Pokok-pokok Ajaran Islam

PENTINGNYA TEMA BUKU

Menjadi seorang Muslim dan Mukmin yang baik tentu merupakan dambaan setiap kaum muslimin. Tapi dari mana harus memulai?

Setiap Muslim mudah-mudahan tetap menyadari bahwa penyakit yang merusak Iman dan Islam itu banyak, tetapi pada dasarnya hanya dua bagian besar, yaitu: penyakit syubhat  dan syahwat.  Penyakit syubhat itu berkisar antara syirik dan bid’ah, dan penyebabnya yang paling besar adalah kejahilan akan Syariat. Maka cara menghilangkan penyakit syubhat ini adalah terus belajar dan mengkaji Syariat, dan sumber syari’at pada dasarnya ada dua; al-Qur`an dan as-Sunnah. Syubhat itu adalah kegelapan, dan hanya cahaya ilmu Syariat yang bersumber dari al-Qur`an dan as-Sunnah yang dapat menyibaknya pada diri seseorang. Sedangkan mengikis penyakit syahwat adalah dengan mendidik diri melaksanakan segala perintah dan mengekang diri dari segala larangan, yang disebut oleh para ulama dengan mujahadah.

Dari sini, maka menjadi jelas betapa pentingnya buku ini; karena membahas rukun-rukun Iman yang enam dan rukun-rukun Islam yang lima, yang dengan mengkajinya, seorang Muslim diharapkan telah menempuh jalan awal yang benar untuk menjadi Muslim dan Mukmin yang baik dengan izin Allah. Maka memulainya adalah  dengan mengkaji rukun-rukun Iman dan rukun-rukun Islam dengan baik, dan buku ini menyodorkan diri sebagai langkah awal ke arah itu.

ISI BUKU SECARA UMUM

Secara garis besar, bahasan buku ini terdiri dari tiga bab: pertama, bab Pembahasan rukun iman, kedua, bab pembahasan rukun Islam, dan ketiga, bab Membina keluarga dan masyarakat dalam Islam. Dari tiga bab ini, dapat ditarik isyarat kesimpulan awal bahwa penulis berusaha merakit Iman dalam jiwa dan mencoba menjembataninya menjadi amaliah Islam lahiriyah, sehingga paduan itu menjadi konsep panduan riil membangun keluarga dan masyarakat.

Sebagai usaha menggambarkan karakter isi buku ini, dalam resensi ini kami ingin mengangkat satu bagian pokok darinya, secara ringkas; dengan harapan mudah-mudahan cukup jelas mensimulasikan pentingnya tema buku ini dan cukup bisa menggambarkan kedalaman isi dan kandungannya.

Bab Pertama: Beriman kepada Allah

Tauhid Rububiyah adalah mengetahui dan meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta, Pemberi Rizki dan Pengatur alam semesta ini dan segala isinya. Maka hanya Allah Pemilik alam ini, maka hanya Allah yang menyandang predikat sebagai Rabb semesta; tidak ada rabb selain Allah.

Nah, keesaan Allah dalam menyandang predikat sebagai Rabb semesta raya ini, didukung oleh banyak dalil dan argumen.

Pertama: Dalil fitrah (naluri dasar).

Pengakuan akan rububiyah Allah adalah fitrah atau naluri dasar pada diri setiap manusia. yaitu bahwa orang yang paling jauh dari agama sekalipun, mengakui bahwa dirinya memiliki Pencipta dan ada kekuatan luar biasa di luar dirinya yang mengendalikan dirinya. Dan fitrah manusia bahwa Allah adalah Rabbnya, merupakan hakikat yang diakui oleh para ulama tafsir, dan inilah yang merupakan perjanjian antara Allah dengan semua hambaNya, semasih mereka di alam dzarrah. Allah Ta’ala menyebutkan,

“Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), ‘Bukankah Aku ini Rabb kalian?’ Mereka menjawab, ‘Tentu (Engkau adalah Rabb kami), kami menjadi saksi’. (Kami ikrarkan demikian) agar di Hari Kiamat nanti Engkau tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya kami (anak cucu Nabi Adam) adalah orang-orang yang lalai terhadap ini (keesaan Rabb kami), atau agar Engkau tidak mengatakan, ‘Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?’.” (Al-A’raf: 172-173).

Yang menjadi masalah sehingga manusia lalai dari pengakuan fitrah dan naluri dasar dirinya ini adalah kemakmuran hidup yang bergelimang kenikmatan. Kenyataan ini disinyalir Allah dalam sejumlah ayat. Di antaranya Allah Ta’ala berfirman,

“Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan memurnikan ketaatan kepadaNya maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai di daratan, lalu sebagian mereka tetap menempuh jalan yang lurus. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami selain orang-orang yang tidak setia lagi ingkar.” (Luqman: 32).

Dapatkan penjelasan detil dalam buku ini, mengenai fitrah manusia dan apa saja yang bisa menutupinya sehingga menjatuhkan pemiliknya ke dalam kekufuran.

Kedua: Dalil-dalil yang ada pada makhluk CiptaanNya. Dan ini juga diulas  secara mendalam di dalam buku ini, yang tidak bisa kami sajikan secara utuh di sini.

Ketiga: Dalil-Dalil Akal

Paling tidak ada tiga argumen nalar yang tidak mungkin ditolak oleh siapapun, yang menunjukkan bahwa Allah adalah Rabb semesta ini.

(1). Setiap ciptaan pasti ada yang menciptakannya, dan sesuatu yang tidak ada, tidak mungkin menciptakan sesuatu. Ini adalah logika yang pasti dan diakui oleh Syari’at. Allah Ta’ala berfirman,

“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan).” (Thur: 35-36).

(2). Tingkatan ketinggian nilai ciptaan merupakan bukti kemampuan penciptanya. Maka semesta raya yang begitu mengagumkan ini menunjukkan bahwa Penciptanya adalah Rabb Yang Maha Kuasa dan tak terjangkau oleh daya alar manusia, bahkan sekalipun untuk memujiNya sebagaimana adanya. Allah menyebutkan hal ini di antaranya dalam FirmanNya,

“Allah-lah Yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit sebagaimana yang dikehendakiNya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambaNya yang dikehendakiNya tiba-tiba mereka menjadi gembira. Dan sesungguhnya sebelum hujan diturunkan kepada mereka, mereka benar-benar telah berputus asa. Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi yang sudah mati. Sesungguhnya (Rabb yang berkuasa seperti) demikian benar-benar (berkuasa) menghidupkan orang-orang yang telah mati. Dan Dia (memang) Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Ar-Rum: 48-50).

(3). Suatu perbuatan tidak mungkin dinisbatkan kepada sesuatu yang tidak mampu melakukan perbuatan.

Ini juga merupakan logika dan nalar yang pasti yang juga diakui oleh Syari’at. Maka sangat sulit diterima akal sehat bila dikatakan bahwa seorang yang dungu dan kerdil  adalah seorang yang ahli membedah otak manusia misalnya, apalagi semesta ini dengan segala keterpaduannya, tidak mungkin dinisbatkan penciptaannya kepada mahluk yang lebih lemah darinya; tentu ini menunjukkan bahwa Yang menciptakannya pastilah Tuhan Yang Maha Kuasa. Perhatikanlah Firman Allah berikut ini,

“Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka; ’Siapakah yang menciptakan langit dan bumi? ‘niscaya mereka akan menjawab; ‘Semuanya diciptakan oleh Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (Az-Zukhruf: 9).

Kemudian perhatikan Firman Allah Ta’ala berikut,

“Katakanlah! ‘Terangkanlah kepadaKu tentang sekutu-sekutumu yang kamu seru selain Allah. Perlihatkanlah kepadaKu (bahgian) manakah dari bumi yang telah mereka ciptakan ataukah mereka mempunyai saham dalam (penciptaan) langit atau adakah Kami memberi kepada mereka sebuah Kitab sehingga mereka mendapat keterangan-keterangan yang jelas darinya? ‘Sebenarnya orang-orang yang zhalim itu sebagian dari mereka tidak menjanjikan kepada sebagian yang lain, melainkan tipuan belaka.” (Fathir: 40).

Berdasarkan uraian di atas, maka menjadi jelasalah bahwa hanya Allah Yang Menciptakan semesta ini, hanya Allah Yang memberikannya rizki dan hanya Allah Yang mengaturnya. Dan kehebatan, keterpaduan serta keindahan  semesta ini menunjukkan kemahakuasaan Rabb Yang telah menciptakannya. Dan karena itu, maka hanya Allah lah Yang berhak disembah. Inilah kewajiban paling mendasar bagi setiap mukallaf dari kaum Muslimin.

Tauhid Uluhiyah.

Masalah tauhid uluhiyah dibahas secara luas dalam buku ini, sehingga dapat menyadarkan setiap pembaca bahwa memang tidaklah pantas ada sesuatu selain Allah yang berhak dipertuhankan.

Mentauhidkan Allah dengan beribadah hanya kepadaNya mencakup semua jenis peribadatan. Di antaranya:

Ketaatan dan ketundukan. Maka tidak ada yang berhak untuk kita taati dan kita tunduk kepadanya secara total dan mutlak kecuali kepada Allah Ta’ala. Allah telah mengingatkan hal ini; di mana Allah Ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya Rabb kalian ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakanNya pula) matahari, bulan, dan bintang-bintang; (masing-masing) tunduk kepada perintahNya. Ingatlah, menciptakan dan (menetapkan) agama itu hanyalah hak Allah. Mahasuci Allah, Rabb semesta alam.” (Al-A’raf: 54).

Dan di antara  bentuk mentauhidkan Allah dalam ketaatan dan ketundukan adalah menetapkan bahwa sumber agama, baik perintah maupun larangan itu adalah satu, yaitu Allah, sedangkan Nabi a hanya sebagai penyampai. Ini artinya bahwa al-Qur`an dan as-Sunnah itu sama-sama berasal dari Allah sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih, dan juga menunjukkan bahwa al-Qur`an dan as-Sunnah itu adalah suatu yang satu.

Dan juga di antara bentuk lainnya, adalah mengembalikan segala perbedaan pendapat dan perselisihan kepada al-Qur`an dan as-Sunnah dan menjadikannya sebagai hakim, dan tidak boleh merasa keberatan menerima keputusan hukumnya. Allah Ta’ala berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagi) dan lebih baik akibatnya.” (An-Nisa`: 59).

Kemudian perhatikan Firman Allah Ta’ala lainnya,

“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisa`: 65).

Dan termasuk juga bentuk ketaatan dan ketundukan adalah menerima secara mutlak Sunnah Nabi a. Perhatikan ayat-ayat berikut:

Allah Ta’ala berfirman,

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah Dia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (Al-Hasyr: 7).

Allah Ta’ala juga berfirman,

“Taatilah Allah dan RasulNya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (Ali Imran: 32).

Kemudian salah satu bentuk ketundukan kepada Syariat Allah, adalah kita wajib beriman bahwa teladan yang baik bagi umat ini, dalam beragama dan beribadah, hanyalah Rasulullah a. Beliaulah yang  wajib kita teladani secara mutlak. Dan bila ada suatu Sunnah yang diriwayatkan secara shahih, maka tidak halal bagi seseorangpun untuk meninggalkan dan mengabaikannya hanya karena mengikuti seorang syaikh atau seorang kiyai.

Perhatikan Firman Allah Ta’ala,

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat dan dia banyak berdzikir (mengingat dan menyebut) Allah.” (Al-Ahzab: 21).

Lalu perhatikan Firman Allah Ta’ala,

“Katakanlah, ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu’.” (Ali Imran: 31).

Salah satu konsekwensi kesatuan sumber pengambilan Syariat, adalah, bahwa tak seorang pun yang boleh keluar dari Syariat Islam; dan bahwasanya barangsiapa yang berhukum dan tunduk kepada hukum selain apa yang diturunkan Allah, maka ia telah terjatuh ke dalam kemunafikan.

Perhatikanlah Firman Allah Ta’ala,

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.” (An-Nisa`: 60).

Nah, sampai di sini menjadi tampak jelas bahwa buku ini mencoba mengurai berbagai masalah akidah dan keyakinan yang wajib ada dalam hati setiap Muslim, lalu mengaitkannya dengan berbagai segi sehingga menjadi padu dengan bentuk sikap lahiriah yang wajib, sehingga tidak hanya berupa i’tikad dan keyakinan yang abstrak, tapi riil terbukti dengan tindakan, sikap dan amaliah badaniah.

Dengan ringkasan satu bagian di atas, mudah-mudahan resensi ini mampu menyuguhkan gambaran umum tentang isi buku dan mampu menyentuh hati pendengar akan pentingnya muatan buku ini. Hal itu karena bagian-bagian lain, seperti beriman kepada malaikat, kitab-kitab, Rasul-rasul dan seterusnya, mengandung isi pembahasan yang penting dan urgen. Begitu juga rukun-rukun Islam yang lima.

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Dapat disimpulkan sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh al-Allamah Shalih bin Fauzan al-Fauzan dalam rekomendasi beliau yang termuat di awal buku ini, “Saya telah memeriksa buku ini dan saya mendapatkan buku ini baik sekali dalam temanya. Ia merupakan buku yang dibutuhkan oleh setiap Muslim.”

Buku ini termasuk di antara buku yang paling jelas menguraikan rukun-rukun Iman dan rukun-rukun Islam dari berbagai segi dan kaitannya, lalu mengaplikasikan menjadi sikap dan amal, sehingga menjadi jelas untuk dijadikan konsep dasar membina keluarga dan masyarakat. Semoga Allah senantiasa menambahkan hidayahNya untuk kita semua. Amin.

 

Judul Asli:

Ma Laa Yasa`ul-Muslima Jahluhu

Judul Terjemah:

POKOK-POKOK AJARAN ISLAM YANG WAJIB DIKETAHUI SETIAP MUSLIM

Panduan Praktis Rukun Iman, Rukun Islam, dan Membangun Keluarga dalam Islam berdasarkan al-Qur`an dan as-Sunnah

 

Penulis:  Dr. Abdullah bin Mushlih, dan lain-lain

Diberi pengantar & direkomendasikan oleh:

Syaikh al-Allamah Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan

Muraja’ah Terjemah: Editor Ilmiah DARUL HAQ

Penerbit: DARUL HAQ – Jakarta

Tebal Buku: 526 halaman

Ukuran buku: 16×24,5 cm

Harga: Rp. 95.000,-

 

Informasi:

Telp. 021 84999585

Sms: 0821 1183 6767

www.darulhaq.com

Register