Fiqhul Islam Syarah Bulughul Maram


Rp 75.000Rp 750.000

Clear
Qty:
Compare
SKU: 46-55. Categories: , Tag:

Fiqhul Islam Syarah Bulughul Maram

Judul Asli : Fiqh al-Islam Syarh Bulugh al-Maram min Jam’i Adillah al-Ahkam
Judul Edisi Terjemah : Fiqhul Islam Syarah Bulughul Maram
Penyusun Bulugh al-Maram : Imam al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani
Pensyarah : Syaikh Abdul Qadir Syaibah al-Hamd
Murja’ah terjemah: Tim Editor Ilmiah DARUL HAQ
Jumlah Jilid : 10 Jilid lengkap
Ukuran buku : 16 x 24,5 cm
Harga satu set lengkap : Rp. 750.000,-

*Dapat dibeli perjilid.

URGENSI TEMA DAN LATAR BELAKANG BUKU
Kitab Bulughul Maram adalah kitab yang dikenal luas di seluruh dunia Islam, bahkan telah menjadi penduan primer bagi berbagai kalangan. Kitab ini menjadi kajian pokok dan materi pengajaran wajib di berbagai jenjang pendidikan formal maupun maupun non formal, di seluruh dunia Islam. Dan sejak awal munculnya, buku Bulughul Maram telah menjadi buku primer best seller hingga saat ini. Kitab Bulughul Maram, baik yang asli berbahasa Arab maupun yang terjemahan dalam berbagai bahasa dunia, telah diterbitkan oleh berbagai penerbit dan berbagai versi, dan semuanya laris hingga saat ini.

Bulughul Maram telah mendapat pujian dari banyak para ulama sebagai kitab himpunan hadits-hadits hukum dan fikih Islam paling ringkas dan paling padat. Karena itu, begitu banyak hadits-hadits hukum dan fikih dalam Islam yang harus dipelajari seorang Muslim, bisa dimulai mendalaminya dengan kitab Bulughul Maram. Sekalipun ringkas, kitab ini memuat hadits-hadits yang paling pokok dalam hukum Islam, dalam semua masalah hukum dan fikih yang paling mendasar: Kitab “Thaharah”; “Shalat”; “Zakat”; “Puasa”; “Haji”; “Jual beli”; “Pernikahan”; “Jinayat (Hukum perdata)”; “Hudud (hukum pidana)”; “Jihad”; “Makanan dan Minuman”; “Sumpah, Nadzar dan kehakiman”, dan “Masalah-masalah Fikih Beragam”.

Ditambah lagi dengan kedudukan penulisnya sebagai seorang pakar yang utama dalam ilmu secara umum dan ilmu hadits secara khusus. Kedudukan tinggi beliau ini, bahkan ditegaskan oleh pernyataan banyak ulama bahwa beliau adalah orang yang terakhir yang meraih gelar amirul mu`minin dalam hadits dan ilmu hadits, yang merupakan gelar tertinggi dalam disiplin ini.

Nah, karena begitu penting urgensi dan kedudukan kitab Bulughul Maram ini dalam hukum dan fikih Islam, maka banyak para ulama telah mensyarahnya, agar hadits-hadits hukum di dalamnya mudah dipahami oleh seluas mungkin masyarakat muslim. Maka syarah Bulughul Maram adalah suatu yang sangat penting, karena dengan syarah inilah hadits-hadits hukum yang paling mendasar untuk diketahui oleh setiap Muslim, yang termuat dalam kitab ini, menjadi terurai dan mudah diamalkan. Dan di antara syarah yang kita kenal secara luas adalah Subulus Salam, milik Imam ash-Shan’ani; Taudhih al-Ahkam, Milik Syaikh Abdullah bin Ali Bassam; Fathul Dzil Jalali wal Ikram, milik Imam Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dan Fiqhul Islam milik Syaikh Abdul Qadir Syaibah al-Hamd, yang merupakan kitab asli dari buku yang kita resensi kali ini; dan lain sebagainya

Masing-masing syarah itu tentu memiliki karakter, kelebihan dan keistimewaan tersendiri, dan masing-masing pernerbit juga memiliki pertimbangan masing-masing dalam memilih naskah yang baik untuk diterbitkan.
Karena begitu pentingnya kitab Bulughul Maram bagi setiap kaum muslimin umumnya dan para penuntut ilmu secara khusus, maka kami, DARUL HAQ, memilih Syarah yang dilakukan oleh Syaikh Abdul Qadir Syaibah al-Hamd, dengan pertimbangan:
1. Syarah inilah yang paling simpel dan ringkas.
2. Mencakup pemahaman hadits riwayat dan dirayah. Yakni, di samping menjelaskan makna hadits, penulis juga menjelaskan berbagai permasalahan yang berkaitan dengan ushul hadits, seperti: perbedaan jalan dan lafazh riwayat hadits, illat hadits, dan jawaban terhadap kritik sebagian kalanagan terhadap sebagian hadits.
3. Syarah Bulughul Maram yang diterbitkan DARUL HAQ ini memiliki metodologi sajian yang apik dan rapi dengan tetap menjaga prinsip ringkas dan praktis di atas:
A. Matan hadits lengkap dengan harakat dan terjemah.
B. Takhrij secara sangat ringkas.
C. Kosa kata yang sulit dalam matan hadits yang tengah dibahas.
D. Penjelasan, yang mencakup makna hadits dan riwayat hadits.
E. Kesimpulan-kesimpulan hukum dari hadits.
Ini ditambah oleh kedudukan penulis, Syaikh Abdul Qadir Syaibah al-Hamd, yang pernah menjadi guru besar di Universitas Ummul Qura, Makkah al-Mukarramah dan juga menjadi guru tetap di Masjid Nabawi, Madinah al-Munawwarah.
Biografi Singkat Penulis
Abdul Qadir Syaibah al-Hamd, lahir di Mesir 1340 H dari keluarga yang bernasabkan kepada Kabilah Bani Hilal yang terkenal yang telah berpindah dari Jazirah Arab pada pertengahan abad keempat hijriyah. Nama lengkap Hilal adalah Ibnu Amir bin Sha’sha’ah bin Qais bin ‘Ailan bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan.
Beliau menghafal al-Qur`an al-Karim di madrasah kemudian melanjutkan pendidikannya ke Universitas al-Azhar dan memperoleh pengakuan internasional.
Beliau berkarir sebagai seorang guru di Mesir selama sepuluh tahun kemudian kembali kepada keluarganya di Saudi Arabia, selanjutnya mengajar di Sekolah Tinggi Buraidah sejak 1 Muharram 1376 H atau tahun 1955 masehi. Sampai akhirnya ditunjuk sebagai dosen di Fakultas Syari’ah dan Bahasa Arab di Riyadh awal tahun 1379 H/1958 M. Beliau terus aktif dalam kegiatan pengajaran sampai akhirnya ditunjuk sebagai dosen tingkat lanjutan Sarjana di Universitas Islam Madinah 1 Jumadil Ula 1382 H/1961 M. dan mengajar di Fakultas Syari’ah, Dakwah, Ushuluddin dan al-Qur`an. Beliau juga membantu mengajar di Sekolah Tinggi Da’wah Islamiyah cabang Universitas Islam Muhammad bin Sa’ud, dan akhirnya mengajar di Pascasarjana di Universitas Islam Madinah. Beliau mengajarkan Tafsir al-Qur`an al-Azhim di masjid Nabawi dan berhasil menyelesaikannya dalam waktu 14 tahun.
Di antara Karya Ilmiah Penulis:
Huquq al-Mar`ah fi al-Islam, al-Adyan wa al-Firaq wa al-Madzahib al-Mu’ashirah, Imta’ al-Uqul bi Raudhah al-Ushul fi Ushul al-Fiqh, Itsbat al-Qiyas fi asy-Syari’ah al-Islamiyah wa ar-Rad ala Munkirihi, Min al-Madzahib al-Haddamah, Tahqiqat ‘an Lailah al-Qadar, Qashash al-Anbiya`: al-Qashash al-Haq, al-Qashash al-Haq fi Sirah Sayyid al-Khalq, Tafsir Suwar Shad, Qaf wa an-Najm, Iqtarabat as-Sa’ah yang diimlakkan kepada mahasiswa sekolah tinggi fakultas Bahasa Arab di Riyadh 1379 H dan dicetak dengan judul Adhwa` ala at-Tafsir di majalah Universitas Islam Madinah dan Qashidah Nashihah dan syarhnya yang diberi judul ar-Raudhah al-Fasihah.

GAMBARAN METODOLOGI SAJIAN BUKU SECARA RINGKAS
Jika pada resensi sebelumnya tema kami angkat adalah bab tentang Bejana dan bab tentang Menghilangkan najis, maka pada resensi kali ini kami akan membahas bab tentang Syarat dan sesuatu yang dilarang dari Jual Beli.
Dari Abu Hurairah y dia berkata,
نَهَى رَسُوْلُ اللهِ عَنْ بَيْعَتَيْنِ فِي بَيْعَةٍ.
“Rasulullah a melarang dua transaksi dalam satu transaksi jual beli.” Diriwayatkan oleh Ahmad dan an-Nasa`i, at-Tirmidzi, dan Ibnu Hibban telah menshahihkannya. Sedangkan riwayat milik Abu Dawud yaitu,
مَنْ بَاعَ بَيْعَتَيْنِ فِيْ بَيْعَةٍ فَلَهُ أَوْكَسُهُمَا أَوِ الرِّبَا.
“Barangsiapa yang berjual beli dengan dua transaksi dalam satu transaksi jual beli, maka dia berhak (mengambil) harga yang lebih sedikit atau (kalau tidak), maka dia telah melakukan riba.”

*Kosa Kata
1. Kata عَنْ بَيْعَتَيْنِِ فِي بَيْعَةٍ: Dengan dua transaksi dalam satu transaksi jual beli, maksudnya ditafsirkan dengan dua tafsiran, pertama, seorang penjual berkata kepada pembeli, “Saya menjual barang ini kepadamu secara kredit yaitu dengan mengakhirkan pembayarannya dengan harga dua ribu, dan secara tunai dengan harga seribu, maka ambillah yang manapun yang kamu kehendaki,” kemudian mereka berdua berpisah tanpa menyempurnakan akad mereka, kredit atau tunai. Tafsiran kedua, penjual berkata kepada pembeli, “Saya menjual unta ini -contohnya- kepadamu, dengan syarat kamu harus menjualnya kepadaku dengan harga sekian.” Namun riwayat pada Abu Dawud telah menguatkan tafsiran pertama.

2. Kata فَلَهُ أَوْكَسُهُمَا أَوِ الرِّبَا : Maka dia berhak (mengambil) harga yang lebih sedikit atau (kalau tidak), maka dia telah melakukan riba, maksudnya barangsiapa yang berjual beli dengan dua transaksi pada satu akad maka dia berhak (mengambil) harga yang paling sedikit atau (kalau tidak), maka dia telah memperoleh riba.
*Penjelasan
Tidak ada perselisihan antara para ulama tentang bolehnya seseorang membeli makanan atau semacamnya dengan harga yang diakhirkan (dikredit ed.), dan al-Bukhari telah membuat judul dengan hal itu dalam kitab jual beli, dengan berkata, “Nabi a membeli dengan cara kredit.” Dan Muslim telah meriwayatkan dari hadits Aisyah i,
أَنَّ النَّبِيَّ a اشْتَرَى طَعَامًا مِنْ يَهُوْدِيٍّ إِلَى أَجَلٍ وَرَهَنَهُ دِرْعًا مِنْ حَدِيْدٍ
“Bahwa Nabi a membeli makanan dari seorang Yahudi dengan kredit, dan beliau menjaminkan perisai besi kepadanya.”
Sebagaimana al-Bukhari telah membuat judul dalam kitab al-Istiqradh seraya berkata, “Barangsiapa yang membeli dengan berhutang, dan dia tidak memegang bayarannya atau uangnya tidak dibawanya,” kemudian al-Bukhari menyebutkan hadits Jabir y dalam jual beli untanya kepada Rasulullah a ketika dalam perjalanannya, dan dia menerima harga pembayarannya di Madinah. Dan sungguh telah tersebar pada zaman kita sekarang ini bahwasanya beberapa pedagang menawarkan barang dagangannya dan mereka menjadikan pembayarannya -dengan kredit sekian dan tunai sekian- mereka menjadikan harga barang tersebut lebih mahal bila dengan cara kredit daripada jual beli dengan cara tunai.
Sesungguhnya sekelompok ulama telah membolehkannya selama kedua orang yang bertransaksi belum berpisah hingga transaksi tersebut sempurna pada salah satu caranya. Dan pendapat yang lebih hati-hati adalah tidak melakukannya, karena hal itu mengandung kesamaran riba, wallahu a’lam.

PENUTUP DAN REKOMENDASI
Di antara terjemahan syarah Bulughul Maram yang ada di Tanah air kita, Edisi terjemahan syarah Bulughul Maram terbitan DARUL HAQ ini memiliki beberapa keistimewaan yang patut menjadi perhatian Anda:
1. Teks hadits-hadits dan riwayat-riwayat dari Bulughul Maram ditulis utuh dan lengkap dengan harakatnya, sehingga memudahkan semua pihak untuk membaca teks aslinya, sebagaimana layaknya seseorang membaca kitab berbahasa Arab.
2. Pensyarah menggabungkan antara penjelasan riwayat dan dirayah terhadap hadits; sehingga berbagai permasalahan periwayatan hadits menjadi terjawab secara baik, begitu pula makna dan kandungan hadits, sehingga hukum-hukum yang dikandungnya menjadi muncul secara jelas.
3. Penjelasan penulis dimulai dari yang paling mendasar, yaitu makna kata-kata penting dari masing-masing hadits, sehingga pembaca bisa mengambil manfaat perbendaharaan bahasa Arab sekaligus.
4. Kesimpulan-kesimpulan yang diangkat penulis, fokus sesuai dengan tema di mana hadits tersebut dicantumkan. Ini penting, karena menjadi jelas dan sejalan dengan makna dan kandungan hukum yang dimaksud oleh al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah, penulis kitab matannya, yaitu Bulugh al-Maram.
5. Buku ini dipecah menjadi sepuluh jilid, tetapi tidak terlalu tebal, hanya rata-rata 300 an sampai dengan 400 an Halaman per jilid, sehingga sangat memudahkan untuk dibaca dan dibawa ke berbagai momen kajian ilmiah yang disampaikan oleh sejumlah ustadz.
Karena itu, buku ini kami anggap merupakan rujukan primer bagi setiap muslim yang ingin mendalami hukum-hukum Islam dan fikih, yang layak sebagai bahan kajian yang disampaikan di majlis-majlis kajian, bahan penlitian akademisi, dan rujukan pribadi.

Weight 800 g
Jilid

1 Set, 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10

Penulis

Abdul Qadir bin Syaibah al-Hamd

Tebal

xxvi+418 Halaman

ISBN

9789793407586

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “Fiqhul Islam Syarah Bulughul Maram”

Other Products From This Seller

Register