Fathul Majid

FATHUL MAJID

RESENSI BUKU

  • Judul Buku : FATHUL MAJID  Penjelasan Lengkap Kitab Tauhid
  • Judul Asli : Fathul Majid Syarh Kitab at-Tauhid
  • Penerbit : Darul Haq, Jakarta
  • Penulis : Al-Allamah Abdurrahman bin Hasan Alu Asy Syaikh
  • Tebal : 1356  Halaman
  • Ukuran : 16×24,5 cm

Tauhid  adalah inti ajaran dan pokok risalah yang dibawa oleh semua Rasul yang diutus Allah. Lurus dan tidaknya kehidupan seorang muslim, mutlak ditentukan oleh tauhidnya, karena tauhid  landasan  setiap amal dan perbuatan. Sebesar apa penyimpangan dalam tauhid seseorang, sebesar itu pula penyimpangan dalam ubudiyahnya. Hanya amal  yang dilandasi  dengan tauhid sesuai tuntunan Nabi,  yang akan diterima Allah,  dan yang  akan menghantarkan manusia kepada kehidupan yang lebih baik dan kebahagiaan yang hakiki  di  akhirat kelak.  Yang paling penting,  “Apa sebenarnya hakikat dari bertauhid?” Inilah inti dari apa-apa yang dimuat dalam buku Fathul Majid ini.

Buku  ini ditulis oleh  Imam Muhammad  bin Abdul Wahab bin  Sulaiman bin Ali At Tamimi An Najdi. Beliau dilahirkan tahun 1115 H. Beliau adalah seorang ulama yang gigih dalam mendakwahkan tauhid. Dan dakwah beliau benar-benar  telah menggetarkan singgasana para pengikut bid’ah dan hawa nafsu dalam beragama. Beliau telah mendapatkan berbagai permusuhan dan kebencian dari banyak pihak, tapi akhirnya Allah q memenangkan beliau, dan berhasil  merintis   kerajaan Saudi  Arabia  bersama dengan Amir  Muhammad  bin  Su’ud menjadi negeri bertauhid yang bersih dari berbagai kesyirikan dan  khurofat.

Perjalanan dakwah sang pembaharu, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, yang menulis matan kitab Fathul Majid ini, penting untuk dicermati, karena beliau muncul dan berdakwah di tengah masyarakat yang sangat akrab dengan pengagungan terhadap kuburan, bid’ah, dan khurafat. Kondisi masyarakat yang beliau hadapi mirip dengan kondisi masyarakat di sebagian wilayah tanah air kita. Sebagai contoh, tidak asing lagi kita  melihat dan mendengar sekelompok orang yang mendatangi kuburan orang-orang yang dianggap wali atau yang dikeramatkan dengan tujuan mengharapakan berkah, ada juga sekelompok masyarakat menyembelih hewan kemudian kepalanya ditanam di tempat tertentu, dengan harapan agar kondisi aman, dan diberikan kelancaran rizki, dan ada juga kelompok masyarakat lain yang biasa melakukan ritual menghanyutkan sesaji di laut sebagai rasa syukur atas hasil panen yang didapat. Dan masih banyak contoh-contoh lainnya.

Karena itu, buku Fathul Majid  ini menjadi sangat penting, karena ditulis oleh seorang ulama yang menghadapi langsung segala rintangan dan penolakan dari banyak kalangan, sehingga buku ini benar-benar rujukan primer dan utama dalam masalah tauhid yang ditulis berdasarkan al-Qur`an dan as-Sunnah yang didorong oleh kondisi riil yang dihadapi penulisnya. Yang mana tauhid yang beliau dakwahkan tersebut, hakikatnya adalah tauhid yang didakwahkan oleh para Nabi, dan hal itulah yang beliau tuangkan dalam Kitab at-Tauhid ini. Oleh sebab itu buku ini  sangat cocok bagi  setiap muslim yang ingin mempelajari dan   membangun tauhid pada dirinya di atas al-Bashirah, berdasarkan al-Qur`an dan as-Sunnah serta tegak di atas manhaj As-Salaf ash-Shalih.

ISI POKOK BUKU SECARA UMUM

Sebagaimana yang telah disinggung dalam resensi sebelumnya, bahwa penegakan tauhid tidak akan berguna tanpa disertai dengan perang dan penolakan terhadap syirik. Itulah sebabnya para ulama mengatakan bahwa Agama Islam tegak di atas dua pondasi utama: pertama, mentauhid-kan Allah, mendakwahkan tauhid dan loyal kepada para penganutnya, dan kedua, Memerangi Syirik dan memusuhi serta anti terhadap para penganutnya.

Itulah sebabnya kalimat tauhid yang diperintahkan kepada semua Rasul yang pernah diutus Allah, adalah La Ilaha Illallah (tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah). Pernyataan, “Tidak ada tuhan yang berhak disembah” adalah penolakan terhadap penuhanan segala apa saja selain Allah, dan pernyataan “kecuali Allah” adalah ikrar bahwa hanya Allah yang berhak dituhankan dan disembah dengan segala bentuk penyembahan dan penuhanan. Maka, tidak ada gunanya seseorang mengikrarkan bahwa tidak ada tuhan  yang berhak disembah selain Allah kalau masih melakukan praktik-praktik syirik dan membiarkan syirik tanpa mengingkarinya, bahkan loyal kepada para palaku syirik.

Inilah yang diungkapkan oleh al-Qur`an secara tegas dan jelas dalam banyak ayat. Perhatikan Firman Allah Ta’ala dalam Surat an-Nisa`: 36,

{وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهِ شَيْئًا}.

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukanNya dengan sesuatu pun.”

Perintahnya tidak hanya “Sembahlah Allah” tetapi disertai dengan “jangan mempersekutukanNya dengan sesuatupun”. Dan pernyataan seperti ini banyak sekali  terdapat dalam al-Qur`an dan as-Sunnah yang shahih.

Dalam buku Fathul Majid ini kedua sisi tersebut  dibahas secara mendasar dan menyeluruh. Dan mudah-mudahan ulasan berikut ini dapat menjelaskan pentingnya buku ini sehingga Anda terpacu untuk mengkajinya.

Allah Ta’ala berfirman dalam al-Qur`an,

{كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللّٰهُ النَّبِيِّيْنَ مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ وَأَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيْمَا اخْتَلَفُوْا فِيْهِ}.

“Mulanya manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para Nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan itu.”( Surat al Baqarah:213)

Pada mulanya umat manusia itu adalah umat yang satu dalam tauhid, mereka adalah satu umat yang tegak di atas Syari’at Allah dan kebenaran. Begitulah tafsir yang ma`tsur dan shahih dari Ibnu Abbasp. Dan dalam riwayat Shahih disebutkan bahwa itu berlangsung selama sepuluh generasi. Kemudian menjelang diutusnya Nabi Nuh j sebagai Rasul yang pertama, tercatalah ada lima orang shalih yang menjadi panutan umat kala itu, lalu orang-orang shalih tersebut satu persatu wafat, sebagaimana yang disebutkan Allah dalam Surat Nuh. Para pengikut mereka tentu sangat kehilangan dengan wafatnya mereka, karena merekalah yang selama ini menjadi teladan  dalam beribadah kepada Allah. Dalam situasi itulah, muncul setan dan membisikkan agar pengikutnya membuat semacam patung untuk lima orang shalih tersebut, untuk mengingatkan pengikutnya akan jasa orang-orang  shalih tersebut, sehingga pengikutnya tetap bersemangat mengikuti jejak orang-orang shalih itu sekalipun mereka telah wafat.

Patung-patung mereka pun kemudian dibuat dan diletakkan pada majlis-majlis tempat mereka biasa menyampaikan pengajaran. Dan kala itu patung-patung tersebut, belum disembah. Ketika generasi yang membuat patung satu itu demi satu telah meninggal dunia,  lalu datanglah generasi berikutnya yang tidak mengetahui tujuan dibuatnya patung-patung orang-orang shalih tersebut, datanglah setan dan membisikkan kepada mereka bahwa generasi terdahulu menyembah mereka, maka patung-patung itupun mulai disembah. Inilah syirik pertama dalam sejarah yang dilakukan anak cucu Nabi Adam j. Dan pada kaum itulah Nabi Nuh j  diutus Allah a.

Syirik yang dilakukan oleh kaum Nabi Nuh j sama persis dengan syirik yang dilakukan kaum Quraisy di mana Nabi kita, Muhammad a, diutus oleh Allah kepada mereka. Orang-orang musyrik itu, semuanya sama dalam prinsip kesyirikan mereka, yaitu bahwa mereka tidak berkeyakinan ada tuhan-tuhan lain yang menciptakan alam ini dan dapat memberikan mereka apa yang mereka minta. Tetapi mereka menjadikan patung dan berhala tersebut, hanya sebagai semacam arca yang melambangkan sosok di baliknya, yang menjadi perantara antara mereka dengan Allah. Inilah hakikat syirik kaum Nabi Nuh dan ini pula syirik yang dilakukan oleh kaum Jahiliyah Quraisy.

Dan tipu daya dan fitnah paling besar yang diciptakan setan adalah pengagungan terhadap kuburan orang-orang shalih sebagai pengganti pengagungan kepada patung orang shalih. Dan inilah yang sampai sekarang masih mengotori, dunia Islam, termasuk di negeri  kita tercinta ini.

Inilah hakikat perseteruan yang paling pokok antara kebenaran dan kebatilan hingga Hari Kiamat. Dan Allah telah mengingatkan orang-orang yang mendustakan seruan para Rasul Allah dengan FirmanNya,

{وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِيْ كُلِّ أُمَّةٍ رَسُوْلًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوْتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ فَسِيْرُوْا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِيْنَ}.

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu’, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (An-Nahl: 36).

Maka kehadiran buku ini, adalah pencerahan baik  yang mudah-mudahan merupakan titik awal dari penegakan tauhid secara murni di negeri ini.

Hal lain yang disinggung secara jelas di dalam buku ini adalah bagaimana setan berusaha mencuri berita wahyu di langit dengan menguping dari perbincangan di antara para malaikat, lalu satu kebenaran yang mereka dengar itu mereka bisikkan kepada dukun dan ditambahkannya dengan seratus kebohongan. Maka kalau ada dukun yang kadang apa yang dikatakannya terbukti, itu bukan karena dukun itu mengetahui yang ghaib, tetapi karena bekerjasama dengan setan, dan bersama kebenaran yang hanya satu itu ada seratus kebohongan yang dapat menyebabkan orang-orang yang mendatangi mereka terjatuh dalam kemusyrikan dan kekufuran.

Oleh karena itu Nabi a memutuskan semua jalan yang mungkin menghubungkan seorang muslim dengan dukun dengan sabda beliau,

مَنْ أَتَى كَاهِنًا فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم.

“Barangsiapa yang datang kepada seorang dukun, lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka orang tersebut telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.” (Hadits ini dishahihkan oleh al-Albani dan beliau takhrij dalam as-Silsilah ash-Shahihah, no. 3387).

 

Buku Fathul Majid terbitan Darul Haq ini, sangatlah lengkap, mencakup puluhan bab yang membahas masalah tauhid  dan syirik beserta sarana-sarana  yang menghantarkan kepada kedua hal tersebut. Maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa buku ini merupakan buku induk dalam pembahasan Tauhid dan buku primer bagi setiap individu Muslim. Dalam buku ini dimuat:

  1. Matan lengkap “Kitabut Tauhid  Alladzi  Huwa  Haqqullah  ‘Alal  ‘Abid”, karya  Imam  Al-Mujaddid  Muhammad  bin  Abdul  Wahhab,  Syaikh  Islam   di zamannya, dalam teks aslinya yang berbahasa Arab yang  dilengkapi harakat, dan tentu lengkap dengan terjemahnya, sehingga memudahkan bagi para pencinta ilmu untuk mengkajinya.
  2. Fathul Majid Syarh Kitab Tauhid, karya Asy Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh.
  3. Diberikan ta’liq  dan   hasyiyah  (Komentar  &  Tambahan  penjelasan)  oleh   syaikh Muhammad Hamid  Al-Faqi,  dimana  sebagian besar dari  ta’liq  beliau  tersebut beliau ambil dari Qurratul ‘Uyunil Muwahhidin, karya penulis Fathul Majid sediri.
  4. Ta’liq ini  kemudian  di  Muroja’ah  (dikaji ulang)  oleh   Imam   Al-Allamah   Ibnu  Baaz- rahimahullah-,  dan   beliau  memberikan  koreksi  dan   komentar yang  sangat  penting terhadap sejumlah masalah.
  5. Hadits-hadits dalam kitab  tauhid,  ditakhrij dengan berpegang kepada berbagai referensi takhrij.
  6. Buku ini dilengkapi  dengan risalah Takhrij  Ahadits Muntaqodah fii  Kitaabit  Tauhid  karya syaikh Furaih  bin  Shalih  Al Bahlal  yang  merupakan takhrij  pembelaan atas  sejumlah hadits-hadits dalam kitab tauhid yang dipermasalahkan oleh  sebagian kalangan.
  7. Buku ini juga dilengkapi dengan  daftar istilah ilmiah lengkap dengan makna dan  Sehingga bagi   pembaca  yang   masih  kesulitan dalam  memahami  istilah-istilah  yang digunakan dalam buku ini, pembaca bisa merujuk  makna dan definisinya pada daftar istilah ilmiah ini.
  8. Dilengkapi pula dengan Biografi Imam   Muhammad  bin  Abdul  Wahhab,  penulis  buku   Kitabut

Akhirnya,   semoga Allah  menjadikanya  bermanfaat  bagi   semua pihak,  penyusunnya, penerjemahnya,  penerbitnya,  penyebarnya,  pembacanya  dan   semua  pihak yang   telah  turut andil bagian dalam usaha penyebaran buku ini.

Informasi:

Telp. 021 84999585

www.darulhaq.com

 

Register