RESENSI BUKU AJARAN SUFI DAN TAREKAT

RESENSI BUKU AJARAN SUFI DAN TAREKAT

DATA BUKU

Judul asli                  : Ash-Shuufiyah fi Mizaan al-Kitaab wa as-Sunnah

Judul edisi Terjemah    : Ajaran Sufi dan Tarekat dalam Timbangan al-Qur`an dan as- Sunnah

Penerjemah                    : Muhammad Ruliyandi, Lc.

Muraja’ah terjemah      : Tim Editor Ilmiah DARUL HAQ

Tebal Buku                     : 100 halaman

Ukuran buku                  : 12.5×17.5

Penerbit                           : DARUL HAQ – Jakarta

Harga per exp                 : Rp 19.000,-

TENTANG TEMA BUKU

Nabi shalallahu alaihi wassalam telah memperingatkan bahwa umat ini akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, dan Nabi saw menyatakan bahwa semuanya masuk neraka kecuali satu yaitu orang-orang yang berpegang kepada Sunnah shalallahu alaihi wassalam dan al-Jama’ah.

Karena itu, prinsip berpegang kepada as-Sunnah dan al-Jama’ah adalah prinsip pokok dalam akidah Islam yang shahih, dan dipastikan bahwasanya setiap orang atau kelompok yang keluar dari prinsip ini, pasti akan tersesat, paling tidak pada sebagian masalah-masalah akidah.

Dari sisi lain, dan erat kaitannya dengan prinsip ini, seorang sahabat mulia, Hudzaifah bin al-Yaman Radhiyallahu An’hu, telah mengajarkan kepada kita sikap yang sangat penting, di mana beliau berkata,

كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُوْنَ رَسُوْلَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنِ الْخَيْرِ، وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِىْ.

“Orang-orang biasanya bertanya kepada Rasulullah SAW tentang kebaikan, dan aku bertanya kepada beliau tentang keburukan; karena khawatir keburukan akan menimpaku.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim).

Karena itu, di samping wajib mengenal tentang tauhid seorang Muslim juga wajib mengenal apa-apa yang merusak tauhid yaitu syirik, di samping wajib mengenal Sunnah juga wajib mengenal apa-apa yang merusah Sunnah, di samping wajib mengenal Islam juga wajib mengenal kekafiran; paling tidak secara global; bukan untuk melakukan syirik, bid’ah dan kekafiran, tetapi untuk memproteksi Tuuhid, Sunnah dan Islam yang kita pegang teguh.

Nah, salah satu jalan menyempal yang selama ini telah begitu banyak menimbulkan  kerusakan dan bid’ah serta penuh dengan syubhat dalam akidah dan Sunnah kaum muslimin, adalah sufisme dan tarekat. Dan buku kita kali ini, “Ajaran Sufi dan Tarekat dalam Timbangan al-Qur`an dan as-Sunnah”, berusaha mengungkap kebatilan dan syubhat sekte nyeleneh ini; yang mengulas pokok-pokok penyimpangan mereka serta fakta dari perkataan para tokoh mereka sendiri, yang membuktikan hakikat diri mereka sendiri.

Dan salah satu yang sangat menarik, adalah bahwa buku ini ditulis oleh seorang ulama besar Ahlus sunnah, yang merupakan mantan pengikut sufi dan tarekat, yang setelah diberikan hidayah oleh Allah, beliau muncul sebagai salah seorang sosok ulama Ahlus Sunnah dan fenomenal, dan giat berdakwah kepada Allah, serta berusaha membongkar berbagai kesesatan sekte nyeleneh ini. Karena itu, timbangan yang diletakkan oleh Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, penulis, tentulah suatu yang sangat obyektif jika ditinjau dari kaca mata umum, dan beliau adalah seorang ulama Ahlus Sunnah yang tidak asing bagi kaum muslimin, sehingga kajian yang beliau lakukan tentu ditegakkan dalam timbangan al-Qur`an dan as-Sunnah.

Karena itu, buku sangatlah penting dikaji, oleh setiap Muslim, yang ingin melindungi akidah serta keislaman diri dan keluarganya dari invasi akidah dan paraktif ubudiyah sufi dan tarekat.

ISI BUKU SECARA RINGKAS

Di bagian awal, syaikh Muhammad bin Jamil Zainu menguraikan 25 poin pokok yang menggambarkan hakikat ajaran sufi dan tarekat. Ke 25 poin ini, mengulas jati diri sufi dan tarekat dalam sajian yang ringkas, padat tetapi tuntas. Berikut ini sajikan sebagian dari ke-25 poin tersebut, secara rinkas dan adaptif redaksi:

1). Sekte sufi dan tarekat memiliki banyak perpecahan dalam berbagai kelompok dan sekte, di mana yang satu dengan lainnya saling hujat dan saling mengungguli dengan menciptakan berbagai ritual dan keutamaan.

2). Sekte sufi dan tarekat berdoa kepada selain Allah Taala; kepada para nabi, para wali, baik telah mati maupun yang masih hidup. Karena itu, bukanlah suatu yang aneh jika sering terdengar dalam baris-baris doa mereka, “Ya Syaikh al-Jailani!…”, “Ya Syaikh ar-Rifa’i…!”, “Ya Rasulullah…!; kami mohon pertolongan dan bantuan. “Ya Rasulullah! Kepadamulah kami bersandar.” Dan sebagainya. Padahal ini adalah kesyirikan yang jelas. Allah Ta’ala telah memperingatkan,

“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa’at dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian itu) maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim.” (Yunus: 106).

3). Sufi meyakini adanya orang-orang shalih pengganti (tokoh sebelumnya), yaitu para tokoh terkemuka yang mereka yakini bahwa Allah telah memberikan wewenang kepada mereka untuk ikut menangani dan mengatur urusan dunia.

Ini adalah suatu kesesatan yang jelas, karena tidak ada yang menciptakan dan mengatur alam semesta ini, kecuali Allah.

“Sesungguhnya Tuhan kalian ialah Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, lalu Dia bersemayam di atas Arasy[1]. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakanNya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) ditundukkan dengan  perintahNya. Ingatlah, menciptakan dan memerintahkan (mengatur urusan) itu hanyalah milik Allah.” (Yunus: 54).

4). Di antara sekte sufi dan tarekat juga ada yang berkeyakinan menyatunya Allah Yang Maha Mencipta dengan makhluk yang diciptakanNya, yang dikenal widatul wujud.

5). Kelompok sufi mengajarkan agar membayangkan syaikh mereka ketika berdzikir (mengingat dan menyebut) Allah, hingga bahkan di dalam shalat mereka.

Kata Syaikh Muhammad Zainu, penulis, “Saya memiliki seorang kerabat dekat yang memajang foto syaikh di depannya ketika Shalat.”

Ini jelas kesesatan; karena Rasulullah shalallahu alaihi wassalam telah bersabda,

الْإِحْسَانُ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ.

“Ihsan itu itu adalah bahwa engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatNya, dan jika engkau tidak melihatnya maka sesungguhnya Dia mellihatmu.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim).

6). Sekte sufi dan Terekat mengkelaim bahwa Allah tidak boleh diibadahi karena menginginkan surgaNya atau karena takut kepada nerakaNya. Seorang tokoh mereka berkata, “Barangsiapa beribadah kepada Allah karena takut kepada nerakaNya, maka sungguh dia telah menyembah neraka, dan barangsiapa yang beribadah kepada Allah karena ingin mendapatkan surgaNya, maka sungguh dia telah beribadah kepada surga.”

Ini jelas batil, karena Allah Ta’ala memuji para NabiNya yang berdoa kepadaNya untuk mendapatkan surgaNya dan takut dari azabNya,

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas.” (Al-Anbiya`: 90).

“Penuh harap”, yakni, kepada surgaNya dan “cemas”, yakni, takut kepada azabNya; dan ini jelas adanya. Begitu pula Firman Allah Ta’ala,

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku takut akan azab hari yang besar (hari kiamat), jika aku mendurhakai Tuhanku’.” (Al-An’am: 15).

  1. Di antara kebatilan yang paling kentara dari sekte nyentrik ini adalah bahwa mereka mengkelaim mengetahui perkara ghaib.

Ini juga jelas batil. Allah Ta’ala berfirman,

“Katakanlah (wahai Muhammad)!, ‘Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah’.” (An-Naml: 65).

Dan Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda,

“Tidak ada yang mengetahui yang ghaib kecuali Allah.” (Diriwayatkan oleh ath-thabrani, dan penulis, Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu berkata, “Ini adalah hadits hasan”).

Ketujuh poin yang kami sajikan secara ringkas ini, jelas sekali menggambarkan jati diri dan hakikat sekte ini.

Berikut ini beberapa fakta perkataan yang berhasil diungkap oleh syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, penulis, dari sejumlah tokoh besar sufi dan tarekat, yang merupakan dasar-dasar ajaran mereka, yang memaparkan secara jelas borok dan kebusukan ajaran sufi dan tarekat.

1]. Ibnu Arabi, yang dikubur di Damaskus berkata, “Berapa banyak hadits yang shahih berdasarkan jalan periwayatannya telah sampai ke seorang yang disingkafkan tabir penghalang ilmu ghaib (al-Kasyf), yang melihatnya dengan mata batinnya, lalu dia bertanya kepada Nabi shalallahu alaihi wassalam (baik melalui mimpi dan lainnya) tentang hadits tersebut, dan beliau saw ternyata mengingkarinya seraya bersabda kepadanya, “Aku tidak pernah mengatakannya dan tidak memutuskan hukum dengannya”, sehingga dengan demikian hadits tersebut lemah adanya, maka ia tidak boleh diamalkan berdasarkan keterangan dari Tuhannya, meskipun para ahli hadits mengamalkannya karena kehahihan jalur periwayatannya, sedangkan hakikatnya tidak demikian.”

Perkataan ini sangat berbahaya dan ini salah satu dasar kesesatan yang mengantarkan sebagian kelompok sufi dan tarekat jatuh dalam kekafiran.

2]. Ibnu Arabi juga meyakini bahwa Allah adalah makhluk dan makhluk adalah Allah, dan masing-masing dari keduanya saling menyembah satu sama lain. Ini dia ungkapkan dalam perkataannya,

فَيَحْمَدُنِيْ وَأَحْمَدُهُ ….. وَيَعْـــــــبُدُنِيْ وَأَعْبُدُهُ

“Maka Dia memujiku dan aku memujiNya

Dan Dia menyembahku dan aku menyembahNya.”

3]. Bahkan tampa rasa malu, Ibu Arabi ini berkata, “Sesungguhnya seorang suami ketika menggauli istrinya, maka sebenarnya dia sedang menggauli al-Haq (Tuhan Yang Mahabenar).” La Haula Wa Laa Quwwata Illaa billaah. Semoga Allah melindungi kita semua dari kehinaan seperti ini.

4]. Sekte Sufi dan tarekat juga sekte yang paling gemar menciptakan shalawat-shalawat bid’ah, sehingga mereka dikenal paling jauh dari Shalawat yang diajarkan oleh Nabi SAW. Anehnya, shalawat-shalawat bid’ah yang mereka karang-karang itu, justru telah banyak diamalkan oleh kaum muslimin di Indonesia, seperti shalawat mereka yang dikenal dengan: shalawat Nariyah, Shlawat Badriyah dan lainnya. Bahkan ada juga shalawat mereka yang dikenal dengan Shalawat al-Fatih yang mereka kelaim: “apabila dibaca satu kali” keutamaanya sama dengan enam kali khatam membaca al-Qur`an.  Perhatikanlah bagaimana setan mempermainkan hati dan pikiran mereka.

Dan apa yang kami sebutkan ini hanya sebagian kecil dari perkataan yang sangat memalukan dari para tokoh sufi, yang sebenarnya menggambarkan kedunguan dan kekerdilan akal mereka. Dan selebihnya, silahkan Anda kaji dalam buku ini.

 

Salah satu fenomena menarik di tengah komunitas sufi dan tarekat adalah apa yang dikenal dengan Qashidah al-Burdah, yang merupakan bait-bait syar’ir yang ditulis oleh seorang tokoh sufi bernama al-Bushiri, yang dibaca secara rutin dalam berbagai kesempatan bahkan bacaan mingguan secara berjamaah. Yang agak mengherankan, Qashidah al-Burdah ini juga diamalkan oleh banyak kaum muslimin yang mengaku Ahlus Sunnah wl Jama’ah, termasuk di tanah air kita tercinta, Indonesia. Padahal dalam rangkaian qashidah al-Burdah ini, banyak kata dan ungkapan yang jelas merupakan kesyirikan dan kekafiran. Di antaranya, al-Burdah mengatakan,

يَا أَكْرَمَ الْخَلْقِ مَا لِيْ مَنْ أَلُوْذُ بِهِ … سِوَاكَ عِنْدَ حُلُوْلِ الْحَادِثِ الْعَمَمِ

“Wahai makhluk yang paling mulia (Muhammad SAW)!

Aku tidak memiliki siapapun tempat berlindung selainmu

Ketika datangnya bencana yang merajalela.”

Ini adalah kekufuran yang terang; karena Nabi SAW sendiri telah memperingatkan,

“Barangsiapayang meninggal dunia dalam keadan menyeru (berdoa dan meminta pertolongan) kepada tuhan tandingan selain Allah, maka dia pasti masuk neraka.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari).

Dan ini hanya salah satu dari kesesatan yang sangat mengerikan dalam al-Burdah, dan ini saja sudah cukup sebagai peringatan bagi setiap jiwa yang masih memiliki bashirah dalam beragama; maka selebihnya, silahkan Anda kaji di dalam buku ini.

Begitu juga dengan kitab sufi lainnya yang dikenal dengan Dala`il al-Khairat, juga penuh dengan kebatilan dan kesesatan. Dan Syaikh Muhammad bin jamil Zainu mengulasnya dalam buku ini dengan gambalng dan terang benderang, lalu menimbang setiap masalah dengan al-Qur`an dan as-Sunnah yang shahih. Dan semua ini menunjukkan

Fakta lain yang juga menggambarkan kerusakan sekte ini adalah pandangan-pandangan aneh mereka tentang wali dan karomah, yang penuh dengan takhyul, khurafat dan kebohongan. Ini tidak berarti bahwa Ahlus Sunnah mengingkari “wali” dan “karomah”, karena keduanya ditetapkan secara jelas dalam al-Qur`an dan as-Sunnah. Maka pertanyaannya: Apa dan bagaimana perbedaan antara Ahlus Sunnah dengan Sufi dalam masalah “wali” dan “karomah”? Jawabannya silahkan Anda kaji di sini.

Dan yang sangat tidak bisa dimengerti dari sekte aneh ini, adalah pandangan mereka tentng jihad dalam Islam,  padahal jihad adalah suatu yang jelas bagi siapapun. Ini juga menambah penting urgensi buku kita ini.

PENUTUP DAN REKOMENDASI

 

Semua keyakinan sufi dan tarekat yang aneh dan nyeleneh ini, ada di Indonesia. Karena itu jangan ada semacam praduga bahwa ulasan buku ini tidak menyentuh problem yang riil di tengah masyarakat. Sebaliknya ini sangat riil ada di tengah masyarakat, bahkan sekarang mereka telah mendatangkan para syekh sufi terkenal dari luar negeri dan bahkan memiliki siaran radio dan majalah tersendiri, untuk menyebarkan kesesatan dan syubhat di tengah kaum Muslimin. Dan yang lebih mengkhawatirkan, adalah bahwasanya banyak ajaran dan ritual keagamaan ala sufi dan tarekat yang menyusup ke dalam tubuh Ahlus Sunnah, sehingga banyak Ahlus Sunnah yang telah mengenalnya bahkan ikut mengamlkannya sejak dia lahir.

Nah buku ini adalah benteng dari invasi idiolagi yang dilakukan para pengikut hawa nafsu dari kalangan sufi dan tarekat; agar bashirah beragama kita semakin tajam dan semakin terlatih agar bisa bersikap dengan tepat dan efektif, di akhir zaman yang sangat mengerikan ini.

Sebagai nasehat, semua kita akan meninggalkan dunia ini untuk mempertanggungjawabkan amal perbuatan kita kepada Tuhan semesta ini, dan sekecil apapun amal kita, akan kita dapatkan balasannya dan seremeh apapun perkataan kita akan dicatat dan dimintai tanggungjawab di akhirat nanti. Maka mari kita terus memperbaiki akidah dan tauhid kita, agar kata dan perbuatan yang lahir dari diri kita, adalah yang diridhai dan dicintai oleh Allah.

Selamat membaca.

[1] Bersemayam di atas ‘Arasy adalah salah satu sifat Allah yang wajib kita imani, sesuai dengan kebesaran Allah dan kesucian-Nya.

Register