RESENSI BUKU KESEMPURNAAN DAN KEAGUNGAN ISLAM

RESENSI BUKU

KESEMPURNAAN DAN KEAGUNGAN ISLAM

 DATA BUKU

Judul Matan Asli             : Fadlul Islam

Judul syarah                     : Syarah Fadlul Islam

Judul Edisi Terjemah     : Syarah Fadhlul Islam, Kesempurnaan dan Keagungan Islam serta perintah berpegang teguh dan menjaga kemurniannya

Penulis                                : Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan al-Fauzan

Muraja’ah terjemah         : Tim Editor ilmiah DARUL HAQ

Penerbit                              : DARUL HAQ, Jakarta

Tebal buku                         : 230 + vi halaman

Ukuran                               : 14,5 x 20,5 cm

Harga per ex                     : Rp. 35.000,-

 

KEDUDUKAN PENTING TEMA BUKU

Jika hanya melihat kepada judulnya saja, maka buku ini sepertinya hanya membahas tentang keutamaan agama Islam dan kewajiban berpegang teguh kepadanya. Padahal ada banyak tema-tema penting lainnya yang juga diuraikan secara sangat bagus di sini, yang kesemuanya adalah masalah-masalah mendasar terkait dengan agama Islam.

Buku ini, dari awal hingga akhir berbicara tentang Islam dari berbagai segi berdasarkan al-Qur`an dan as-Sunnah serta pemahaman as-Salaf ash-Shalih. Karena itu,  inilah buku yang patut menjadi kajian primer setiap kalangan untuk memahami Islam dengan baik, agar kita beragama dengan Islam sebagaimana yang diridhai oleh Allah Taala.

 

Keutamaan Dan Keagungan Agama Islam

Agama Islam memiliki keutamaan dan keagungan yang begitu banyak, di antaranya:

Pertama : Agama Islam adalah satu-satunya agama yang diridhai Allah.

Kedua : Agama Islam adalah agama yang dibawa oleh semua Rasul yang pernah diutus oleh Allah.

Ketiga : Allah tidak akan menerima agama selain agama Islam.

Keempat : Allah telah menyempurnakan Agama islam dan meridhainya sebagai Agama bagi manusia. Allah Ta’ala berfirman,

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian Agama kalian dan Aku sempurnakan pula nikmatKu untuk kalian dan Aku ridhai Islam sebagai agama bagi kalian.” (Al-Ma`idah: 3).

Kelima : Allah menjamin kemurnian agama Islam hingga akhir zaman.

Keenam : Kaum Muslimin mendapatkan pahala dua kali lipat dibanding kaum Yahudi dan Nasrani.

Ketujuh : Kaum Muslimin diberikan petunjuk oleh Allah kepada hari Jum’at, tidak seperti kaum Yahudi yang memilih hari Sabtu dan tidak seperti kaum Nasrani yang memuliakan hari Ahad.

Dan tentu masih banyak yang lainnya.

Wajib Masuk Ke Dalam Agama Islam

Allah Ta’ala berfirman,

Katakanlah (wahai Rasul), Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa, Isa dan para nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan hanya kepadaNya kami berserah diri.” Dan barangsiapa mencari agama selain Islam ini, maka tidak akan diterima darinya, dan di akhirat dia termasuk orang-orang yang rugi. (Ali ‘Imran: 84-85).

Ini menunjukkan dengan sangat jelas bahwa agama semua para nabi dan para Rasul adalah agama Islam. Perhatikanlah Firman Allah Ta’ala,

“Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah agama Islam.”  (Ali Imran: 19).

Yakni, agama yang Allah tetapkan di sisinya yang Dia turunkan sebagai agama bagi semua manusia adalah Islam. Hanya islam yang telah Allah canangkan sebagai agama di sisiNya dan hanya Islam yang Allah turunkan sebagai agama di alam semesta ini, dan agama ini lah yang Allah sempurnakan dan Allah ridhai sebagai agama bagi manusia.

Karena itu, semua orang wajib masuk ke dalam agama islam, dan siapa yang beragama dengan selain Agama islam, maka tidak akan diterima darinya.

Dan itulah sebabnya, kaum Yahudi dan Nasrani yang tidak masuk agama Islam, mereka tidaklah berpegang kepada agama yang benar, karena mereka berpegang pada agama yang telah dihapus. Nabi a bersabda,

“Demi Tuhan Yang jiwa Muhammad ada di TanganNya, tidak seorang pun dari umat ini, baik Yahudi maupun Nasrani yang mendengar tentangku, kemudian dia mati dalam keadaan tidak beriman kepada ajaran yang dengannya aku diutus, kecuali dia termasuk penguni neraka.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim, no. 153).

Itu secara keseluruhan. Dan secara satuan, maka wajib bagi setiap orang untuk mengikuti ajaran yang Allah tetapkan. Hal itu karena kewajiban beribadah hanya kepada Allah harus dibarengi dengan beribadah hanya dengan tata cara yang Allah tetapkan lewat diri RasulNya Shalallahu alaihi wassalam.

Karena itu, ajaran bid’ah yang tidak memiliki dasar dari keketatapan Nabi Shalallahu alaihi wassalam, bukanlah agama Islam, sehingga termasuk yang ditolak, dan wajib ditinggalkan. Nabi Shalallahu alaihi wassalam bersabda,

“Barangsiapa yang melakukan suatu amal yang tidak ada dasarnya di dalam agama kami ini, maka ia tertolak.” (Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim).

Ringkasnya: wajib bagi setiap manusia untuk menganut agama islam, artinya meninggalkan semua agama selainnya, dan setelah masuk ke dalamnya wajib untuk mengikuti ajaran islam yang di bawa oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam yang bersumber dari Allah dan meninggalkan segala ajaran bid’ah, syubhat, dan hawa nafsu.

Siapa saja yang memahami dan mengamalkan ini maka dia telah beruntung di dunia dan akhirat.

Di samping itu, setiap Muslim juga wajib menjaga agama ini agar tetap bersih dan suci dari noda kebatilan, sehingga dengan itu setiap kita telah ikut mengambil andil untuk menyuguhkan Agama yang agung ini kepada orang lain, dalam bentuknya yang indah dan suci dari keburukan; baik dengan ilmu maupun dengan amal. Dan salah satu keburukan yang paling Allah benci adalah orang-orang yang mengajarkan ajaran-ajaran yang bertentangan dengan Islam. Dalam buku ini, penulis menyebutkan salah satu sabda Nabi Shalallahu alaihi wassalam,

“Orang yang paling dibenci oleh Allah ada tiga golongan: (pertama), orang yang melakukan penyimpangan (ilhad) di tanah haram. (Kedua), orang yang mencari-cari cara untuk menghidupkan sunnah jahiliyah di dalam Islam. Dan (ketiga), orang yang menuntut darah seseorang (qishash) tanpa alasan yang haq; yakni hanya untuk menumpahkan darahnya.” (Diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, no. 6882).

Penulis matan, syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, kemudian mengutip perkataan Syaikhul Islam terkait hadits ini, di mana Syaikhul Islam berkata, “Di dalam larangan ini tercakup semua bentuk jahiliyah, baik yang mutlak (umum) atau yang muqayyad (tertentu dan terbatas) yaitu pada seseorang dan tidak pada seseorang lainnya, baik ahlul kitab maupun paganis, atau selain keduanya dari setiap orang yang menyelisihi ajaran-ajaran yang di bawa oleh para Rasul.”

Ini sangat penting untuk menjadi perhatian setiap kita, karena apabila agama ini dilihat dan didengar oleh umat manusia dengan gambaran yang buruk, sulit, udik, tidak logis, tidak manusiawi dan seterusnya, maka kita telah merusak usaha para Rasul dan para ulama untuk menegakkan hujjah kepada manusia.

Di akhir bagian ini, buku ini mengingatkan kita untuk berpegang teguh kepada ajaran Islam Murni yang sesuai dengan Sunnah Nabi a. Syaikh yang mulia kemudian menyebutkan peringatan sahabat besar, Abdullah bin Mas’ud RAdiallahu anhu, yang berkata,

“Tidaklah datang suatu tahun melainkan tahun yang sesudahnya lebih buruk darinya. Aku tidak berkata, ‘Suatu tahun lebih deras hujannya dibandingkan tahun lainnya, dan suatu tahun lebih subur dibandingkan tahun lainnya, serta tidak pula seorang pemimpin lebih baik dibandingkan pemimpin yang lain’, akan tetapi (yang aku maksud) adalah wafatnya para ulama kalian dan orang-orang terbaik kalian, kemudian datanglah generasi selanjutnya, yang menkiaskan ajaran (agama) dengan analogi logika akal mereka, akibatnya Islam dihancukan dan menjadi terpecah belah.” (Diriwayatkan oleh Imam Abu Amr ad-Dani di dalam as-Sunan al-Waridah fil Fitan, no. 210).

Penulis juga menyebutkan satu hadits yang memperingatkan bahayanya seseorang mengikuti hawa nafsu dan bid’ah dalam beragama, yaitu sabda Nabi Shalallahu alaihi wassalam,

“Sesungguhnya akan muncul suatu kaum dari umatku yang akan diseret oleh desakan hawa nafsu (bid’ah) sebagaimana penyakit anjing gila merasuki (sekujur tubuh) penderitanya, sehingga tidak tersisa darinya suatu urat dan tidak pula persendian melainkan ia merasukinya juga.” (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Abu Dawud).

Dan lebih jelas dari ini semua adalah peringatan Allah di dalam al-Qur`an,

“Siapakah yang lebih zhalim daripada orang yang mengada-ada kebohongan atas Nama Allah untuk menyesatkan manusia tanpa ilmu?” (Al-An’am: 144).

Nah, jalan untuk mempertahankan kemurnian agama Islam itu adalah dengan mengikuti manhaj as-Salaf ash-Shalih. Hudzaifah y telah mengingatkan kita,

“Setiap ibadah yang tidak dilakukan oleh para sahabat Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam maka janganlah kalian lakukan, karena generasi yang pertama itu tidak menyisakan kesempatan untuk berkpendapat bagi generasi belakangan. Maka bertakwalah kepada Allah wahai para pencari ilmu. Ikutilah jalan orang-orang sebelum kalian’.” (Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud).

PENUTUP

Di bagian akhir, buku ini menguraikan suatu peringatan Nabi Shalallahu alaihi wassalam yang akan terjadi pada Agama ini. Nabi Shalallahu alaihi wassalam bersabda,

“Islam mulai dalam keadaan asing dan akan kembali asing, maka beruntuhlah (dengan surga) orang-orang yang terasing (yang berpegang gigih kepada Islam) itu.” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim).

Hadits ini diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad dan terdapat tambahan berbunyi,

“Siapakah orang-orang yang terasing itu?” Nabi Shalallahu alaihi wassalam menjawab, “Orang-orang yang tetap baik ketika manusia telah rusak.”

Dan juga diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi dengan lafazh,

“Maka beruntunglah (dengan surga) orang-orang yang terasing (karena gigih berpegang pada Islam yang murni), yaitu orang-orang yang berusaha memperbaiki apa-apa yang dirusak manusia dari sunnahku.”

Benar, bahwa gigih dan teguh di atas Islam yang murni memang pahit dan getir, bahkan “bagaikan menggenggam bara api”, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang shahih, akan tetapi kita harus ingat bahwa kita semua akan meninggalkan dunia dan semua hiruk pikuk keidupan ini untuk bertemu dengan Allah kelak, di mana Allah akan memberikan kita balasan baikNya dan keridhaanNya untuk kita. Maka keterasingan dan perasaan sumpek oleh pengapnya tekanan realita yang kita hadapi, harus kita abaikan, karena itu memang harus dilewati untuk menggapai keberuntungan tersebut. Mari kita tetap gigih di atas islam yang benar yang sesuai dengan Sunnah Nabi Shalallahu alaihi wassalam. Dan dengan ini kita yang hidup di akhir zaman ini berharap agar termasuk di antara yang telah disabdakan oleh Nabi kita Muhammad Shalallahu alaihi wassalam kepada para sahabat beliau dahulu, yang disebutkan dalam buku ini,

“Sesungguhnya kalian hari ini di atas keterangan yang jelas dari Tuhan kalian, dimana kalian melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar, berjihad di jalan Allah, dan belum nampak pada kalian dua jenis mabuk, yaitu: mabuk kebodohan dan mabuk cinta kepada kehidupan dunia. Kemudian kalian (kaum Muslimin) akan dialihkan dari keadaan itu, sehingga seorang yang berpegang teguh kepada al-Qur`an dan as-Sunnah ketika itu mendapatkan pahala lima puluh orang”. Beliau ditanya, ‘(Lima puluh orang) dari mereka (kelak)?’ Nabi Shalallahu alaihi wassalam menjawab, ‘Tidak, tetapi (lima puluh orang) dari kalian (sekarang)’.” (Diriwayatkan oleh Imam Abu Nu’aim di dalam Hilyatul Auliya`, 8/49).

Ini adalah jaminan dari Nabi Shalallahu alaihi wassalam dan pahala yang besar bagi orang-orang yang teguh di atas Sunnah Nabi Shalallahu alaihi wassalam, yang tentu patut kita perjuangkan.

Buku ini fokus berbicara tentang Agama Islam dari berbagai seginya: “keutamaan dan keagungan Agama islam”; “kesempurnaan Islam”; “makna Islam secara haq dan utuh”; “wajibnya masuk ke dalam Agama Islam”; “wajibnya mencukupkan diri dengan ajaran islam dan meninggalkan ajaran-ajaran selainnya”; “Wajibnya masuk ke dalam Agama Islam secara kaffah (menyeluruh)”; “Bahaya dan keburukan bid’ah di dalam Agama”; “Keterangan bahwa bid’ah itu lebih berbahaya daripada dosa besar”; bahkan “Allah menghijab taubat bagi pelaku bid’ah”; “Islam akan kembali terasing di akhir zaman sebagaimana ia mulai dahulu dalam keadaan terasing”; dan sebagainya.

Dan bersama itu, setiap masalah didasari oleh dalil; baik dari al-Qur`an dan as-Sunnah, bahkan perkataan para sahabat Nabi Shalallahu alaihi wassalam , yang lengkap dengan takhrijnya.

Karena itu,  ini adalah salah satu buku paling fokus menguraikan Islam dari berbagai segi yang paling mendasar, sehingga patut menjadi perhatian setiap Muslim.

Register