813 8236 1477
www.darulhaq.com

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Register