Depan |Katalog Situs | Forum | Rekomendasi | Distributor | Tentang Kami
Statistik
Total : 2056282 hits
Online : 1 users
 Kategori Buku
 Tentang Kami
 Distributor
  Retail
Kota-Kota

  
 Masalah-masalah Penting & Masyhur
  Tsaqafah & Sirah
Aqidah, Fiqih, Hadits, Tafsir, dll

  
 Login
  
Login:
Pass:
Register?
  
Kategori: Sebagian Isi Buku-buku Terbitan Darul Haq
 

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani
( Lahir: 773 H. - Wafat: 852 H. )

1. NAMA, KELAHIRAN, DAN CIRI-CIRI AL-HAFIZH IBNU HAJAR AL-ASQALANI

Namanya: Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Hajar, al-Kinani al-Qabilah (dari kabilah Kinanah), al-Asqalani al-Ashl (berasal dari Asqalan), al-Mishri sebagai tempat kelahiran, tempat pertumbuhan, tanah air, dan tempat wafatnya, asy-Syafi'i, Qadhi al-Qudhah, Syaikhul Islam, Hafizh dunia secara mutlak, Amirul Mukminin di bidang hadits. Gelarnya adalah Syihabuddin, dan bapaknya memberikan kunyah Abu al-Fadhl.

Kelahirannya: Sang Imam dilahirkan pada 22 Sya'ban 773 H. As-Sakhawi (murid utamanya) mengatakan, Adapun kelahirannya ialah pada 22 Sya'ban 770 H di tepi sungai Nil, di Mesir. Rumah tempat kela-hirannya di Mesir sudah dikenal, yang masih tetap dalam pemilikan syaikh kami, kemudian dijual sepeninggalnya. Rumah ini dekat dengan rumah pembuat tembaga dan al-Jami' al-Jadid.

Ciri-cirinya: Dia bertubuh sedang, lebih cenderung pendek, berkulit putih, rupanya menawan, posturnya bagus, berwajah ceria, berjenggot tebal putih, berkumis pendek, beruban bagus bercahaya, pende-ngaran dan penglihatannya normal, giginya utuh lagi bersih, ber-mulut kecil, kuat keinginannya, tinggi cita-citanya, dan senantiasa dalam semangat, bertubuh kurus, berlisan fasih, merdu suaranya, bagus kecerdasannya, besar kecerdikannya, meriwayatkan syair dan sejarah orang-orang yang mendahuluinya dan orang-orang sezamannya.

Ibnu Taghri Bardi mengatakan, Dia –semoga Allah meng-ampuninya– memiliki uban yang bercahaya, ketenangan, keelokan dan kewibawaan, beserta segala yang dimilikinya berupa akal, kesabaran, diam, memimpin dengan hukum, dan mengambil hati manusia. Jarang sekali dia berbicara kepada orang lain dengan sesuatu yang tidak disukainya. Bahkan dia berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepadanya, dan memaafkan orang yang (sebenarnya) sanggup dia balas.

2. PUJIAN ULAMA KEPADA AL-HAFIZH IBNU HAJAR AL-ASQALANI

Al-Hafizh as-Sakhawi mengatakan, Adapun pujian para imam kepadanya, maka ketahuilah bahwa menyebutkannya satu persatu tidak bisa dilakukan, dan ini secara keseluruhan adalah kata kesepakatan. Tetapi aku akan menyebutkan apa yang aku ketahui dari hal itu sesuai kemampuan.

Al-Iraqi mengatakan, Tatkala asy-Syaikh al-Alim al-Kamil al-Fadhil al-Muhaddits al-Mufid al-Mujayyid al-Muttaqin adh-Dhabith, ats-Tsiqah, al-Ma`mun, Syihabuddin Ahmad Abu al-Fadhl bin asy-Syaikh, al-Imam, al-Alim, al-Auhad, al-Marhum Nuruddin… maka dia menghimpun para perawi dan syuyukh (para guru), membedakan antara nasikh dan mansukh, menghimpun yang bersesuaian dan yang berbeda, dan membedakan antara para perawi yang tsiqah dan para perawi yang dhaif. Dia memiliki keistimewaan dengan kesungguhannya yang tiada tara hingga menempuh jalan yang ditempuh ahli hadits, dan meraih ilmu yang melimpah dalam waktu yang singkat.

Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan saat mengemukakan biografi syaikhnya, al-Iraqi, Dia bersaksi untukku dengan hafalan dalam banyak kesempatan. Dia menulis untukku dengan tulisan tangannya mengenai hal itu berkali-kali. Dia ditanya saat menjelang kematiannya tentang para penghafal yang masih tersisa sepening-galnya, maka dia memulai dengan (nama)ku, dan yang keduanya adalah putranya, lalu yang ketiga adalah Syaikh Nuruddin.

Syaikhnya, Burhanuddin Ibrahim al-Abnasi mengatakan, Dia termasuk orang yang telah dilihat oleh mata kebahagiaan, dan iradah telah mendahuluinya sejak azali, asy-Syaikh al-Imam al-Al-lamah al-Muhaddits al-Muttaqin al-Muhaqqiq, Syaikh Syihabuddin Abu al-Fadhl Ahmad bin asy-Syaikh al-Imam al-Alim, tokoh para pengajar, mufti kaum Muslimin, Abu al-Hasan Ali yang masyhur dengan Ibnu Hajar Nuruddin asy-Syafi'i. Ketika dia diberi inayah dengan inayah taufik, dan diberi ri'ayah dengan tahqiq, maka dia mencermati ilmu-ilmu syariat, lalu mengurainya dengan sempurna, menganalisa persoalannya, membuka sebagian besar penutupnya, dan kemauannya yang tertinggi dicurahkan kepada ilmu yang paling mulia dan paling utama, yaitu ilmu hadits.

Syaikhul Qurra`, Syamsuddin bin al-Jazari telah menghadiah-kan karyanya, an-Nasyr fi al-Qira`at al-Asyr, kepada al-Hafizh Ibnu Hajar, dan dia menulis pada jilid pertama darinya, Hadiah dari hamba yang butuh kepada rahmat Allah, Muhammad bin Muham-mad bin Muhammad al-Jazari, pengarangnya –semoga Allah meng-ampuninya– kepada tuan kami Syaikh al-Imam al-Allamah, hafizh zamannya, syaikh Mesirnya, Syihabuddin Abu al-Fadhl Ahmad bin asy-Syaikh al-Imam al-Marhum Nuruddin Abu al-Hasan Ali bin Muhammad al-Asqalani yang dikenal dengan Ibnu Hajar –se-moga Allah memuliakannya–, dan senantiasa memberikan manfaat kepada kaum Muslimin lewat karya-karyanya yang berguna, ke-utamaan-keutamaannya yang banyak, dan hari-harinya yang bahagia.

Al-Hafizh Abu Zur'ah berkata, saat memuji sebagian takhrij Ibnu Hajar, Aku melihat takhrij ini yang tiada bandingannya. Aku melihat ternyata berisikan kebaikan-kebaikan, baik secara global maupun terperinci. Aku mengakui bahwa ini kumpulan yang menghimpun berbagai faidah, lautan yang berisikan hal-hal yang unik, dan aku merasa kagum dengan isi kandungannya, ketika aku mencermati riwayatnya. Bagaimana mungkin tidak memiliki sifat-sifat yang cemerlang ini, sedangkan dia terbit dari seorang yang memiliki berbagai keutamaan yang mencengangkan, asy-Syaikh al-Imam, as-Sayyid al-Hammam yang memiliki sifat-sifat terpuji dan manaqib yang bermacam-macam, Jamal al-Muhadditsin, Mufid ath-Thalibin, Syihabuddin Abu al-Fadhl, –semoga Allah melimpahkan kepada-nya sebagian dari karuniaNya, dan mengumpulkan untuknya antara cabang kebaikan dan pokoknya–.

Al-Hafizh Ibnu Nashiruddin ad-Dimasyqi mengatakan di sebagian korespondennya, Kepada maula dan tuan kami, mentari Islam, hafizh dunia, pembela Sunnah, imam para imam, qadhi qudhah umat, Abu al-Fadhl, –semoga Allah menaungi para makhlukNya dengan naungan kehidupannya, dan tidak mengosongkan kami serta kaum Muslimin dari faidah dan nikmatNya–. Hingga dia mengatakan, Sesungguhnya dia berdiri di samping kalian dengan menjalankan doa dan memuji dengan pujian yang bagus setiap kali kalian menyebutkan yang mulia, dan orang yang berbahagia dengan keberadaan kalian, serta banyak memperhatikan kabar kalian.

Al-Allamah al-Mu`arrikh Ibnu Qadhi Syuhbah mengatakan, Tokoh ulama terkemuka yang masih tersisa, Qadhi al-Qudhah, atau penulis banyak kitab yang dibawa oleh para kafilah. Dia me-nulis juz-juz dan thabaqat dengan tulisannya yang bagus, cemerlang dalam hadits, dan memiliki keistimewaan dalam disiplin ilmu, saat syaikhnya –yakni al-Iraqi– masih hidup. Dia duduk di samping syaikhnya saat mendiktekan, dan mahir dalam berbagai disiplin ilmu, tetapi disiplin hadits lebih mendominasinya, lalu pengeta-huan tentang ilmu ini berpuncak kepadanya, sehingga dia menjadi imam zamannya setelah syaikhnya wafat. Dia bersemangat dalam memberikan manfaat kepada manusia, mengajar, berfatwa, men-duduki jabatan-jabatan besar, dan mengajar di sejumlah tempat di Kairo, serta para penuntut ilmu datang kepadanya dari berbagai penjuru. Kesimpulannya, dia adalah imam zamannya dan hafizh ma-sanya. Dia memiliki kecerdasan dan tabiat yang bersih yang men-cengangkan pandangan mata.

Imam Burhanuddin Ibrahim bin Khidhr mengatakan, Hafizh masanya secara mutlak, dan penutup ulama Sunnah hingga Hari Perjumpaan. Semoga Allah melanggengkan kebaikannya, dan me-melihara jalannya untuk manusia.

Al-Allamah Burhanuddin al-Biqa'i mengatakan, Dia seorang Syaikhul Islam, perhiasan manusia, tokoh para imam terkemuka, cahaya orang-orang yang mendapatkan petunjuk dari para pengi-kut setiap imam, hafizh dan ustadz zamannya, sultan ulama, dan raja fuqaha yang apabila meniti lautan tafsir, maka dia laksana juru bicaranya, dan mendatangkan banyak hal dari keunikan-keunikan-nya. Apabila mengendarai matan hadits, maka dia adalah Ahmad bin Hanbal pada zamannya. Dia menampakkan apa yang tersem-bunyi yang belum pernah dilakukan oleh Abu Hatim dan Ibnu Hibban. Jika berbicara tentang fikih dan ushulnya, maka diketahui bahwa dia adalah asy-Syafi'i. Dia menampakkan kelemahan perawinya selama bertindak lancang yang belum pernah dilakukan oleh ar-Rafi'i. Apabila membicarakan bahasa bangsa Arab dengan aneka macamnya, maka dia seperti Sibawaih dan al-Mubarrid. Jika dia mengemukakan ilmu Arudh, atau sastra Arab dengan berbagai jenis sudutnya, maka dia seperti al-Khalil bin Ahmad. Apabila orang-orang yang memiliki disiplin keilmuan berbicara tentang suatu ilmu, maka dia pemilik kepemimpinannya dan ustadz kri-tikusnya, Abu al-Fadhl Syihabuddin qadhi al-qudhah di negeri Mesir, dan Daulah al-Asyrafiyah, semoga Allah melanggengkan nikmatnya, melanggengkan kebahagiaannya, dan mengukuhkan kemauannya.

Jalaluddin as-Suyuthi mengatakan, Dia seorang yang tiada duanya di zamannya, pembawa panji Sunnah di zamannya, emas zaman ini dan keelokannya, permatanya yang lebih dibanggakan daripada mayoritas dari orang-orang sezamannya, Imam disiplin ilmu ini bagi orang-orang yang meneladaninya, orang yang didahu-lukan dalam laskar ahli hadits, sandaran manusia dalam penilaian dhaif dan shahih, saksi dan hakim paling besar mengenai at-Ta'dil dan at-Tajrih. Keistimewaannya –terutama mengenai Syarh al-Bu-khari– diakui oleh setiap Muslim, dan semua hakim memutuskan bahwa dia adalah pengajar.

Dia memiliki hafalan luas yang apabila aku sifatkan, maka sama saja membicarakan tentang al-Bahr (lautan) Ibnu Hajar, dan itu tidak masalah, dan kritikus yang menyamai Ibnu Ma'in. Tidak ada yang bisa mengalahkannya, dan karya-karyanya tidak bisa diserupakan kecuali dengan perbendaharaan. Karena itu, ada peng-halang yang menghalangi antara kita dengan segala pencarian. Semoga Allah mengindahkan dengannya zaman tersebut dan zaman terakhir, serta menghidupkan dengannya dan syaikhnya tradisi imla` setelah terputus dalam waktu yang lama.

Al-Allamah asy-Syaukani mengatakan, Penghafal besar yang masyhur, imam yang tiada duanya dalam hal pengetahuan tentang hadits dan ilalnya di zaman-zaman belakangan. Hafalan dan ke-sempurnaannya diakui baik oleh orang dekat maupun orang jauh, musuh maupun teman, hingga penyebutan secara muthlaq kata 'al-Hafizh' telah menjadi kata kesepakatan. Para penuntut ilmu me-lakukan perjalanan kepadanya dari berbagai penjuru, dan karya-karyanya telah tersebar di masa hidupnya di berbagai negeri. Para raja saling berkirim surat dari satu negeri ke negeri lainnya mengenai tulisannya, dan ini banyak sekali.

3. PERTUMBUHAN DAN PENCARIAN ILMU YANG DILAKUKAN AL-HAFIZH IBNU HAJAR AL-ASQALANI

Ustadz Abdussattar asy-Syaikh mengatakan, Ibnu Hajar ke-hilangan kedua orang tuanya saat berusia empat tahun. Ayahnya wafat pada bulan Rajab 777 H. dan ibunya wafat sebelum itu saat dia masih kecil. Sebelum wafatnya, ayahnya berwasiat berkenaan dengan anaknya (Ibnu Hajar) kepada seorang pedagang besar, Abu Bakar Muhammad bin Ali bin Ahmad al-Kharubi, agar mengurusi-nya dengan sebaik-baiknya, maka dia menjalankan perintahnya dengan sebaik-baiknya. Ayahnya juga menyampaikan wasiatnya kepada Syaikh Syamsuddin bin al-Qaththan, karena memiliki hu-bungan yang khusus dengannya.

Dia tumbuh sebagai yatim dalam puncak iffah, pemeliharaan dan penjagaan, dalam asuhan az-Zaki al-Kharubi hingga wafat, sedangkan dia menjelang baligh, yang tidak mengenal kekanak-kanakan dan tidak pula jatuh dalam kesalahan.

Az-Zaki al-Kharubi tidak melalaikan kesungguhannya dalam memeliharanya dan memperhatikan pendidikannya. Dia memba-wanya bersamanya saat bermukim di Makkah, dan memasukkan-nya ke al-Maktab (sekolah anak-anak) setelah usianya genap lima tahun.

Gurunya di Maktab, di antaranya ialah Syamsuddin bin al-Allaf –yang pernah menjabat wilayah hisbah Mesir dalam satu masa– dan Syamsuddin al-Athrusy, tetapi dia tidak menyempurnakan hafalan al-Qur`an kecuali di hadapan seorang faqih dan pendidik-nya, al-Faqih Syârih (pensyarah) Mukhtashar at-Tibrizi, Shadruddin Muhammad bin Muhammad bin Abdurrazzaq as-Safthi al-Muqri`. Dia menyempurnakan hafalannya saat dia berusia sembilan tahun.

Ketika usianya telah genap 12 tahun, dia mengimami orang-orang dalam shalat Tarawih menurut kebiasaan yang berlaku di Masjidil Haram pada 785 H. Ketika itu pengasuhnya selaku pene-rima wasiat (al-Kharubi) melaksanakan haji pada 784 H. dengan mengajak Ibnu Hajar. Kemudian dia kembali bersama pengasuh-nya, al-Kharubi ke Mesir dan sampai di sana pada 786 H. Sesam-painya di sana, dia memulai kesibukan dan bersungguh-sungguh, dengan menghafal kitab-kitab ringkasan ilmu, seperti Umdah al-Aham, al-Hawi ash-Shaghir karya al-Qazwaini, Mukhtashar Ibnu al-Hajib fi al-Ushul, Mulhah al-I'rab karya al-Hariri, Minhaj al-Wushul karya al-Baidhawi, Alfiyah al-Hadits karya al-Iraqi, Alfiyyah Ibnu Malik mengenai Nahwu, at-Tanbih mengenai furu' dalam madzhab asy-Syafi'iyyah karya asy-Syirazi dan selainnya.

Dr. Hamid Abdul Majid mengatakan, Allah telah menjadi-kannya mencintai hadits, lalu merasa lahap dengannya, bersema-ngat padanya, mewakafkan hidupnya untuk mempelajarinya, dan memperbanyak perjalanan untuk mencarinya. Meskipun dia telah mendengar banyak hadits sebelumnya, tapi dia tidak memperhati-kan secara khusus dalam mencarinya dan memfokuskan padanya secara total kecuali setelah 796 H. Karena sebagaimana dia menulis dengan tangannya, dia juga membuka hijab, membuka pintu, berte-kad kuat untuk meraih hasil, dan diberi hidayah kepada jalan yang lurus.

Karena itulah, dia berkeliling mencari para guru, berkeliling di berbagai negeri dan memperbanyak penyimakan, serta menukil banyak hal dari buku-buku besar bersama dua guru besar, yaitu al-Hafizh Zainuddin Abdurrahim bin al-Husain al-Iraqi dan Syaikh Nuruddin al-Haitsami. Al-Hafizh al-Iraqi adalah seorang yang masyhur dengan fikih dan orang yang paling hafal madzhab asy-Syafi'i, terutama nash-nashnya, di samping memiliki pengetahuan yang sempurna tentang tafsir, hadits dan bahasa Arab. Ibnu Hajar berkumpul bersama al-Hafizh al-Iraqi pada bulan Ramadhan 796 H, lalu menyertainya selama sepuluh tahun, yang diselingi sejumlah perjalanan Ibnu Hajar ke Syam dan selainnya. Pada Syaikh inilah Ibnu Hajar al-Asqalani lulus, dan dialah orang yang pertama kali mengizinkannya untuk mengajar ilmu-ilmu hadits, menggelarinya dengan al-Hafizh, sangat memuliakannya, dan meninggikan namanya.

Adapun ustadznya yang kedua, yaitu Nuruddin al-Haitsami, dan dia hidup selama setahun atau hampir setahun setelah kema-tian az-Zain al-Iraqi. Al-Hafizh mengatakan, Di antara yang aku baca di hadapannya secara tersendiri sekitar separuh dari Majma' az-Zawa`id dan sekitar seperempat dari Zawa`id Musnad Ahmad. Dia sangat mengasihiku, dan mengakui keunggulanku mengenai disiplin ilmu ini –semoga Allah membalasnya dengan kebajikan atas jasanya terhadapku–. Ketika salah seorang gurunya melihat-nya, yaitu Imam Muhibbuddin Muhammad bin Yahya bin al-Wah-dawaih, ternyata dia melihatnya sebagai orang yang sangat ber-keinginan keras untuk mendengarkan hadits dan menulisnya. Maka dia menasihatinya agar menaruh perhatian terhadap fikih sebagaimana perhatiannya terhadap hadits, karena manusia akan membutuhkan kepadanya berkenaan dengan ilmu ini.

Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, Dia mengatakan kepada-ku, 'Palingkanlah sebagian kemauan ini kepada fikih, karena aku melihat, melalui firasat, bahwa para ulama negeri ini akan punah, dan mereka akan membutuhkan kepadamu. Karena itu, janganlah engkau membatasi dirimu.' Ternyata kata-katanya bermanfaat untukku, dan aku terus-menerus mendoakan, semoga dia men-dapatkan rahmat karena sebab itu.

4. IBADAH AL-HAFIZH IBNU HAJAR AL-ASQALANI

Ustadz Abdussattar asy-Syaikh mengatakan, Sifat-sifat unik dan sifat-sifat terpuji tersebut diperindah dengan ketekunannya beribadah hingga menjadi contoh yang diteladani. Sungguh dia adalah orang yang suka mengerjakan Qiyamul Lail, bertahajjud, hingga saat dalam perjalanannya dan saat sakit keras menimpanya, hingga dia tidak mampu melakukan hal itu secara total. Dia tidak pernah meninggalkan shalat Jum'at dan shalat berjamaah kecuali dalam keadaan terpaksa. Banyak berpuasa, dan berkeinginan keras untuk tidak mengosongkan waktunya dari ibadah. Hal itu disaksi-kan oleh Qadhi al-Qudhah al-Hanafiyyah, Abu al-Fadhl Ibnu asy-Syahnah, dan dia mengatakan, 'Aku menemaninya di sebagian perjalanannya, ternyata aku melihatnya melakukan Qiyamul Lail'.

Dia memperbanyak haji ke Baitullah al-Haram. Dia datang ke Hijaz –saat masih kecil bersama ayahnya– dan bermukim di sana. Demikian pula -saat masih kanak-kanak- dia diajak oleh pengasuhnya (yang diberi wasiat oleh ayahnya), az-Zaki al-Kharubi, dan bermukim sementara di Makkah pada 784 H. Pada 800 H, dia melakukan haji dengan haji Islam, sebagaimana berhaji pada 805 H. dan saat itu wukuf bertepatan pada hari Jum'at. Dia bermukim pada sebagian tahun 806 H. Kemudian dia mendapatkan kesempatan untuk melakukan perjalanan ke negeri Muqaddasah (Baitul Maqdis) pada 815 H., lalu berhaji juga. Akhir haji yang dilakukannya adalah pada 824 H. bersama saudara iparnya, Muhibbuddin bin al-Asyqar, dan kerabatnya, az-Zain Sya'ban. Saat itu wukufnya Hari Jum'at juga. Pada kali ini dia bermukim di Madrasah al-Afdhaliyah, yang menempatkannya di sana adalah Qadhi Makkah, al-Muhibb bin Zhahirah.

Dia banyak berdzikir, bertasbih dan beristighfar. As-Sakhawi meriwayatkan dengan menyatakan, Suatu kali dia dan iparnya, al-Qadhi Muhibbuddin bin al-Asyqar pernah menuju ke Samasim di Khanqah, lalu dia mengeluarkan mushaf kecil dari sakunya, dan mulai membaca padanya. Apabila dia duduk bersama jamaah setelah Isya dan selainnya untuk mudzakarah, maka sabhah (alat penghitung tasbih) berada di dalam lengannya, di mana tidak ada seorang pun yang melihatnya. Dia terus memutarnya dalam ke-adaan bertasbih atau berdzikir di mayoritas waktunya. Hal itu diungkapkan oleh al-Allamah Abdussalam bin Ahmad al-Baghdadi, lewat pernyataannya, Wahai orang yang shalat di malam hari, menghidupkannya dengan tunduk Dengan dzikir dan bacaan Qur`an, shalat dan bersikap khusyu' Dia mengatakan, Penghidup Sunnah, asy-Syihab, ketika Sunnah dimatikan Menghabiskan malam dengan tasbih dan wirid Al-Qur`an adalah pelipurnya di malam harinya, dan teman-nya dalam kesendiriannya. Dia membacanya sementara air matanya mengalir, karena dia mengetahui kandungan makna kata-katanya, dan mengetahui kandungan ayatnya berupa pelajaran dan larangan. Karena itu, dia takut kepada Allah dengan sebenar-benarnya takut, Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. (Fathir: 28). Sungguh an-Nawaji berbuat baik saat menyifati Sang Imam dengan perkataannya, Ketika kegelapan meliputinya Dia memiliki mata yang menangis dan air mata yang mengalir Yang paling lezat ialah Kalam KhaliqNya yang dibacakan kepadanya Dan yang paling berselera baginya ialah Mushaf

5. SIKAP WARA' DAN KEHATI-HATIAN AL-HAFIZH IBNU HAJAR AL-ASQALANI DALAM MAKAN

Dr. Muhammad Kamal Izzuddin mengatakan, Ibnu Hajar berusaha dengan segala kemampuannya untuk tidak makan suatu yang haram, atau yang mengandung syubhat haram. Karena itu, dia berhati-hati dalam berbagai tugasnya pada sesuatu yang lebih dekat kepada kehalalan agar dia makan dari rambu-rambu aturan-nya. Bahkan dia membedakan rambu-rambu aturannya itu satu sama lain dengan isyarat lewat satu titik, atau dua titik, dan sebagainya.

Dia tidak makan sedikit pun dari apa yang dihadiahkan ke rumahnya. Jika dia terpaksa menghadiri walimah (pesta), acara penting dan sebagainya, yang biasanya penyelenggaranya tidak berhati-hati, maka dia memberikan kesan bahwa dia makan. Terkadang dia diberi ini dan itu oleh orang-orang yang duduk di atas gelaran, yaitu para pengikut dan semisal mereka, dari sesuatu yang ada di hadapannya, yang membuat orang yang punya kepentingan itu biasanya gembira. Adapun dia sendiri sebenarnya tidak memasukkan sedikit pun dari makanan tersebut ke dalam perutnya sama sekali. Sumber-sumber mengisyaratkan bahwa Sultan telah membe-rikan kepadanya jatah makanan saat dalam perjalanan ke wilayah utara, dan saat bermukim di Halb, berupa daging yang diberikan kepadanya setiap hari, namun dia tidak memakannya tetapi mem-beli selainnya hingga hartanya habis di sana, lalu saat itu dia mem-buat Buqsumath (semacam roti panggang makanan Iran) yang dia makan dengan gula dan semacamnya. Sementara orang-orang yang bersamanya makan daging yang diberikan kepadanya sebagai hidangan makan perjalanan seperti yang dimakan Sultan.

Demikian pula dia berhati-hati dari memberikan khutbah tertentu di benteng pada masa-masa sebagai qadhi, disebabkan lemahnya posisi kedudukannya.

Dia memberikan kepada pelayannya untuk membeli suatu makanan untuknya, sembari berpesan agar tidak membebani pen-jual lebih daripada apa yang dia berikan dengan kerelaan hatinya. Di samping itu, dia bertanya kepadanya tentang sumber makanan-nya. Jika dia lupa bertanya, dan merasa enak makan darinya, karena menduga bahwa itu sudah menjadi kebiasaan yang berlaku, maka Allah memasukkan ke dalam lintasan pikirannya sebelum selesai makannya. Jika diutarakan kepadanya tentang asal makanan yang tidak boleh dimakan, maka dia minta sebuah bejana seraya menga-takan, 'Aku akan melakukan sebagaimana yang dilakukan Abu Bakar.' Kemudian dia memuntahkan apa yang ada dalam perut-nya.

6. KEMURAHAN DAN KEDERMAWANAN AL-HAFIZH IBNU HAJAR AL-ASQALANI

Dr. Muhammad Kamal Izzuddin mengatakan, Adapun bak-tinya dan bersedekahnya kepada para hamba Allah –dengan strata mereka yang berbeda-beda– maka terdapat riwayat dan kisah yang bermacam-macam, yang kesimpulannya bahwa dia banyak berbuat kebaikan lagi gemar bersedekah.

Di antaranya, dia memberikan kepada sebagian jamaahnya harta yang banyak untuk melapangkannya dalam menuntut ilmu dan semisalnya. Dia juga memberikan kepada jamaah lainnya. Demikian pula orang-orang fakir biasa berkumpul di depan rumah-nya pada hari tertentu dalam setiap tahunnya, lalu dia biasanya membagi-bagikan sendiri kepada mereka, atau orang lain membagi-bagikan kepada mereka di hadapannya. Dia juga mencari orang-orang yang diperhitungkan dalam ilmu dan selain mereka, dengan mengutus seseorang ke tempat mereka. Dia juga sering mencari tahu tentang orang-orang yang dipenjarakan, dan menebus mereka dari hartanya. Dia berbuat baik kepada para tetangga yang fakir. Saat bulan Ramadhan, dia membeli madu dan gula guna dibagi-bagikan kepada orang banyak untuk melapangkan nafkah bulan itu.

Pada hari raya Idul Fitri, dia membeli kismis dan selainnya. Pada hari raya Idul Adha, dia memberikan binatang kurban kepada kaum fakir dan orang-orang yang membutuhkan, atau membagi-bagikan kepada mereka harta yang setara dengan seratus dinar. Dia sangat merahasiakan semua itu agar mendapatkan keutamaan sedekah secara sembunyi-sembunyi.

Penulis Taghliq at-Ta'liq mengatakan, Taqiyyuddin al-Maqrizi menyebutkan bahwa dia melihatnya –saat masih kecil– memberi-kan seseorang sebanyak 200 dirham perak sekaligus.

7. KEJUJURAN HATI DAN KEIKHLASAN NIAT AL-HAFIZH IBNU HAJAR AL-ASQALANI, DAN HAL-HAL YANG TERJADI SECARA KEBE-TULAN

Ustadz Abdussattar asy-Syaikh mengatakan, Tidak meng-herankan bila tingkah laku Alim Rabbani baik lagi bersih, dan niatnya jujur lagi ikhlas karena Rabbnya. Batin dan zahir serupa, maka menghasilkan sosok orang yang langka. Jarang sekali zaman menjumpai orang semisalnya.

As-Sakhawi mengatakan, Secara kebetulan bahwa dia datang untuk membaca di hadapan al-Jamal al-Halawi tentang Musnad Ahmad –sebagaimana kebiasaannya– lalu dia mendapatinya sedang sakit, maka dia dan jamaah datang untuk menjenguknya. Kemudian Syaikh mengizinkannya membaca, lalu dia segera membaca. Saat itulah dia melewati hadits Abu Sa'id al-Khudri tentang ruqyah Jibril. Syaikh kami mengatakan, 'Aku pun meletakkan tanganku padanya pada saat membaca, dan aku berniat meruqyahnya, ternyata dia sembuh hingga datang kepada jamaah pada waktu pertemuan yang kedua dalam keadaan sembuh'.

As-Sakhawi mengatakan, Dia memiliki kesesuaian-kesesuaian yang mendekati kemiripan dengan hal tersebut, di antaranya bahwa dia menulis hadits Mu'awiyah bin Abu Qurrah, dari Anas,

أَنَّ رَجُلًا أَتَى النَّبِيَّ a فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ، أُرْسِلُ نَاقَتِيْ وَأَتَوَكَّلُ أَوْ أَعْقِلُهَا وَأَتَوَكَّلُ؟ قَالَ: اِعْقِلْهَا وَتَوَكَّلْ.

'Bahwa seseorang datang kepada Nabi lalu mengatakan, 'Wahai Rasulullah, aku melepaskan untaku dan aku bertawakal (pada Allah), ataukah aku mengikatnya dan bertawakal?' Beliau menjawab, 'Ikat-lah dan bertawakallah.' [HR. at-Tirmidzi, no. 2441].

Kebetulan bahwa budaknya datang meminta izin untuk mening-galkan sesuatu disebabkan kebutuhan pemilik biografi tersebut (yakni as-Sakhawi, Ed. T.) keluar rumah. Syaikh kami mengatakan, 'Maka aku katakan kepadanya, 'Ikatlah dan bertawakallah'.

Pada suatu malam, tanggal 12 Jumadil Ulama 844 H, dia ter-lihat berada di dekat bangunan istana milik al-Bakharzi. Disebutkan dalam biografi al-Muzhaffar bin Ali bahwa dia memiliki bait-bait ini mengenai ritsa`, yaitu,
Zaman telah memberikan musibah kepadaku sedangkan aku tidak memiliki kesalahan
Ya, ujiannya menimpa orang yang paling mulia
Yang paling menyedihkanku adalah tindakannya
Yaitu wafatnya Abu Yusuf al-Hanbali
Pelita ilmu tetapi tidak terlihat
Pakaian indah tetapi rusak
Syaikh kami mengatakan, Aku pun kagum disebabkan hal tersebut, dan terlintas dalam jiwaku bahwa Qadhi al-Hanabilah al-Muhibb Ahmad bin Nashrullah al-Baghdadi akan meninggal setelah tiga hari sesuai jumlah bait tersebut karena demam, dan ternyata demikian.

8. GURU DAN MURID AL-HAFIZH IBNU HAJAR AL-ASQALANI

Gurunya: Al-Hafizh as-Sakhawi mengatakan, Dia memiliki para syaikh yang dimintai saran dan dimintai pendapat mereka untuk meme-cahkan problem mereka, yang belum pernah dimiliki oleh seorang pun dari penduduk zamannya. Masing-masing dari mereka me-miliki kedalaman ilmu dan pemuka dalam disiplin ilmu yang dia menjadi masyhur dengannya, tidak ada yang menandinginya.

Al-Bulqini terkenal dengan keluasan hafalan dan banyak menelaah. Ibnu al-Mulaqqin masyhur dengan banyak tulisannya. Al-Iraqi masyhur dengan pengetahuan ilmu hadits dan hal-hal yang bertalian dengannya. Al-Haitsami terkenal dengan hafalan matan hadits dan mengemukakannya. Al-Majdu asy-Syirazi memiliki hafalan dan penguasaan bahasa. Al-Ghumari terkenal dengan pengetahuan bahasa Arab dan hal-hal yang bertalian dengannya. Demikian pula al-Muhibb bin Hisyam memiliki pengetahuan yang baik tentangnya karena kecerdasannya yang melimpah, sedangkan al-Ghumari unggul dalam hafalannya. Al-Abnasi dikenal dengan pengajarannya yang bagus dan pemahamannya yang baik. Al-Izz bin Jama'ah terkenal dengan penguasaannya dalam berbagai ilmu, di mana dia mengatakan, 'Aku membaca 15 ilmu yang mana ulama zamanku tidak mengetahui namanya.' At-Tanukhi masyhur dengan pengetahuan tentang qira`at dan ketinggian sanadnya mengenainya.

Kendati demikian, mereka sangat memuliakan orang yang dikemukakan biografinya ini (yaitu Ibnu Hajar), menghormatinya, dan berhati-hati dari berbicara kepadanya dengan tanpa penghor-matan. Bahkan terkadang mereka merujuk kepadanya untuk mem-berikan pemahaman. Muridnya:
1. Al-Hafizh as-Sakhawi, dan dia adalah Muhammad bin Abdurrahman bin Muhammad bin Abu Bakar, dan dia adalah se-jarawan, hujjah, allamah (orang yang sangat berilmu) tentang hadits dan rijalnya, tafsir, fikih, bahasa, adab, dan berpuncak padanya ilmu al-Jarh wa at-Ta'dil.
2. Burhanuddin al-Biqa'i, penulis Nazhm ad-Durar fi Tanasub al-Ayi wa as-Suwar.
3. Zakaria al-Anshari, dan dia adalah Zakaria bin Muhammad bin Ahmad bin Zakaria al-Anshari.
4. Ibnu al-Haidhari, dan dia adalah Muhammad bin Muham-mad bin Abdullah bin Haidhar.
5. At-Taqi bin Fahd al-Makki.
6. Al-Kamal bin al-Hammam al-Hanafi.
7. Qasim bin Quthlubugha.
8. Ibnu Taghri Bardi, penulis al-Minhal ash-Shafi.
9. Ibnu Qazni.
10. Abu al-Fadhl bin asy-Syihnah.
11. Al-Muhibb al-Bakri.
12. Ibnu ash-Shairafi.

9. SYAIR-SYAIR AL-HAFIZH IBNU HAJAR AL-ASQALANI YANG BERHARGA

Di antara syairnya yang lembut, ialah perkataannya, Aku rindu kepada kalian sebagaimana rindunya orang sakit kepada kesembuhan
Sedangkan negeri kalian menjauhi dalam setiap hari Aku ingin berkeliling kepada bayang-bayang kalian, sekiranya da-tang kepadaku
Tetapi mataku tidak senang dengan kesedihan
Tatkala Qadhi al-Hanabilah, al-Muhibb bin Nashrullah men-dengarnya, dia bersenandung untuk dirinya,
Kerinduanku kepada kalian tidak terperbaharui sedangkan kalian
Ada dalam hati, tetapi para tokohlah yang harus berkeliling
Karena tubuh dari kalian berkembang setiap hari Sementara hati berkeliling di sekitar tempat penjagaan kalian
Di antara syairnya, setelah melakukan perjalanan dari Halab, dan dia telah menikah dengan seorang wanita yang biasa dipang-gil Laila, lalu dia berpisah dengannya ketika hendak melakukan perjalanan, karena tidak memungkinkan bisa pergi bersamanya:
Aku pergi dengan meninggalkan kekasih di rumahnya Karena betapapun aku tidak cenderung kepada selainnya Aku menyibukkan diriku dengan hadits sebagai obat pada siang harinya
Tetapi malamku senantiasa teringat kepada Laila

10. KARYA-KARYA TULIS AL-HAFIZH IBNU HAJAR AL-ASQALANI

Muhaddits Makkah, Taqiyyuddin Muhammad bin Fahd mengatakan, Dia menulis karya-karya tulis yang berguna, enak, agung, terus berjalan, membuktikan segala keutamaan yang di-milikinya, menunjukkan faidahnya yang melimpah, dan menun-jukkan niatnya yang baik. Dia menghimpun di dalamnya lalu memahamkannya, dan mengungguli rekan-rekannya, baik jenis maupun macamnya, yang enak didengar telinga, dan kesempur-naannya disepakati semua lisan. Karena hal itulah dia mendapat-kan keberuntungan besar yang tidak bisa disifati dengan kata-kata, dan para kafilah membawanya berjalan sebagaimana perjalanan matahari.
Al-Hafizh as-Sakhawi menukil dari Syaikhnya, orang yang dikemukakan biografinya, bahwa dia mengatakan, Aku tidak puas sedikit pun dari tulisan-tulisanku, karena aku melakukannya di permulaan urusan, kemudian tidak ada orang yang bersedia mengeditnya bersamaku, kecuali Syarah al-Bukhari dan mukadimah-nya, al-Musytabih, at-Tahdzib dan Lisan al-Mizan. Bahkan dia me-ngatakan mengenainya, Seandainya aku bisa memutar waktuku yang telah berlalu, niscaya aku tidak terikat dengan adz-Dzahabi, dan niscaya aku menjadikannya sebagai kitab baru yang orisinal. Karya-karya tersebut di antaranya:
1. Ithaf al-Maharah bi Athraf al-'Asyrah, yang terdiri dari dela-pan jilid. Di dalamnya, dia menghimpun penggalan dari sepuluh kitab, yaitu al-Muwaththa`, Musnad asy-Syafi'i, Musnad Ahmad, Musnad ad-Darimi, Shahih Ibnu Khuzaimah, Muntaqa Ibni Jarud, Shahih Ibni Hibban, Mustadrak al-Hakim, Mustakhraj Abi Awanah, Syarh Ma'ani al-Atsar karya ath-Thahawi, dan Sunan ad-Daruquthni. Dia hanyalah melebihkan satu dari jumlah itu, karena Shahih Ibni Khu-zaimah tidak terdapat padanya kecuali seperempatnya.

2. An-Nukat azh-Zhiraf ala al-Athraf, dan ini dicetak pada hamisy (tulisan pinggir) Tuhfah al-Asyraf, karya al-Mizzi.
3. Ta'rif Ahl at-Taqdis Bimaratib al-Maushufina bi at-Tadlis (Tha-baqat al-Mudallisin).
4. Taghliq at-Ta'liq.
5. At-Tamyiz fi Takhrij Ahadits Syarh al-Wajiz (at-Talkhish al-Habir).
6. Ad-Dirayah fi Takhrij Ahadits al-Hidayah, yang dia ringkas dari kitab Nashb ar-Rayah fi Takhrij Ahadits al-Hidayah karya al-Hafizh az-Zaila'i).
7. Fath al-Bari Bisyarh Shahih al-Bukhari. Ini adalah syarah al-Bukhari yang terbesar secara mutlak, dan karya al-Hafizh yang terbesar.
8. Al-Qaul al-Musaddad fi adz-Dzabb an Musnad al-Imam Ahmad. Di dalamnya, dia membicarakan hadits-hadits yang disangka sebagian ahli hadits bahwa itu adalah hadits maudhu'. Ini terdapat dalam Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal.
9. Al-Kafi asy-Syafi fi Takhrij Ahadits al-Kasysyaf, dan ini adalah ringkasan dari takhrij az-Zaila'i atas hadits-hadits al-Kasysyaf karya az-Zamakhsyari.
10. Mukhtashar at-Targhib wa at-Tarhib, dia meringkas padanya kitab karya al-Mundziri seukuran seperempat dari asalnya, dan memilih yang lebih kuat sanadnya dan lebih shahih matannya.
11. Al-Mathalib al-'Aliyah Bizawa`id al-Masanid ats-Tsamaniyah. Di dalamnya, dia mengemukakan hadits dari delapan Musnad secara sempurna, yaitu: Musnad al-Humaidi, ath-Thayalisi, Ibnu Abi Umar, Musaddad, Ibnu Mani', Ibnu Abi Syaibah, Abd bin Humaid, dan al-Harits bin Abu Usamah. Di samping delapan Musnad itu, dia menambahkan Musnad Abi Ya'la, dengan riwayat-nya yang panjang, dan Musnad Ishaq bin Rahawaih, yaitu separuh-nya yang bisa ditemukannya. Kemudian dia mengeluarkan dari tiap-tiap hadits menurut bab-bab hukum fikih yang berbeda dengan susunan musnad yang dijadikan sebagai sandaran.
12. Nukhbah al-Fikr fi Mushthalah Ahl al-Atsar, ringkasan dari Ulum al-Hadits karya Ibnu ash-Shalah. Dia juga menambah beberapa hal yang tidak disebutkan oleh Ibnu ash-Shalah.
13. Nuzhah an-Nazhar fi Taudhih Nukhbah al-Fikr, dan ini adalah syarah dari kitabnya yang disebutkan sebelumnya.
14. An-Nukat 'ala Ulum al-Hadits karya Ibnu ash-Shalah.
15. Hadyu as-Sari Muqaddimah Fath al-Bari.
16. Tabshir al-Muntabih Bitahrir al-Musytabih.
17. Ta'jil al-Manfa'ah Bizawa`id Rijal al-A`immah al-Arba'ah.
18. Taqrib at-Tahdzib, yang diringkasnya dari kitab Tahdzib at-Tahdzib. Dalam kitab ini, dia menyebutkan para perawi dari karya-karya para penulis enam kitab.
19. Tahdzib at-Tahdzib, dan ini adalah tahdzib (perbaikan) dari Tahdzib al-Kamal fi Asma` ar-Rijal, sedangkan kitab al-Kamal fi Asma` ar-Rijal adalah karya al-Hafizh Abdul Ghani al-Maqdisi, yang dipilih oleh al-Mizzi dalam kitabnya, Tahdzib al-Kamal.
20. Lisan al-Mizan; dan Mizan al-I'tidal karya al-Hafizh adz-Dzahabi adalah kitab paling lengkap yang ditulis mengenai nama-nama para perawi yang dinilai tercela (Majruhin). Al-Hafizh al-Iraqi telah memberikan catatan kaki padanya, kemudian datang al-Hafizh Ibnu Hajar lalu memetik dari kitab Mizan al-I'tidal orang-orang yang tidak disebutkan dalam Tahdzib al-Kamal, dan menggabung-kan kepadanya para perawi yang luput disebutkan dan biografi tersendiri disertai pemilihan dan tahqiq.
21. Al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah.
22. Inba` al-Ghamr bi Abna` al-Umr. Dalam buku ini, dia menye-butkan peristiwa yang berlangsung dalam setiap tahun, kemudian dimasukkan pula kewafatan yang terjadi pada tahun itu, sembari mengemukakan biografi para tokoh di antara mereka, yang dimulai dari 773 H. hingga 850 H.
23. Ad-Durar al-Kaminah fi A'yan al-Mi`ah ats-Tsaminah. Dalam buku ini, dia mengemukakan biografi tiap-tiap golongan, yaitu para sultan, raja, khalifah, umara, ulama, fuqaha, penyair, dan selain mereka.
24. Raf' al-Ishr an Qudhah al-Mishr. Dalam buku ini, dia menge-mukakan biografi para qadhi Mesir sejak penaklukan Islam hingga akhir abad kedelapan.
25. Bulugh al-Maram min Adillah al-Ahkam.
26. Quwwah al-Hujjaj fi Umum al-Maghfirah li al-Hujjaj.

11. WAFAT AL-HAFIZH IBNU HAJAR AL-ASQALANI DAN ORANG-ORANG YANG MEMUJINYA DENGAN SYAIR RITSA`
Al-Hafizh Ibnu Hajar mengisolasi diri di rumahnya setelah mengundurkan diri dari jabatan Qadhi al-Qudhah pada tanggal 25 Jumadil Akhir 852 H. Dia masih terus mengarang dan menghadiri majelis dikte hingga mulai jatuh sakit pada bulan Dzulqa'dah tahun tersebut. Apabila dia diberi kabar tentang mimpi-mimpi dan seru-panya yang menunjukkan kesehatannya, maka dia mengatakan, Adapun aku, maka aku tidak melihat diriku kecuali dalam keadaan terus berkurang, dan aku tidak menduga melainkan ajal sudah dekat. Kemudian dia bersenandung,
Tsa` Tsalatsin dariku telah melemahkan badanku Maka bagaimana keadaanku dengan tsa` Tsamanin Dia mengatakan, Ya Allah, bila Engkau menghalangi afiyat-Mu dariku, maka janganlah Engkau menghalangi ampunanMu dariku.
Pada malam Sabtu permulaan 28 Dzulhijjah, dua jam setelah Shalat Isya, sementara cucunya dan sebagian sahabatnya telah duduk di sekelilingnya, mereka membaca surat Yasin sekali dan mengulanginya kembali. Ketika mereka telah sampai pada Firman-Nya,
(Kepada mereka dikatakan), 'Salam', sebagai ucapan selamat dari Rabb Yang Maha Penyayang. (Yasin: 58), ruhnya kembali kepada Rabbnya. Salah satu dari mereka memejam-kan matanya, sebagaimana putranya –pada hari berikutnya– me-nyiapkan jenazahnya dan memandikannya. Musibah ini dirasakan sangat besar, dan orang-orang menangisinya serta bersedih atas kematiannya, termasuk Ahl adz-Dzimmah (non Muslim dalam per-lindungan kaum Muslimin). Pasar-pasar dan toko-toko ditutup.
Jenazahnya disaksikan. Belum pernah ada, setelah jenazah Ibnu Taimiyah, yang lebih ramai disaksikan daripadanya. Sampai-sampai as-Sakhawi mengatakan, Orang-orang berkumpul untuk melayat jenazahnya, tidak ada yang bisa menghitung jumlah mereka kecuali Allah, sehingga aku menyangka tidak ada seorang pun yang ter-tinggal dari menyaksikannya. Pasar-pasar dan toko-toko ditutup.
Para tokoh maju untuk memikul kerandanya. Di antara orang yang memikulnya, ialah Sultan dan selainnya, yaitu para pemimpin dan ulama. Orang yang kuat berusaha keras bisa mencapai keran-danya, untuk menyentuh keranda tersebut dengan ujung jarinya.
Al-Biqa'i mengatakan, Para pemimpin masyarakat berjalan kaki dari rumahnya memasuki pintu jembatan menuju Qarafah, tempat di mana dia dikuburkan. Sultan azh-Zhahir Jaqmaq datang untuk menshalatinya. Khalifah al-Mustakfi Billah Abu ar-Rabi' Sulaiman, para qadhi, ulama, umara, tokoh, bahkan mayoritas manusia, berjalan kaki untuk melayat jenazahnya. Sampai-sampai dituturkan dari sebagian kaum cendekia bahwa yang menghadiri jenazah lebih dari 50.000 orang. Hari kematiannya itu adalah hari yang sangat berat bagi kaum Muslimin hingga bagi Ahli Dzimmah.
Ketika jenazah telah sampai di tempat penshalatan, langit menghujani kerandanya –padahal saat itu bukan musim hujan–, sebagaimana yang diriwayatkan as-Suyuthi. Dia mengatakan, asy-Syihab al-Manshuri, penyair masa ini, menuturkan kepadaku bahwa dia menghadiri jenazahnya, lalu langit menurunkan hujan pada kerandanya saat sudah dekat di tempat penshalatan, padahal saat itu bukanlah musim hujan. Aku pun menyenandungkan syair pada waktu itu, Awan telah menangisi Qadhi al-Qudhah dengan hujan Dan hancurlah pilar Yang terbuat dari batu Amirul Mukminin, Khalifah Abbasi, mengisyaratkan supaya ada yang maju untuk menshalatkannya, maka al-Alam al-Bulqini menshalatkannya dengan izin Khalifah di Mushalla al-Mu`mini di Ramilah, di luar kota Kairo. Kemudian kerandanya dibawa ke al-Qarafah ash-Shughra, di mana dia dimakamkan di tanah Bani al-Kharrubi yang berhadapan dengan Jami' ad-Dailami yang terletak di antara tanah Imam asy-Syafi'i dengan Syaikh Muslim as-Sulami.
Syaikh Syihabuddin al-Manshuri telah memujinya dengan qasidah Ritsa`, di antaranya, Ilmu menangisimu hingga Nahwu sepeninggalmu Berbantah-bantahan dengan Tashrif Al-Badi' menjadi tanpa Bayan Dan makna-maknanya yang mahal telah dipinjam Pelajaran-pelajaran ilmu telah terkikis karena kesedihan Dan jawaban tersesat dari pertanyaannya Pengetahuan-pengetahuan menjauh dari pandanganku Dan daya pilihku berada dalam kondisi yang buruk Tidak ada yang bisa menggantikan Selain melahirkan sakit dan deritaku Betapa banyak kematian menimpa orang-orang mulia Dan kematian datang dengan tanpa peperangan Duhai kubur yang dimasukkan di dalamnya orang baik Sungguh engkau mendapatkan orang yang bagus beserta kebagusan Semoga Allah memberimu minum mata air Salsabila Dan memberikan naungan yang teduh padamu.

Sumber : Biografi 60 Ulama Ahlussunnah

penulis Syaikh Ahmad Farid

penerbit Darulhaq

harga Rp 135.000,-

| Index | Hits: 2650
 BERDAKWAH SAMBIL BERINFAQ
  
  
 Info Pameran
  

  
 Toko Buku Online
  

  
 download
  Resensi Buku

katalog Juni 2014

kataloq warna


Qurban & Aqiqah Minhajul Muslim


Turunnya Isa bin Maryan


Keutamaan Tauhid (Kitab Fathul Majid)


Biografi Ibnul Arobi



  
       Pondok Gede, Bekasi 17411, Telp. 021-84999585, Fax. 021-84999530, layanan SMS : 081281200902