Sejarah Pembukuan Hadist Hadist Nabi Shalllahu alaihi wassalam

DATA BUKU

Judul Asli: Tadwin as-Sunnah an-Nabawiyah Nasy`atuhu wa Tathawwuruhu
Judul Terjemah: Ensiklopedia Kitab-kitab Rujukan Hadits, lengkap dengan biografi ulama hadits dan sejarah pembukuannya
Penulis: Dr. Muhammad bin Mathar azh-Zhahrani
Muraja’ah : Tim Editor Ilmiah DARUL HAQ
Jumlah halaman: 264 + viii hal
Ukuran: 15,5 x 24 cm
Harga buku: Rp. 50.000

URGENSI TEMA BUKU

As-Sunnah yang dimaksud dalam buku kita kali ini adalah as-Sunnah pada umumnya sebagaimana yang didefinisikan oleh Ahlul Hadits dan bukan sunnah sebagaimana yang didefinisikan oleh ulama fikih yaitu yang bukan wajib. As-Sunnah adalah segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Shollallohu alaihi wasallam, baik berupa ucapan (sabda), sikap, perbuatan, tindakan, keputusan, restu beliau terhadap tindakan dan perbuatan para sahabat, serta sifat-sifat fisik dan akhlak beliau. Karena itu as-Sunnah itu adalah Islam itu sendiri.

Maka sunnah-sunnah Nabi Shollallohu alaihi wasallam ada yang wajib, ada yang mustahab (sunnah), bahkan ada yang haram diikuti, seperti berpoligami lebih dari empat orang istri.

Kita kaum Muslimin umumnya dan Ahlus Sunnah khususnya tentu berbangga melihat akhir-akhir ini semangat kaum muslimin yang ingin kembali kepada as-Sunnah semakin semarak dan meluas. Dan demi ikut memenuhi kebutuhan kaum muslimin tanah air dalam rangka ikut mengantarkan kaum Anda kembali kepada Islam sebagaimana yang digariskan Rasulullah Shollallohu alaihi wasallam, kami menerbitkan buku ini yang fokus membahas pembukuan as-Sunnah atau hadits sejak Nabi Shollallohu alaihi wasallam masih hidup hingga masa yang jauh.

Karena itu buku ini menjadi suatu yang sangat penting agar kita lebih dekat dan lebih mengenal sunnah-sunnah nabi kita Muhammad Shollallohu alaihi wasallam.

ISI BUKU SECARA UMUM

Bab (1) mengetengahkan judul: Kedudukan as-Sunnah dalam Islam dan Perhatian Ulama Salaf Terhadapnya.

Pada pasal pertama dari bab (1), buku kita ini meletakkan satu sub penting yang dipegang oleh Ahlus Sunnah umumnya dan Ulama hadits khususnya dengan judul: Al-Qur`an dan as-Sunnah Memiliki Kedudukan Sama Sebagai Dasar Syariat.Ini tentu terlepas dari keutamaan al-Qur`an yang lebih tinggi dari pada as-Sunnah; karena al-Qur`an berasal dari Allah secara lafzhi dan maknawi. Tetapi sekalipun demikian, as-Sunnah juga wahyu sebagaimana al-Qur`an, sehingga as-Sunnah sama dengan al-Qur`an sebagai dasar Syariat. Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda,

أَلاَ إِنِّيْ أُوتِيْتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ. أَلاَ يُوْشِكُ رَجُلٌ شَبْعَانُ عَلَى أَرِيكَتِهِ يَقُولُ: عَلَيْكُمْ بِهَذَا الْقُرْآنِ؛ فَمَا وَجَدْتُمْ فِيْهِ مِنْ حَلاَلٍ فَأَحِلُّوْهُ، وَمَا وَجَدْتُمْ فِيْهِ مِنْ حَرَامٍ فَحَرِّمُوْهُ. أَلا وَإِنَّ مَا حَرَّمَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَمَا حَرَّمَ اللّهُ.

“Ketahuilah, sesungguhnya aku didatangkan (diturunkan) al-Qur`an dan yang semisal dengannya bersamanya. Ketahuilah, hampir-hampir (saja tiba zamannya) seseorang yang kenyang (karena bergelimang harta benda) sambil bertelekan di dipannya berkata, ‘Berpeganglah kalian kepada al-Qur`an ini; apa yang kalian dapatkan di dalamnya dari yang halal, maka halalkanlah ia, dan apa yang kalian dapatkan dari yang haram, maka haramkanlah ia.’ Ketahuilah, sesungguhnya apa yang diharamkan Rasulullah Shollallohu alaihi wasallam adalah sama sebagaimana apa yang diharamkan oleh Allah.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, no. 4604, dan dishahihkan oleh al-Albani).

Penulis mengukuhkan masalah ini dengan dalil-dalil yang banyak dari al-Qur`an dan as-Sunnah, sehingga menjadi jelas dan qath’i, serta tak terbantahkan. Dalil-dalil tersebut kemudian diperkuat lagi oleh banyak perkataan as-Salaf ash-Shalih yang menunjukkan bahwa mereka telah sepakat bahwa as-Sunnah adalah sama kedudukannya dalam hal sebagai dasar Syariat Islam. Ayyub as-Sikhtiyani berkata, “Apabila Anda menyebutkan suatu hadits Nabi Shollallohu alaihi wasallam kepada seseorang, lalu orang itu berkata, ‘Jauhkanlah kami dari hadits itu dan sampaikan saja al-Qur`an kepada kami’, maka ketahuilah bahwa orang tersebut adalah orang yang sesat dan menyesatkan.” (Disebutkan dalam Ma’rifat Ulum al-Hadits, milik Imam al-Hakim, hal. 65).

Imam al-Auza’i, Imam Makhul dan Imam Yahya bin Abi Katsir sepakat mengatakan, “Al-Qur`an lebih membutuhkan as-Sunnah daripada as-Sunnah kepada al-Qur`an; karena as-Sunnah adalah penjelas bagi al-Qur`an sedangkan al-Qur`an bukan penjelas bagi as-Sunnah.” (Diriwayatkan oleh ad-Darimi, no. 593).

Pada pasal kedua, buku kita ini mengulas bagaimana hebat dan seriusnya perhatian ulama Salaf terhadap as-Sunnah.

Pertama: Di zaman para sahabat

Para sahabat menimba ilmu langsung dari Nabi Shollallohu alaihi wasallam.
– Di antara para sahabat ada yang senantiasa menyertai Nabi Shollallohu alaihi wasallam dalam majlis dan momen-momen penting, sehingga langsung mendengar sabda dan melihat sikap, tindakan dan keputusan-keputusan beliau Shollallohu alaihi wasallam. Termasuk dalam kelompok ini adalah Khulafa` ar-Rasyidin yang empat dan sejumlah sahabat besar.
– Di antara mereka adalah para istri Nabi Shollallohu alaihi wasallam yang memiliki cukup banyak waktu di mana hanya mereka yang melihat segala gerak gerik dan diamnya Nabi Shollallohu alaihi wasallam di dalam rumah dan di tengah keluarga. Mereka inilah yang banyak meriwayatkan sunnah-sunnah Nabi Shollallohu alaihi wasallam dalam kaitan hubungan antara suami istri dan interaksi keluarga umumnya.
– Di antara para sahabat ada banyak orang yang tinggal di masjid, seperti Abu Hurairah Rodhiyallohu anhu, sehingga semua sabda, sikap, tindakan, dan keputusan-keputusan Nabi Shollallohu alaihi wasallam terekam jelas oleh mereka; karena hampir dapat dipastikan bahwa kebanyakan waktu hidup Nabi Shollallohu alaihi wasallam dihabiskan di masjid, untuk ibadah, menangani urusan kaum muslimin dan keluarga besar beliau; karena rumah beliau yang berdampingan dengan masjid.
– Banyak juga para sahabat yang diutus Nabi Shollallohu alaihi wasallam ke berbagai kabilah dan pelosok untuk mengajarkan Islam.
– Kabilah-kabilah juga mengirim utusan untuk mengambil ilmu dan Syariat dari Nabi Shollallohu alaihi wasallam.
– Begitu juga perorangan yang sengaja datang kepada Nabi Shollallohu alaihi wasallam untuk menerima ajaran Islam secara langsung.
– Yang tidak kalah penting, banyak para sahabat yang bertanya kepada sahabat-sahabat lain yang langsung menghadiri berbagai peristiwa yang dihadiri Nabi Shollallohu alaihi wasallam, untuk mengambil sabda, tindakan, dan contoh yang diajarkan Nabi Shollallohu alaihi wasallam.

Para sahabat ini kelak, setelah Nabi Shollallohu alaihi wasallam wafat, bertebaran di berbagai negeri, seiring dengan penaklukan berbagai wilayah, sehingga menjadi guru-guru utama bagi para tabi’in yang mengikuti dan mengambil ilmu dari mereka.

Sejarah, kisah, dan berbagai hal yang berkaitan dengan perhatian besar para sahabat terhadap pencatatan, penyebaran, dan pengajaran sunnah Nabi Shollallohu alaihi wasallam, dapat Anda kaji di sini.

Kedua: Di Zaman Tabi’in

Setelah para sahabat satu demi satu wafat, fitnah semakin dahsyat menghantam kaum muslimin. Kaum Yahudi, Nasrani, Shabi’un, Majusi, dan para pengikut hawa nafsu umumnya, bahkan orang-orang munafik, seakan bersatu padu menerjang kaum muslimin. Mereka-mereka inilah yang kelak menjadi bumerang dan penyakit dalam riwayat-riwayat sunnah Nabi Shollallohu alaihi wasallam secara umum. Dan di antara yang paling berbahaya adalah munculnya para pendusta dan orang-orang munafik yang memalsukan riwayat-riwayat dari para sahabat. Inilah awal mula munculnya perhatian as-Salaf ash-Shalih dan para ulama generasi awal terhadap isnad riwayat. Semua usaha dan kisah perjuangan penyelamatan bagi hadits-hadits Nabi Shollallohu alaihi wasallam dapat Anda nikmati di sini.

Imam Muhammad bin Sirin Rohimahulloh, salah seorang tabi’in besar, misalnya berkata,“Mereka dulu tidak pernah menanyakan tentang sanad, kemudian ketika fitnah telah terjadi, mereka berkata, ‘Sebutkan orang-orang yang menyampaikan itu kepada kalian.’ Lalu diperhatikan; apabila (mereka mengisyaratkan) kepada Ahlus Sunnah, maka hadits mereka diambil, dan bila dilihat (mengisyaratkan) kepada Ahli bid’ah, maka hadits mereka tidak diambil.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam muqaddimah Shahih beliau).

Dan inilah sebabnya, Imam Abdullah bin Mubarak berkata, “Sanad itu adalah bagian dari Agama; kalau bukan karena sanad, maka sungguh setiap orang akan mengatakan apa yang dia mau (bahwa itu adalah agama).”

Usaha as-Salaf ash-shalih dalam menjaga kemurnian as-Sunnah mencapai titik awal yang menentukan di zaman pemerintahan Khalifah yang agung, Umar bin Abdul Aziz Rohimahulloh, sehingga boleh kita katakan bahwa jasa besar dibukukannya hadits-hadits Nabi Shollallohu alaihi wasallam sebagaimana yang kita kenal sekarang adalah berkat jasa awal khalifah yang hebat ini.

Dalam buku ini begitu jelas diulas dan dijabarkan bagaimana perjuangan para ulama umumnya, dalam usaha menjaga kemurnian sunnah-sunnah Nabi Shollallohu alaihi wasallam, dari satu fase ke fase berikutnya.

Pasal ketiga dari bab (1) ini adalah pasal yang paling krusial dan menentukan, karena di sini penulis mengulas bagaimana para pengikut hawa nafsu, pengekor bid’ah, dan golongan-golongan sesat menggerogoti sunnah-sunnah Nabi Shollallohu alaihi wasallam. Sebegitu banyak jenis dan ragam kelompok-kelompok ini tetapi secara garis besar penulis jabarkan dalam dua bagian:
– Pertama, golongan yang menolak as-Sunnah secara mutlak.
– Kedua, kelompok-kelompok yang menolak hadits ahad.

Bab (2): Pembukuan As-Sunnah Pada Abad Pertama Dan Kedua Hijriyah

Bab ini berhasil membuktikan bahwa penulisan hadits-hadits Nabi Shollallohu alaihi wasallam telah dimulai sejak Nabi Shollallohu alaihi wasallam masih hidup. Dan inilah yang membuktikan bahwa hadits-hadits Nabi Shollallohu alaihi wasallam juga terjaga keotentikannya sejak generasi awal umat ini. Semua ulama yang menjadi pilar dalam pembukuan as-Sunnah dalam fase ini dapat Anda kaji di sini.
Bab (3): Pembukuan as-Sunnah Pada Abad ketiga

Pada fase inilah muncullah Imam-imam agung ahli hadits yang berperan besar dalam menjaga dan membukukan hadits-hadits Nabi Shollallohu alaihi wasallam bahkan berjasa memilah hadits-hadits yang shahih dari yang dhaif dan yang lebih parah dari dhaif.

[1]. Imam Ahmad bin Hanbal yang salah satu karya besar beliau adalah al-Musnad. Kitab hadits ini adalah musnad terbesar yang dikenal di tengah kaum Muslimin, yang memuat 40.000 hadits kurang sedikit. Dan jumlah ini, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ahmad sendiri, beliau pilah dari 75.000 hadits.

Sejarah penulisan dan semua hal yang berkaitan dengan Musnad Imam Ahmad ini, dapat Anda kaji dalam buku kita ini. Dan di samping Musnad Imam Ahmad juga terdapat 13 kitab musnad lain, yang dapat Anda kaji tentangnya di sini.

[2]. Dalam fase inilah munculnya Imam-imam penulis kitab hadits yang enam (al-Kutub as-Sittah) yang paling terkenal di dunia Islam, yaitu: Shahih al-Bukhari; Shahih Muslim; Sunan Abu Dawud; Sunan at-Tirmidzi; Sunan an-Nasa`i; dan Sunan Ibnu Majah.

Mengapa Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim begitu fenomenal dan paling otoritatif di tengah umat Islam sebagai landasan hukum? Mengapa pula para ulama sepakat bahwa Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim adalah kitab paling shahih setelah al-Qur`an? Temukan jawabannya dalam buku kita ini. Begitu juga sejarah pembukuan, latar belakang penulisan, dan segala hal yang berkaitan dengan kitab-kitab hadits ini yang enam ini, yang merupakan pegangan paling pokok para ulama dalam kurun sejarah hingga saat ini, dapat Anda kaji di sini.

Mengkaji bab (3) ini akan mengantar Anda, pencinta ilmu, kepada gambaran riil bagaimana jerih payah dan begitu hebatnya perjuangan ulama Ahlus Sunnah dalam melayani hadits-hadits Rasulullah Shollallohu alaihi wasallam. Inilah jasa besar yang patut dibanggakan kepada semua umat manusia. Maka para ulama Ahlus Sunnah telah menorehkan dua jasa besar yang tak bisa dilakukan oleh golongan maupun agama manapun selain agama Islam, yaitu: Pertama, membukukan hadits-hadits Rasulullah Shollallohu alaihi wasallam, dan kedua, memilah hadits-hadits yang begitu banyak dengan ilmu isnad. Dan saya, penulis resensi buku ini, bersumpah demi Allah, bahwa kedua disiplin inilah benteng Ahlus Sunnah yang paling kokoh menjaga Akidah Islam khususnya dan ajaran Rasulullah Shollallohu alaihi wasallam umumnya dari pemalsuan dan gempuran sengit fitnah di setiap zaman.

Bab (4): Pembukuan As-Sunnah Pada Abad Keempat dan Kelima

Pada abad ke 4 hijriyah pembukuan hadits semakin semarak dan hidup, sehingga murd-murid dari ulama-ulama abad ke 3 tadi, yang kemudian muncul sebagai ulama-ulama Ahlus Sunnah, juga mengikuti jejak para guru mereka, yaitu mengumpulkan hadits-hadits Nabi Shollallohu alaihi wasallam. Pada abad ke 4 ini muncul: Shahih Ibnu Khuzaimah; Shahih Ibnu Hibban, al-Mustadrak, milik Imam al-Hakim; Syarh Musykil al-Atsar, milik Imam ath-Thahawi; al-Mu’jam al-Kabir, milik Imam ath-Thabrani; as-Sunan,milik Imam ad-Daruquthni; as-Sunan al-Kubra, milik Imam al-Baihaqi; dan sebagainya.

Kemudian pada abad ke 5 muncul usaha-usaha baru yang menggabungkan antara al-Kutub as-Sittah, dan rinciannya dapat Anda telaah di dalam buku kita ini.

Di antara kitab-kitab hadits yang berhasil diselesaikan pada abad ini adalah: Syarh as-Sunnah, milik Imam al-Baghawi; Mashabih as-Sunnah juga milik al-Baghawi; Jami’ al-Ushul, milik Imam Ibnul Atsir; dan lain sebagainya.

Semua sejarah pembukuan dan segala sub yang berkaitan dengan kitab-kitab hadits tadi dapat Anda jelajah di sini.

Bab (5): Pembukuan As-Sunnah setelah abad ke 5 hingga abad ke 9 hijriah.

Dalam fase ini muncullah ulama-ulama besar yang dikenal dengan ulama ahli tahqiq, semisal: Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah; al-Hafizh al-Mizzi; al-Hafizh adz-Dzahabi; dan yang paling fenomenal adalah al-Hafizh besar Imam Ibnu Hajar al- Asqalani yang dinobatkan sebagai ulama hadits terakhir yang digelari oleh para ulama sebagai Amirul Mukminin dalam ilmu hadits.

Dalam fase ini pula muncul kitab-kitab takhrij hadits terkenal seperti: Tuhfah al-Asyraf,milik al-Hafizh al-Mizzi; Majma’ az-Zawa`id, milik Imam al-Haitsami; Nashb ar-Rayah,milik Imam az-Zaila’i; al-Badr al-Munir, milik Imam Ibnul Mulaqqin; at-Talkhish al-Habir, milik al-Hafizh Ibnu Hajar; dan sebagainya. Semua rincian tentangnya dapat Anda kaji di sini.

As-Sunnah atau ilmu hadits adalah disiplin yang pokok, bahkan saya, penulis resensi ini, sangat berharap agar ke depan ada usaha agar ilmu hadits dimasukkan sebagai mata ajaran pokok dalam semua disiplin imu Syariat; baik Ushuluddin; Fikih; Tafsir; Dakwah; Tarbiyah. Ahli Ushuluddin yang miskin hadits telah terbukti banyak menyelisihi akidah Islam; Ahli Tafsir yang miskin hadits terjebak dalam penafsiran-penafsiran logika dan nalar yang jauh dari wahyu; ahli fikih yang miskin hadits juga terjebak dalam fanatik madzhabi dan kesimpulan hukum fikih yang jauh dari as-Sunnah; dan ahli dakwah serta tarbiyah yang miskin hadits terjebak dalam analogi dan cerita-cerita fiktif.

Buku ini adalah awal yang baik untuk memulai atau meningkatkan pengetahuan tentang as-Sunnah atau hadits-hadits Nabi Shollallohu alaihi wasallam. Semoga Allah mendatangkan manfaat dengannya.