RESENSI BUKU MODERNISASI ISLAM

Judul asli : Al-ASHRANIYYUUN baina Maza`im at-Tajdid wa Mayadin at-Taghrib (Orang-orang sok Moderen, antara kelaim pembaharuan agama dan gerakan pembaratan umat).

Judul edisi terjemah : Mengupas Hakikat Pergerakan Modernisasi, Liberalisasi dan Westernisasi Ajaran Islam

Penulis                         : Muhammad Hamid an-Nashir

Penerjemah                 : Abu Umar Bashir, Lc.
Muraja’ah Terjemah : Tim editor ilmiah DARUL HAQ
Penerbit                       : DARUL HAQ – Jakarta
Tebal buku                  : 426 halaman
Ukuran buku              : 15,5 x 24 cm
Harga per ex               : Rp. 70.000,-

KEDUDUKAN PENTING TEMA BUKU

Kaum Muslimin telah banyak tertipu oleh informasi salah dan disebarkan oleh orang-orang yang kebelinger. Sebutlah misalnya nama Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh dan lainnya yang disebut-sebut sebagai para pembaharu Islam. Padahal mereka hanya para perusak ajaran Islam, bahkan mereka tidak lebih dari para pengusung hawa nafsu yang menggunakan logika untuk menolak wahyu.

Perhatikanlah sikap iblis yang menolak dan menyombongkan diri ketika ketika Allah memerintahkannya bersujud bersama para malaikat sebagai penghormatan kepada Nabi Adam as, lalu perhatikanlah bagaimana iblis membela diri dengan argumentasi logika. Allah berfirman,
“Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) ketika Aku memerintahkanmu?” Iblis menjawab, “Aku lebih baik daripadanya; Engkau ciptakan aku dari api, sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” Allah berfirman, “Turunlah engkau dari surga itu; karena engkau tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya engkau termasuk makhluk-makhluk yang hina.” (Al-A’raf: 12-13).

Inilah bukti nyata bahwa iblislah yang pertama kali mencontohkan pengunaan logika untuk menolak perintah dan Syari’at Allah. Karena itu, siapa saja yang menolak sesuatu dari Syari’at Allah dengan alasan nalar atau lokiga, berarti dia mengikuti sikap sombong dan menolak yang diajarkan iblis terlaknat. Maka perhatikanlah, bagaimana mereka itu telah begitu lancang dengan mengatakan sebagian ajaran Islam tidak sesuai dengan zaman modern, bahkan ada seorang kiyai yang berani mengatakan, bahwa ada sejumlah ayat al-Qur`an yang tidak boleh disampaikan di Indonesia karena berpontensi memecah belah bangsa. La Haula wa Quwwata illa Billah.
Dan semua itu, penyebabnya sederhana, menuhankan akal dan mendahulukannya ketimbanga wahyu Allah yang suci dari kesalahan.

Nah, dalam buku ini, penulis berhasil membongkar berbagai kecendrungan ilmiah yang berbasis logika dan nalar, sejak dari: “Modernisme Islam”, “Sekulerisme”,
“Libralisme”, “Orientalisme”, “Westernisme”, dan lain sebagainya, yang kesemuanya diuraikan lengkap dengan metodologi dan sejarah kemunculan dan perkembangan serta bentuk rilnya di zaman moderen ini, lengkap dengan para tokoh yang mengusungnya.
Karena itu, kedudukan tema buku ini menjadi sangat penting, karena menanamkan struktur bantahan yang konstruktif terhadap berbagai syubhat berbasis akal dan nalar terkait dengan agama Islam yang suci. Buku ini, adalah benteng dari berbagai serangan intelektual sok moderen dan gerakan pembaharuan kesiangan yang telah basi bersama berlalunya waktu.

SAJIAN SIMULATIF
Buku ini, sekali lagi, menguraikan berbagai isme berbasis nalar dan meletakkannya dalam empat bab.

BAB PERTAMA: AKAR SEJARAH ISME-ISME BERBASIS NALAR DAN AKAR SEJARAH MODERENISME

Bab ini terdiri dari beberapa pasal. Pada pembahasan pertama dari pasal pertama, penulis berhasil membongkar kedok sejumlah tokoh sentral dari pencentus ide reformasi agama. Di antara mereka adalah “Jamaludin al-Afghani”. Orang ini, yang di Indonesia digembar gemborkan oleh banyak pihak yang tidak bertanggungjawab sebagai pembaharu Islam dan reformis sejati, tidak lebih dari pembohong Syi’ah yang disusupkan sebagai boneka untuk merusak Islam dari dari dalam. Penulis berhasil membuktikan bahwa dia bukanlah seorang Afghani (berasal dari Afghanistan) akan tetapi dia berasal dari Iran dan merupakan pentolan Syi’ah Rafidhah. Yang lebih buruk dari itu, ternyata orang ini adalah salah satu antek Freemansonry yang dikenal semua kaum Muslimin, insya` Allah, merupakan organisasi Yahudi yang bertugas menghancurkan semua agama.

Dari didikan orang ini muncul orang aneh lain yang tidak kalah heboh dalam dunia ilmiah, yaitu yang dikenal dengan sebutan Syaikh Muhhammad Abduh. Lebih aneh dari ini, orang ini difublikasikan sebagai salah satu tokoh pembaharu Islam paling otoritatif. Padahal di balik itu semua orang ini juga penuh mistery dan juga salah seorang di antara propagandis Freemansonry, sebagaimana yang dibuktikan oleh penulis dalam buku ini.
Yang sangat mengherankan, kedua orang ini dan sejumlah nama-nama lain di berbagai negeri Muslim, yang berhasil dibongkar kedoknya dalam buku ini, digembar-gemborkan di berbagai perguruan tinggi bahkan di berbagai pesantren di tanah air, sebagai tokoh-tokoh gemilang yang patut menjadi panutan dalam ilmu. Bahkan sampai saat ini, masih banyak orang yang tertipu dengan ketokohan fiktif orang-orang ini. Hanya Allah tempat memohon pertolongan.

Di pasal berikutnya, penulis menguraikan sub-sub terkait metodologi para penipu ilmiah itu. Cobalah mari kita cermati lima poin metodologi yang ditempuh Muhammad Abduh, yang tentu menggambarkan metodologi selainnya dari orang-orang yang mengekor setelahnya, dalam reformasi yang mereka kelaim.
Pertama: Menyelaraskan penafsiran al-Qur`an dengan wawasan dan pandangan ilmu barat. Inilah sebabnya, salah satu pemikirannya yang terkenal adalah penafsiran sejumlah ayat yang jelas dan tegas dengan hal-hal “nalar’ yang sebenarnya ngawur. Seperti: “Para wanita penyihir” dalam Surat al-Falaq dia tafsirkan dengan para pengadu domba yang merusak persatuan. Dan masih banyak yang lain.

Dalam kelaimnya, dia ingin mengatakan bahwa cara penafsiran seperti inilah yang akan mengarahkan kaum Muslimin kepada pola fikir yang maju dan progresif. Padahal, dia tidak sadar bahwa semua ini adalah bentuk pengingkaran terhadap wahyu yang suci dan bahkan bentuk kekafiran yang berbahaya.

Kedua: Menyelaraskan hukum-hukum fikih dengan realitas moderen. Ini terlihat jelas dalam berbagai fatwanya, seperti fatwanya bahwa bunga bank itu tidak apa-apa, karena saling menguntungkan di antara kedua belah pihak dan dilakukan secara suka rela. Begitu pula pandangannya tentang poligami, di mana dia berkata, “Karena realitas kehidupan moderen yang tidak memungkinkan seorang laki-laki untuk berlaku adil, maka poligami harus dilarang”.
Ketiga: Dia sangat aktif mempropagandakan kebebasan berfikir. Dan disini, dia sangat jelas terpengaruh oleh cara pandang para orientalis.

Ke empat: Mendahulukan akal dari pada nash (dalil), bahkan Islam menurut dia bersandar kepada dalil logika, sedangkan nash (dalil) itu hanya pendukung. Inilah sebabnya, dalam banyak hal mereka menolak hadits Nabi saw dengan asumsi ngawur mereka bahwa ia tidak bisa diterima akal. Padahal hanya akal yang sakit yang menolak al-Qur`an maupun as-Sunnah.

Anehnya di samping menolak as-Sunnah, mereka justru mengutip banyak riwayat Isra`iliyat dalam penafsiran ayat-ayat al-Qur`an yang mereka lakukan. Hal itu bukanlah suatu yang aneh, karena salah satu misi yang mereka gembar gemborkan adalah “usaha untuk mendekatkan antara Yahudi, Nasrani dan Islam”, yang istilah paling ektrim adalah penyatuan agama-agama.
Ke lima: Dia memberikan perhatian yang inten terhadap upaya plurarisme. Bahkan secara diam-diam dia membentuk organisasi terselubung dalam proyek untuk mendekatkan antara Islam, Kristen dan Yahudi.

Dan dalam semua usaha ini, dia tidak malu-malu menjadikan rujukan-rujukan dan buku-buku yang ditulis oleh para oriemtalis dan orang-orang kafir, sekalipun tentu saja dia harus membuktikan bahwa dirinya juga menguasai sumber-sumber rujukan Islam berbahasa Arab, walau mungkin hanya pura-pura.
Kemudian, pada pasal ke empat dari bab pertama ini, penulis secara fokus membahas tentang orientalisme dan para tokoh, dan tentu saja berbagai metodologi dan kerusakan yang diakibatkan oleh mereka.

BAB KEDUA: PERAN PARA PROPAGANDIS WESTERNISASI DI PERTENGAHAN ABAD KE-20 M

Intinya adalah seruan mereka untuk memisahkan agama dari negara. Dan inilah yang kita saksikan hingga sekarang, di mana mereka menolak agama untuk mengintervensi negara dalam segala regulasi dan kebijakannya. Dari mana asal seruan setan ini? Siapa yang pertama memunculkannya? Lalu kenapa begitu banyak kaum Muslimin yang terjebak dengan propaganda ini? Semua ini dapat Anda kaji secara baik dalam buku ini. Perhatikanlah ini baik-baik, karena doktrin jahat ini dipakai oleh orang-orang yang mengusung demokrasi dan mengesampingkan Islam.

BAB KETIGA: MODRNIS KONTEMPORER

Ini tentu saja bentuk turunnan dari isme-isme kelasik yang sudah basi tadi, dalam berbagai baju dan tampilannya. Dan pembahasan inilah yang terkait langsung dengan realita yang kita hadapi dewasa ini. Karena itu, patut menjadi perhatian kita semua.
Saudaraku seiman …
Perhatikanlah semua kasus ini, dan silahkan Anda cek dan ricek fakta-fakta dalam buku ini, lalu cermati dunia ilmiah di tanah air tercinta ini, maka semuanya akan terkuak; bahwa ada semacam kesengajaan untuk merusak Islam atas nama ilmiah. Ini penting agar kita tidak tertipu, agar kita waspada, agar kita selamat dan agar kita memilih jalan yang benar dalam beragama.
Perhatikanlah Firman Allah Ta’ala berikut, yang menggambarkan hakikat seruan mereka,
“Dan di antara manusia ada yang berkata, “Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhir,” padahal mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman. Mereka menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka tidak menipu kecuali diri mereka sendiri, dan mereka tidak menyadari. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya itu; dan mereka mendapat azab yang pedih, karena mereka berdusta. Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Janganlah kalian berbuat kerusakan di bumi!” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.” Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari.” (Al-Baqarah: 8-12).

BAB KE EMPAT: MODERNISASI AJARAN ISLAM DALAM TIMBANGAN ISLAM

Dalam bab ini, penulis menguraikan tajdid (pembaharuan) yang benar dan sejalan dengan ruh Syari’at Islam yang suci. Ini sangalah penting, karena merupakan peta dan petunjuk jalan kepada cara pandang yang benar yang seharusnya kita pegang teguh.
Saudaraku seiman …
Dalam ke empat bab ini, penulis berhasil menyuguhkan banyak fakta terkait isme-isme berbasis nalar dan logika yang kita kenal dalam sejarah, dan juga berusaha meruntuhkan pilar-pilar metodologi mereka; agar menjadi pembelajaran bagi kita kaum Muslimin, bahkan semua itu hanya syubhat-stubhat yang tidak boleh ada dalam diri kita.
Ini dari satu sisi, dan dari sisi yang lain, penulis membentangkan jalan yang dapat dapat mengantarkan kepada keselamatan, yaitu manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Ini penting bagi kita, karena salah satu bentuk pengaruh buruk dari berbagai isme berbasis nalar ini, munculnya sejumlah pemikir muslim yang gigih menolak pandang dan metodologi orientalis dan westernis atau barat secara umum, bahkan memiliki penguasaan medan imiah yang luas, akan tetapi ketika memberikan solusi, masih terjebak dalam metodologi logika itu sendiri, sehingga mengagungkan orang-orang “yang mereka kelaim sebagai filosof muslim”, misalnya.
Racun pemikiran yang telah terbentuk di tengah masyarakat benar-benar telah merajalela, hingga diajarkan secara besar-besaran di berbagai lembaga dan jenjang pendidikan, sehingga banyak kaum Muslimin yang kesulitan mencari pendidikan Islam yang murni bermanhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Karena itu semua, kita membutuhkan peta dan petunjuk jalan secara faktual untuk membendung semua ekes negatif dari menuhankan akal itu. Dan salah satu yang insya` Allah dapat memenuhi kebutuhan dasar itu adalah buku kita ini. Ini adalah buku yang mengulas berbagai teori dan fakta praktis di tengah medan ilmiah yang luas, dan juga membentengkan jalan bagi kita agar kita kembali kepada Manhaj yang shahih, yaitu Manhaj Ahlus Sunnah, manhaj Nabi saw bahkan manhaj para nabi amus, dan sekaligus memiliki benteng yang kokoh dalam diri kita sehingga tidak terinvasi dan terinfeksi oleh syubhat-syubhat mereka.

PENUTUP

Intinya, buku ini berusaha menjawab berbagai syubhat yang diusung oleh para pengusung hawa nafsu dari orang-orang yang sok moderen yang telah merasa sempit oleh keterbelakangan yang mereka lihat pada diri kaum Muslimin, sehingga mereka menuduh Islam sebagai biang keladi di balik itu semua. Padahal sebenarnya, dada merekalah yang sempit sehingga tidak menerima al-Qur`an dan as-Sunnah secara penuh.
Mereka sebenarnya adalah orang-orang yang terpana dan terpedaya dengan kemajuan materialistis di barat, yang seakan-akan membisikkan dalam keperibadian mereka bahwa semua itu mereka raih, karena mereka telah merubah agama mereka sehingga sejalan dengan hawa nafsu manusia.
Karena itu, mereka tidak lain adalah para penyeru ke pintu neraka Jahannam yang telah dingatkan oleh Nabi saw, di mana Abdullah bin Mas’ud berkata,
“Rasulullah saw pernah membuat satu garis untuk kami pada suatu hari, kemudian bersabda, ‘Ini adalah jalan Allah’. Kemudian beliau membuat garis-garis ke sebelah kanan dan kiri garis tersebut lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan (yang menyimpang) di mana di setiap jalan darinya ada setan yang menyeru kepadanya’.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, an-Nasa`I dan lainnya).
Dan saya sampaikan sebagai nasehat, bahwa inilah salah satu fitnah dunia yang tidak disadari oleh banyak orang. Karena itu, Nabi saw pernah mengingatkan,
“Terimalah berita gembira (saat datangnya harta benda dunia) dan berangan-anganlah apa yang membuat kalian senang! Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku khawatirkan terhadap kalian, akan tetapi aku justru mengkhawatirkan kalau dunia dilapangkan bagi kalian sebagaimana telah dilapangkan bagi orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba memperebutkannya sebagai mereka dahulu telah memperebutkannya, sehingga kalian akan binasa sebagaimana mereka telah binasa.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari).

Maka pencapaian dunia dan material, bukanlah tanda kemajuan, tetapi justru itu yang mereka jadikan barometer untuk menghukumi ajaran ini tidak cocok untuk zaman ini sehingga perlu dimoderenisasi. La Haula wa Quwwata Illa Billah.
Dan di akhir resensi kami ingin mengingatkan kita semua, bahwa fublikasi dan propaganda yang mengusung syubhat-syubhat itu, baik sekala perorangan atau komunitas, atau media apa saja, sangatlah berbahaya, karena dapat merusak yang sudah benar dan menghalangi dahwah yang hak. Dan melalui ini, kami juga ingin mengingatkan semua mereka yang telah merusak agama begitu banyak kaum Muslimin, secara khusus, dan kita semua secara umum, agar takut kepada Allah. Ingatlah bahwa Nabi saw telah bersabda,

“Barangsiapa yang menyeru kepada suatu kesesatan, maka dia akan menanggung dosanya dan dosa-dosa siapa saja yang mengikutinya, dan itu tidak menurangi sedikitpun dari dosa-dosa mereka.” (Diriwayatkan oleh Muslim)

Ingat pula bahwa Allah telah memperingatkan bahwa amal buruk sekecil apapun pasti akan kita lihat balasannya.
Dan di akhir semua ini, perhatikanlah ketika Allah berfirman,

“Dan janganlah engkau mengikuti apa yang engkau tidak memiliki ilmu tentangnya, karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semua itu akan dimintai pertanggungan tentangnya.” (Al-Isra`: 36).

Karena itu, buku ini patut Anda kaji, sebagai benteng dari berbagai virus kejahiliyahan berbasis logika sok intelek yang mengepung kita dari segenap penjuru dan di setiap ruang dan waktu. Hal itu karena kita tidak hanya berkewajiban menyelamatan diri kita tetapi juga keluarga dan masyarakat kita; dan itu semua adalah ladang untuk beramal, demi meraih ridha Allah Ta’ala di dunia dan akhirat.
Semoga Allah mendatangkan kebaikan dan manfaat dengannya.

Tinggalkan Balasan

Register