Depan |Katalog Situs | Forum | Rekomendasi | Distributor | Tentang Kami
Statistik
Total : 2085004 hits
Online : 5 users
 Kategori Buku
 Tentang Kami
 Distributor
  Retail
Kota-Kota

  
 Masalah-masalah Penting & Masyhur
  Tsaqafah & Sirah
Aqidah, Fiqih, Hadits, Tafsir, dll

  
 Login
  
Login:
Pass:
Register?
  
Kategori: Sebagian Isi Buku-buku Terbitan Darul Haq
 

Umar bin Abdul Aziz
( Lahir: 61 H. - Wafat: 101 H. )

Inilah biografi kelima dari serial penuh berkah ini, para tokoh Salaf, biografi khalifah yang zuhud, imam, ahli ibadah, Umar bin Abdul Aziz. Seandainya kita bersikap obyektif, niscaya dia menjadi pembuka biografi ini, karena dia lebih utama dalam pujian daripada orang-orang yang sebelumnya, dan karena memiliki kelebihan dalam keutamaan dan kemuliaan. Dialah pembaharu pertama bagi pemuda Islam di penghujung seratus tahun pertama, orang yang paling harum perjalanan hidupnya, dan paling harum batinnya. Dunia datang kepadanya dengan pasukan berkendara dan berjalan kaki. Dia memenuhi bumi dengan keadilan, setelah (sebelumnya) dunia dipenuhi dengan kezhaliman. Dia merubah permukaan bumi dalam waktu dua tahun lebih lima bulan. Beliau menjalankan misinya dan menghadap Rabbnya.

Abu Nu'aim mengatakan dalam biografinya, Dia adalah orang nomor satu dari umatnya dalam hal keutamaan, dan paling unggul dari kaum kerabatnya dalam hal keadilan. Dia menghimpun zuhud dan kesucian diri, wara' dan sifat merasa cukup. Dia disibukkan oleh kehidupan akhirat daripada kehidupan dunia, dan menegakkan keadilan telah melalaikannya dari kezhalimannya. Dia adalah khalifah yang menjaga keamanan dan perdamaian untuk rakyatnya, serta sebagai hujjah dan bukti atas siapa saja yang me-nyelisihinya. Dia adalah seorang yang cakap lagi berilmu, mampu memberikan pemahaman lagi bijaksana.

Ketika kita diberi kehormatan untuk menuliskan keutamaan-keutamaannya dan merangkai jejak-jejaknya dalam syair, kita ber-harap kepada Allah Yang Mahabesar kebaikan yang banyak.

Ahmad bin Hanbal mengatakan, Jika engkau melihat seseorang mencintai Umar bin Abdul Aziz dan menyebut kebaikan-kebaikannya serta menyebarkannya, maka ketahuilah bahwa ada kebaikan di balik itu, insya Allah. Siapakah yang membaca sirah Imam ini lalu hatinya tidak dipenuhi dengan kecintaan kepadanya, padahal dia telah menghimpun berbagai keutamaan dan jiwanya jauh dari kekurangan dan kehinaan?! Tampak padanya tanda-tanda kemuliaan sejak kecil. Dia mengkhatamkan al-Qur`an, dan tidak sibuk dengan kemewahan dan kekayaan sebagaimana kebiasaan para pemimpin. Tetapi dia mencari kemuliaan hakiki dan kehormatan yang abadi. Dia pergi ke Madinah RasulNya, duduk di majelis para ahli fikih Madinah, dan mengambil ilmu, petunjuk dan sifat mereka. Dia tidak pernah mengincar sebagai khalifah satu hari pun, dia bukan keturunan khalifah, dia keturunan Abdul Aziz bin Marwan, sementara tampuk kekhalifahan ada pada keturunan Abdul Malik bin Marwan. Tetapi takdir yang luhur memilihnya untuk menjadi khalifah, meskipun usianya masih muda dan masa kepemimpinannya sebentar, di mana kekhalifahannya serupa dengan kekhalifahan ash-Shiddiq Abu Bakar: Mengembalikan hak-hak yang dizhalimi, mengangkat ahli kebajikan dan keshalihan sebagai pejabat, dan memecat ahli kezhaliman dan kerusakan. Sehingga pengangkatan seseorang sebagai pejabat yang dilakukannya (dijadikan) sebagai ta'dil (penilaian adil) di kalangan para imam al-Jarh wa at-Ta'dil. Mereka mengata-kan, Dia diangkat oleh Umar bin Abdul Aziz sebagai pejabat. Lewat perantaranya, Allah memuliakan agama ini, meninggikan mercusuar Sunnah, dan memadamkam api bid'ah, sehingga ahli bid'ah tertekan lagi terhina, dan mereka tidak berani berterus terang dengan bid'ah mereka. Dia memerintahkan agar menulis hadits dan menghimpunnya, sehingga kebaikan menjadi banyak, kesha-lihan merata, dan berbagai urusan hamba tertata.

Dari Awanah bin al-Hakam, dia mengatakan, Tatkala Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah, para penyair datang kepadanya dan berdiri di depan pintu istananya selama beberapa hari tanpa diizinkan masuk. Ketika mereka dalam keadaan demikian, pada suatu hari, dan mereka telah berniat untuk pergi, tiba-tiba Raja` bin Haiwah –salah seorang pengkhutbah penduduk Syam– lewat di hadapan mereka. Tatkala Jarir melihatnya masuk menemui Umar bin Abdul Aziz, maka dia bersenandung, Wahai laki-laki yang terulur sorbannya Inilah saatmu, maka mintakan izin untuk kami pada Umar Ia pun masuk dan tidak menyebutkan urusan mereka sedikit pun. Kemudian Adi bin Artha`ah lewat di hadapan mereka, maka Jarir mengatakan,Wahai kafilah yang menggiring kendaraannya Inilah zamanmu, sementara zamanku telah berlalu
Sampaikan pada khalifah kami jika engkau bertemu dengannya
Aku berada di depan pintu seperti dibelenggu pada tanduk
Jangan lupa keperluanku, semoga engkau mendapat ampunan Sungguh aku telah lama di sini meninggalkan keluarga dan tanah airku
Adi pun masuk menemui Umar, lalu dia mengatakan, Wahai Amirul Mukminin, para penyair ada di depan istanamu. Panah mereka itu beracun, dan kata-kata mereka itu menembus. Umar mengatakan, Kasihan engkau, wahai Adi! Apa problemku dengan para penyair?! Dia mengatakan, Semoga Allah memuliakan Amirul Mukminin. Sesungguhnya Rasulullah dipuji, lalu beliau memberi, dan pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagimu. Umar bertanya, Bagaimana (itu bisa terjadi)? Dia me-ngatakan, Al-Abbas bin Mirdas as-Sulami memujinya, maka beliau memberikan pakaian kepadanya, lalu beliau berhenti bicara karenanya.
Kemudian Umar mengizinkan Jarir masuk menemuinya. Dia pun masuk seraya berkata, Sesungguhnya yang mengutus Nabi Muhammad Telah memberikan khilafah kepada Imam yang adil Keadilan dan kewibawaannya memenuhi khilafah Hingga meluruskan kecenderungan orang yang menyimpang Sesungguhnya aku benar-benar berharap padamu kebaikan yang disegerakan
Dan jiwa itu dikodratkan menyukai suatu yang disegerakan
Umar mengatakan, Wahai Jarir, aku tidak melihatmu memi-liki hak di sini. Dia mengatakan, Ya, aku mempunyai hak, wahai Amirul Mukminin, aku adalah ibnu sabil yang terlunta-lunta. Umar pun memberikan kepadanya dari hartanya sebanyak seratus dirham. Kemudian dia keluar, maka para penyair berkata, Apa yang ada di belakangmu? Dia mengatakan, Sesuatu yang menya-kitkan kalian. Aku keluar dari sisi Amirul Mukminin, sedang dia memberi kaum fakir dan menghalangi para penyair. Namun, aku ridha kepadanya. Kemudian dia berucap, Aku melihat jampi setan tidak mempan terhadapnya Padahal sungguh setanku dari jin telah menjampinya Kami memohon kepada Allah agar memberikan Umar yang lain kepada umat Islam, yang akan mengembalikan kejayaan dan kemuliaan umat. Dan Allah-lah yang memberi taufik kepada ketaatan, dan yang menuntun kepada derajat yang tertinggi.

1. NAMA, KELAHIRAN, DAN CIRI-CIRI UMAR BIN ABDUL AZIZ

Nama: Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin al-Hakam bin Abu al-Ash bin Umayyah bin Abdu Syams bin Abdu Mannaf bin Qushai bin Kilab, seorang imam, hafizh, allamah, mujtahid, ahli zuhud, ahli ibadah, sayyid, Amirul Mukminin yang sesungguhnya, Abu Hafsh, al-Qurasyi, al-Umawi, al-Madani, kemudian al-Mishri, seorang khalifah yang zuhud, lurus, orang yang kepalanya terdapat luka dari kalangan Bani Umayyah. Kelahiran: Umar dilahirkan di Hulwan, sebuah kota di Mesir. Ayahnya adalah gubernur di sana pada tahun 61 -konon 63-, dan ibunya adalah Ummu Ashim binti Ashim bin Umar bin al-Khaththab. Al-Fallas mengatakan, Aku mendengar al-Khuraibi mengata-kan, Al-A'masy, Hisyam bin Urwah, Umar bin Abdul Aziz, dan Thalhah bin Yahya dilahirkan pada tahun terbunuhnya al-Husain, yakni 61 H. Demikian pula hal itu dikatakan oleh Khalifah bin Khayyath dan banyak lainnya tentang kelahirannya. Ciri-cirinya: Sa'id bin Ufair mengatakan, Ia berkulit coklat, berwajah lembut, menawan, bertubuh kurus, berjenggot bagus, bermata lebar, pada wajahnya terdapat bekas tiupan unta (semacam lesung pipit). Hamzah bin Sa'id mengatakan, Umar bin Abdul Aziz masuk ke kandang ayahnya saat dia masih kecil, maka dia dihantam seekor kuda hingga membuat kepalanya terluka. Ayahnya pun mengusap darah darinya seraya mengatakan, 'Jika engkau adalah orang yang kepalanya terdapat luka dari kalangan Bani Umayyah, sesungguh-nya engkau kalau begitu benar-benar bahagia'. Dari Yahya bin fulan, dia mengatakan, Muhammad bin Ka'ab al-Qurazhi datang kepada Umar bin Abdul Aziz, dan dulu Umar bertubuh bagus, lalu dia menatapnya dengan tajam tanpa berkedip. Maka Umar berkata, Wahai Ibnu Ka'ab, mengapa engkau meman-dangku seakan-akan engkau belum pernah memandangku sebe-lumnya. Dia mengatakan, Wahai Amirul Mukminin, dulu aku melihatmu bertubuh bagus, dan sekarang aku melihat kulitmu telah pucat, tubuhmu telah kurus, dan rambutmu hilang. Umar mengatakan, Wahai Ibnu Ka'ab, bagaimana menurutmu seandai-nya engkau melihatku di dalam kubur setelah tiga hari, dalam keadaan dua biji mataku berada di atas pelipisku, tenggorokanku meleleh, dan mulutku penuh nanah dan larva, tentu engkau lebih mengingkari terhadap (keadaan)ku. Ats-Tsa'labi mengatakan dalam Latha`if al-Ma'arif, Umar bin al-Khaththab adalah botak bagian depan kepalanya, lalu Utsman, Ali, Marwan bin al-Hakam, dan Umar bin Abdul Aziz, kemudian kebotakan itu terputus dari para khalifah.

2. PERMULAAN PENCARIAN ILMU YANG DILAKUKAN UMAR BIN ABDUL AZIZ DAN PENGANGKATANNYA SEBAGAI KHALIFAH

Dari az-Zubair bin Bakkar, dari al-Utbi, dia mengatakan, Mula-mula yang tampak jelas dari Umar bin Abdul Aziz bahwa ayahnya menjadi gubernur Mesir, sementara dia masih belia. Di-ragukan, apakah sudah baligh atau belum. Ketika ayahnya ingin membawanya keluar, Umar berkata, 'Wahai ayah, mungkin lebih bermanfaat bagiku dan bagimu bila engkau membawaku ke Madi-nah, sehingga aku bisa duduk di majelis para ahli fikih penduduk-nya, dan beradabkan dengan adab-adab mereka.' Ayahnya pun mengirimkannya ke Madinah, lalu di sana dia menjadi masyhur dengan ilmu dan akalnya, meskipun masih belia usianya. Kemudian Abdul Malik bin Marwan mengirim utusan kepadanya agar pulang pada saat ayahnya meninggal, lalu membaurkannya dengan anak-anaknya, dan mengutamakannya dibandingkan kebanyakan dari mereka, serta menikahkannya dengan putrinya, Fathimah yang dikatakan mengenainya, Putri khalifah dan khalifah adalah kakeknya Saudari perempuan khalifah dan khalifah adalah suaminya Abu Mushir mengatakan, Umar menjadi gubernur Madinah pada masa pemerintahan al-Walid, dari tahun 86 hingga 93 H.

As-Suyuthi mengatakan, Ia sudah hafal al-Qur`an sejak masih kecil. Ayahnya mengirimkannya ke Madinah agar belajar di sana. Dia pergi bolak balik ke rumah Ubaidullah bin Abdullah untuk mendengar ilmu darinya. Ketika ayahnya meninggal, Abdul Malik memintanya pergi ke Damaskus, dan menikahkannya dengan putrinya, Fathimah. Sebelum menjadi khalifah, dia (Abdul Malik) unggul dalam keshalihan juga. Cuma, dia berlebihan dalam ber-gelimang kenikmatan dan congkak dalam berjalan. Ketika al-Walid memegang tampuk kekhalifahan, dia mengangkat Umar bin Abdul Aziz sebagai gubernur Madinah. Dia pun menjadi gubernur di sana sejak tahun 86 hingga 93. Setelah al-Walid memecatnya, dia pergi ke Syam.

Kemudian al-Walid bertekad untuk mencopot saudaranya, Sulaiman dari statusnya sebagai putra mahkota, dan bermaksud mengangkat putranya sebagai putra mahkota. Banyak dari pemuka menaatinya, baik suka rela maupun terpaksa, tapi Umar bin Abdul Aziz menolaknya seraya mengatakan, Ada bai'at di leher kami untuk Sulaiman. Al-Walid pun murka dan mengurung Umar dalam kamar tertutup . Kemudian dia diberi syafa'at setelah tiga hari, ternyata mereka mendapatinya dalam keadaan lehernya telah lemas. Ketika hal itu diberitahukan kepada Sulaiman, maka dia menjanjikan khilafah kepadanya.

Dari Raja` bin Haiwah, dia mengatakan, Tatkala hari Jum'at, Sulaiman bin Abdul Malik memakai pakaian tenun berwarna hijau, dan memandang di cermin seraya mengatakan, 'Aku, demi Allah, adalah raja yang masih muda.' Kemudian dia pergi ke tempat shalat untuk memimpin manusia melaksanakan shalat Jum'at. Dia tidak pulang hingga tubuhnya panas. Ketika tubuhnya sudah berat, dia menulis surat pengangkatan putra mahkota kepada putranya, Ayyub sedangkan dia adalah anak yang belum baligh. Maka aku katakan, 'Apakah yang engkau lakukan, wahai Amirul Mukminin? Sesungguhnya yang menjadikan seorang khalifah terpelihara di kuburnya ialah mengangkat seseorang yang shalih sebagai khali-fah.' Dia mengatakan, 'Ini adalah surat yang karenanya aku terus beristikharah kepada Allah. Aku mencermatinya, dan aku belum memastikannya.' Dia pun berdiam sehari atau dua hari, lalu dia membakarnya. Kemudian dia memanggilku seraya berkata, 'Bagai-mana pendapatmu tentang Dawud bin Sulaiman?' Aku menjawab, 'Ia hilang di Konstantinopel sementara engkau tidak tahu, apakah dia masih hidup ataukah sudah mati?' Dia mengatakan, 'Wahai Raja`, lalu siapakah yang engkau pandang?' Aku katakan, 'Menurut pendapatmu, wahai Amirul Mukminin, sementara akulah yang menilai siapa yang engkau sebutkan.' Dia mengatakan, 'Bagaimana pendapatmu tentang Umar bin Abdul Aziz?' Aku menjawab, 'Aku mengetahuinya -demi Allah- sebagai orang yang utama, terbaik, Muslim.' Dia mengatakan, 'Dia, demi Allah, memang demikian. Namun, jika aku mengangkatnya sementara aku tidak mengangkat seorang pun dari anak Abdul Malik, niscaya hal itu akan menjadi fitnah, dan mereka tidak membiarkannya selamanya untuk me-mimpin mereka. Kecuali bila aku menjadikan salah seorang dari mereka setelah Umar -dan Yazid bin Abdul Malik saat itu hilang di Mausim-.' Dia mengatakan, 'Kalau begitu, aku jadikan Yazid bin Abdul Malik setelah Umar, jika itu membuat mereka tenang dan ridha.'
Aku katakan, 'Pendapatmu benar.' Dia pun menulis dengan tangannya,
Amanat Sulaiman kepada Umar
Bismillah ar-rahman ar-rahim
Ini adalah surat dari hamba Allah, Sulaiman Amirul Mukminin kepada Umar bin Abdul Aziz. Sesungguhnya aku mengangkatnya sebagai khalifah sesudahku, dan sesudahnya adalah Yazid bin Abdul Malik. Maka, dengar-lah dia dan taatilah, bertakwalah pada Allah dan jangan berselisih se-hingga timbul ketamakan pada kalian.
Dari Sahl bin Yahya bin Muhammad al-Marwazi, dia menga-takan, ayahku mengabarkan kepadaku dari Abdul Aziz bin Umar bin Abdul Aziz, dia mengatakan, Ketika Umar bin Abdul Aziz mengubur Sulaiman bin Abdul Malik dan naik dari tempat kubur-nya, dia mendengar tanah bergemuruh, maka dia mengatakan, 'Suara apakah ini?' Dijawab, 'Ini suara kendaraan kekhalifahan, wahai Amirul Mukminin. Kendaraan ini didekatkan kepadamu agar engkau menungganginya.' Dia mengatakan, 'Aku tidak punya urusan dengan kendaraan itu, jauhkanlah dariku. Bawalah baghal-ku kepadaku.' Baghalnya pun dibawakan kepadanya lalu dia menungganginya. Ketika pengawal datang berjalan di depannya dengan membawa tombak, maka dia mengatakan, 'Menjauhlah dariku, aku tidak punya urusan denganmu. Aku hanyalah seorang Muslim.' Kemudian dia berjalan, sedangkan orang-orang berjalan bersamanya hingga masuk masjid. Kemudian dia naik ke atas mimbar, dan orang-orang berkumpul kepadanya, seraya mengata-kan, 'Wahai manusia, sesungguhnya aku telah diuji dengan urusan ini tanpa terpikir olehku, tanpa memintanya, dan tanpa pula mu-syawarah dari kaum Muslimin. Sesungguhnya aku telah melepas bai'atku dari leher kalian, maka pilihlah untuk diri kalian sendiri.' Orang-orang pun berteriak dengan teriakan yang sama, 'Kami telah memilihmu, wahai Amirul Mukminin, dan kami ridha kepa-damu, maka pimpinlah urusan kami dengan penuh keberkahan.' Ketika dia melihat suara telah tenang, dan manusia telah ridha kepadanya, maka dia memuji Allah dan menyanjungnya serta ber-shalawat kepada Nabi, seraya mengatakan, 'Aku berpesan kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, karena takwa kepada Allah adalah pengganti dari segala sesuatu, sedangkan ketakwaan kepada Allah itu tidak memiliki pengganti. Beramallah untuk akhirat kalian, karena barangsiapa beramal untuk akhiratnya, maka Allah mencukupi urusan dunianya. Perbaikilah batin kalian, niscaya Allah Yang Maha Pemurah akan memperbaiki zahir kalian. Perbanyaklah mengingat kematian, dan persiapkanlah dengan baik sebelum kematian datang kepada kalian, karena dia adalah peng-hancur kenikmatan. Karena barangsiapa yang tidak mengenang bapak yang masih hidup dari kalangan bapak-bapaknya antara dia dengan Adam, niscaya itu menyebabkannya berkeringat dalam kematian. Sesungguhnya umat ini tidak berselisih tentang Rabb mereka, tentang Nabi mereka, atau tentang Kitab mereka, tetapi mereka berselisih tentang dinar dan dirham. Sesungguhnya aku, demi Allah, tidak memberi suatu yang batil kepada seseorang, dan tidak pula menghalangi seseorang dari haknya.'

Kemudian dia mengeraskan suaranya hingga dia bisa mem-perdengarkannya kepada banyak orang, dengan pernyataannya,

'Wahai manusia, barangsiapa menaati Allah, maka dia wajib ditaati, dan barangsiapa bermaksiat kepada Allah, maka tidak ada ketaatan kepadanya. Taatilah aku selama aku menaati Allah. Jika aku durhaka kepada Allah, maka kalian tidak wajib menaatiku'.

3. PUJIAN ULAMA DAN KECINTAAN MANUSIA KEPADA UMAR BIN ABDUL AZIZ

Sufyan ats-Tsauri mengatakan, Khalifah ada lima: Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan Umar bin Abdul Aziz. Dari Zaid bin Aslam, dari Anas, dia mengatakan, Aku tidak pernah shalat di belakang seorang imam pun sesudah Rasulullah yang lebih mirip shalatnya dengan shalat Rasulullah dibandingkan pemuda ini. Yakni Umar bin Abdul Aziz, yang saat itu sebagai gubernur Madinah. Zaid bin Aslam mengatakan, Ia menyempur-nakan rukuk dan sujud, meringankan berdiri dan duduk. Hadits ini memiliki jalur-jalur lainnya dari Anas, yang diriwayatkan al-Baihaqi dalam Sunannya dan selainnya. Muhammad bin al-Husain pernah ditanya tentang Umar bin Abdul Aziz, maka dia mengatakan, Dia adalah orang paling mulia dari Bani Umayyah, dan dia akan dibangkitkan pada Hari Kiamat sebagai umat seorang diri.

Dari Sufyan, dia mengatakan, Para ulama (disejajarkan) ber-sama Umar bin Abdul Aziz sebagai murid.

Ketika datang berita kematian Umar bin Abdul Aziz, maka al-Hasan mengatakan, Orang terbaik telah meninggal.

Dari Abu Sa'id al-Firyabi, dia mengatakan, Ahmad bin Hanbal mengatakan, Sesungguhnya Allah mendatangkan kepada manu-sia pada setiap penghujung seratus tahun (satu abad) orang yang mengajarkan sunnah-sunnah kepada mereka, dan menghilangkan kedustaan dari Rasulullah. Kami memperhatikan, ternyata di peng-hujung seratus tahun terdapat Umar bin Abdul Aziz, dan di peng-hujung dua ratus tahun terdapat asy-Syafi'i.

Dari Suhail bin Abu Shalih, dia mengatakan, Aku bersama ayahku pada pagi Arafah, lalu kami berdiri untuk melihat Umar bin Abdul Aziz, sementara dia adalah Amirul Hajj, maka aku katakan, 'Wahai ayah, demi Allah, aku benar-benar melihat Allah mencintai Umar.' Dia bertanya, 'Mengapa?' Aku menjawab, 'Karena sesuatu yang aku lihat, yaitu kecintaan yang dimasukkan ke dalam hati manusia. Engkau telah mendengar Abu Hurairah berkata, Rasulullah bersabda, إِذَا أَحَبَّ اللّٰهُ عَبْدًا نَادَى جِبْرِيْلَ: إِنَّ اللّٰهَ قَدْ أَحَبَّ فُلَانًا فَأَحِبُّوْهُ. Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia memanggil Jibril (lalu Jibril menyeru kepada penduduk langit), 'Sesungguhnya Allah mencintai fulan, maka cintailah ia'.

Adz-Dzahabi mengatakan, Orang ini bagus fisik dan akhlak-nya, sempurna akalnya, bagus sifatnya, bagus kepemimpinannya, sangat menginginkan keadilan semaksimal mungkin, luas ilmunya, faqih, tampak kecerdasan dan kepahamannya, senantiasa bertaubat, taat kepada Allah lagi lurus, zuhud meskipun sebagai khalifah, berbicara dengan kebenaran meskipun sedikit pendukung dan banyak pejabat yang zhalim, yang merasa jemu terhadapnya dan tidak suka bila dia menyelidiki mereka. Dia mengurangi jatah me-reka, dan mengambil banyak dari apa yang ada di tangan mereka yang telah mereka ambil dengan tanpa hak. Mereka tetap demikian hingga mereka meminuminya dengan racun, sehingga dia meraih syahadah dan kebahagiaan. Sementara para ahli ilmu mengkatego-rikannya sebagai Khulafa` Rasyidin dan ulama yang beramal.

Dari Ibnu Aun, dia mengatakan, Ibnu Sirin apabila ditanya tentang arak, maka dia menjawab, 'Ini dilarang oleh Imam al-Huda', dia memaksudkan Umar bin Abdul Aziz.

Juwairiyah bin Asma` (Kibar al-Atba`) mengatakan, Ketika Umar bin Abdul Aziz diangkat sebagai khalifah, Bilal bin Abu Burdah datang kepadanya untuk mengucapkan selamat kepadanya seraya mengatakan, Dahulu kekhalifahan membuat seseorang mulia, maka sekarang sungguh engkaulah yang memuliakan khilafah. Dahulu kekhilafahan menghiasi seseorang, maka sekarang sungguh engkaulah yang menghiasi kekhalifahan. Engkau seba-gaimana kata Malik bin Asma`,

Engkau lebih harum daripada parfum paling wangi Bila engkau menyentuhnya adakah yang menyerupaimu Jika mutiara menghiasi wajah yang menawan Maka sungguh keindahan wajahmu telah menghiasi mutiara itu

4. RASA TAKUT DAN TANGISAN UMAR BIN ABDUL AZIZ

Dari al-Mughirah bin Hakim, dia mengatakan, Fathimah binti Abdul Malik mengatakan kepadaku, 'Wahai Mughirah, mungkin di antara kaum laki-laki terdapat orang yang lebih banyak shalat dan puasanya daripada Umar. Tetapi aku tidak melihat seorang pun dari manusia yang lebih takut kepada Rabbnya daripada Umar. Apabila masuk rumah, dia menjatuhkan dirinya di tempat sujud-nya, lalu dia tidak henti-hentinya menangis dan berdoa hingga tertidur. Kemudian dia bangun lalu melakukan hal itu di sepanjang malamnya'. Dari Abdul Aziz bin al-Walid bin Abi as-Sa`ib, dia mengata-kan, Aku mendengar ayahku mengatakan, 'Aku tidak melihat seorang pun takut -atau khusyu'- yang lebih tampak pada wajahnya daripada Umar bin Abdul Aziz'.

Dari Mazid bin Hausyab -saudara al-Awwam-, dia mengata-kan, Aku tidak melihat orang yang lebih takut daripada al-Hasan dan Umar bin Abdul Aziz. Seakan-akan neraka tidak diciptakan kecuali untuk keduanya. Dari Hisyam bin al-Ghaz, dia mengatakan, Kami singgah di suatu tempat saat pulang dari Dabiq. Ketika kami berangkat, Makhul berlalu, dan dia tidak memberitahu kami hendak ke mana. Kami pun berjalan terus hingga kami melihatnya, lalu kami bertanya, 'Hendak pergi ke mana engkau?' Dia menjawab, 'Aku mendatangi kubur Umar bin Abdul Aziz untuk mendoakannya.' Kemudian dia mengatakan, 'Seandainya aku bersumpah, maka aku tidak ber-istitsna` (mengecualikan). Tidak ada pada zamannya orang yang lebih takut kepada Allah daripada Umar. Seandainya aku bersum-pah, maka aku tidak beristitsna` (mengecualikan). Tidak ada pada zamannya orang yang lebih berzuhud di dunia daripada Umar'.

Qatadah mengatakan, Seorang laki-laki yang biasa dipanggil Ibnu al-Ahtam mengunjungi Umar bin Abdul Aziz, lalu dia tidak henti-hentinya menasihatinya sementara Umar menangis hingga jatuh pingsan.

Dari Abdussalam mantan sahaya Maslamah bin Abdul Malik, dia mengatakan, Umar bin Abdul Aziz menangis, maka Fathimah menangis, lalu penghuni rumah menangis, tanpa mereka menge-tahui apa yang membuat mereka menangis. Ketika kesulitan telah sirna dari mereka, maka Fathimah berkata kepadanya, 'Ayahku menjadi tebusanmu, wahai Amirul Mukminin, karena apa engkau menangis?' Umar menjawab, 'Wahai Fathimah, aku teringat tem-pat berpulang kaum di hadapan Allah, satu golongan di surga dan satu golongan lainnya di neraka.' Kemudian dia menangis keras dan pingsan.

Dari Atha` bin Abu Rabah, dia mengatakan, Fathimah istri Umar bin Abdul Aziz menceritakan kepadaku bahwa suatu saat dia mengunjungi Umar, ternyata dia sedang berada di tempat shalatnya. Tangannya pada pipinya, air matanya mengalir. Maka aku katakan, 'Wahai Amirul Mukminin, apakah karena ada sesuatu yang terjadi?' Dia menjawab, 'Wahai Fathimah, sesungguhnya aku dibelenggu dengan urusan umat Muhammad, lalu berpikir me-ngenai orang yang fakir lagi kelaparan, orang yang sakit lagi tersia-siakan, orang yang tidak berpakaian lagi kesusahan, orang yang terzhalimi lagi tertekan, orang yang asing lagi tertawan, orang yang sudah tua renta, dan orang-orang yang memiliki kebutuhan di berbagai penjuru bumi. Aku tahu bahwa Rabbku akan bertanya kepadaku tentang mereka, dan yang memperkarakanku untuk membela mereka adalah Muhammad a, maka aku takut bila argu-menku tidak mampu menolak pengaduannya. Aku pun berbalas kasih kepada diriku, lalu aku menangis'. Dari Abdullah bin Syaudzab, dia mengatakan, Sulaiman melaksanakan haji bersama Umar bin Abdul Aziz. Setelah itu, dia pergi ke Tha`if. Ketika terkena petir dan kilat, maka dia ketakutan lalu berkata kepada Umar, 'Tidakkah engkau melihat, apakah ini wahai Abu Hafsh?' Dia mengatakan, 'Ini adalah tanda rahmatNya turun. Maka bagaimanakah sekiranya jika azabNya turun? Dari al-Hasan bin Umairah, dia mengatakan, Umar bin Abdul Aziz membeli sahaya wanita A'jamiyah (non Arab), lalu budak itu mengatakan, 'Aku melihat orang-orang bergembira, tetapi aku tidak pernah melihat orang ini gembira.' Umar bertanya, 'Apa yang dikatakan oleh orang awam ini?' Dijawab, 'Ia berkata demikian dan demikian.' Umar mengatakan, 'Kasihan dia! Kalian katakanlah kepadanya bahwa kegembiraan ada di hadapannya'.

Dari Maimun bin Mihran, dia mengatakan, Umar bin Abdul Aziz membaca, Bermegah-megahan telah melalaikan kamu (At-Takatsur: 1), lalu dia menangis, kemudian dia mengucapkan, Sampai kamu masuk ke dalam kubur. (At-Takatsur: 2). Aku tidak melihat pekuburan melainkan (tempat) ziarah, dan sudah pasti orang yang berziarah suatu saat akan kembali ke surga atau neraka.

5. KEZUHUDAN UMAR BIN ABDUL AZIZ

Dari Maslamah bin Abdul Malik, dia mengatakan, Aku me-nemui Umar bin Abdul Aziz untuk menjenguknya saat sakitnya, ternyata dia memakai pakaian kotor, maka aku katakan kepada Fathimah binti Abdul Malik, 'Wahai Fathimah, cucilah baju Amirul Mukminin.' Fathimah mengatakan, 'Aku akan melakukannya, insya Allah.' Kemudian aku kembali, ternyata baju tersebut masih tetap seperti sediakala. Maka aku katakan, 'Wahai Fathimah, bukankah aku menyuruhmu agar mencuci baju Amirul Mukminin? Karena banyak orang akan menjenguknya.' Fathimah mengatakan, 'Demi Allah, dia tidak memiliki baju selainnya'.

Dari Sa'id bin Suwaid bahwa Umar bin Abdul Aziz meng-imami mereka shalat Jum'at, kemudian duduk, dan dia memakai baju yang sudah bertambal kantongnya dari depan dan belakang-nya, maka seorang laki-laki berkata kepadanya, Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah telah memberimu, maka alangkah baiknya bila engkau memakai pakaian yang layak?! Umar pun menunduk (diam) beberapa saat, kemudian mengangkat kepalanya seraya mengatakan, Sebaik-baik kesederhanaan adalah pada saat berkelebihan, dan sebaik-baik pemberian maaf adalah pada saat memiliki kemampuan (untuk membalas).

Malik bin Dinar mengatakan, Orang-orang berkata, 'Malik adalah orang yang zuhud', tetapi orang yang benar-benar zuhud adalah Umar bin Abdul Aziz, yaitu orang yang dunia datang kepa-danya tetapi dia meninggalkannya.

Abu Umayyah al-Khasyi, budak Umar berkata, Suatu hari aku menemui tuan putriku, lalu dia memberiku makan Adas, maka aku bertanya, 'Setiap hari makan Adas?' Dia menjawab, 'Wahai anakku, ini adalah makanan tuanmu, Amirul Mukminin'.

Ahmad bin Abu al-Hawari mengatakan, Aku mendengar Abu Sulaiman ad-Darani dan Abu Shafwan berdebat tentang Umar bin Abdul Aziz dan Uwais al-Qarni. Abu Sulaiman berkata kepada Abu Shafwan, 'Umar bin Abdul Aziz lebih zuhud daripada Uwais.' Abu Shafwan berkata kepadanya, 'Mengapa?' Dia menjawab, 'Karena Umar adalah raja dunia, lalu dia berzuhud di dalamnya.' Abu Shafwan mengatakan kepadanya, 'Seandainya Uwais adalah raja dunia, niscaya dia berzuhud padanya sebagaimana yang dila-kukan Umar.' Abu Sulaiman mengatakan, 'Janganlah menjadikan orang yang sudah mengalaminya sebagaimana orang yang belum pernah mengalaminya. Sesungguhnya orang yang dunia mengalir di kedua tangannya tapi tidak memiliki tempat di hatinya, adalah lebih utama daripada orang yang dunia tidak pernah mengalir di kedua tangannya, meskipun itu tidak memiliki tempat di hatinya'.

6. SIKAP WARA' UMAR BIN ABDUL AZIZ

Dari Abu Utsman ats-Tsaqafi, dia mengatakan, Umar bin Abdul Aziz memiliki budak yang bekerja menggunakan baghal-nya. Setiap hari dia datang dengan membawa satu dirham. Suatu hari dia datang dengan membawa satu setengah dirham, maka dia bertanya, 'Apa yang tampak olehmu?' Dia menjawab, 'Pasar telah memberikan keuntungan.' Umar mengatakan, 'Tidak, tetapi engkau memenatkan baghal itu. Istirahatkanlah dia selama tiga hari'.

Ja'unah mengatakan, Ketika Abdul Malik bin Umar bin Abdul Aziz meninggal, Umar menyanjungnya, maka ada seseorang ber-tanya, 'Wahai Amirul Mukminin, seandainya dia masih hidup, apa-kah engkau akan mengangkatnya sebagai putra mahkota?' Umar menjawab, 'Tidak.' Dia bertanya lagi, 'Mengapa, sedangkan engkau memujinya?' Umar mengatakan, 'Aku takut bila kebaikannya di-tampakkan di mataku sebagaimana ditampakkannya kebaikan seorang anak pada mata seorang ayah'.

Dari Wuhaib bin al-Ward, dia mengatakan, Anak-anak Marwan berkumpul di depan pintu Umar bin Abdul Aziz, dan datanglah Abdul Malik bin Umar untuk menemui ayahnya, maka mereka berkata kepadanya, 'Silakan pilih, engkau memintakan izin untuk kami, atau engkau menyampaikan pesan surat kami kepada Amirul Mukminin.' Abdul Malik mengatakan, 'Katakanlah.' Mereka mengatakan, 'Sesungguhnya para khalifah sebelumnya memberi sesuatu kepada kami, dan mengetahui kedudukan kami. Sementara ayahmu menghalangi kami dari sesuatu yang ada di kedua tangan-nya.' Abdul Malik pun menemui ayahnya lalu mengabarkan kepa-danya tentang mereka, maka Umar berkata kepadanya, 'Katakan-lah kepada mereka, sesungguhnya ayahku mengatakan kepada kalian, 'Sesungguhnya aku takut azab pada hari yang besar, jika aku durhaka kepada Rabbku'.

Dari Amr bin Muhajir bahwa Umar bin Abdul Aziz memiliki lampu lilin yang dipergunakan untuk keperluan kaum Muslimin. Jika dia telah selesai dari keperluan mereka, maka dia memadam-kannya, kemudian dia menyalakan lampunya sendiri.

Dari Jarir bin Hazim, dari seorang laki-laki, dari Fathimah binti Abdul Malik, dia mengatakan, Suatu hari Umar bin Abdul Aziz menginginkan madu, sementara kami tidak punya, maka kami menyuruh seseorang mengendarai unta pos (unta untuk mengirim surat, milik negara) ke Ba'labak untuk membeli madu. Suatu hari aku katakan kepadanya, 'Engkau pernah menyebut madu, dan kami punya madu, apakah engkau menginginkannya?' Dia menjawab, 'Ya.' Kami pun membawa madu itu. Dia pun mendekatinya, kemu-dian berkata, 'Dari mana kalian mendapatkan madu ini?' Aku men-jawab, 'Kami menyuruh seseorang pergi mengendarai salah satu unta pos dengan membawa dua dinar ke Ba'labak supaya mem-belikan madu untuk kami.' Umar pun menyuruh memanggil orang itu. Ketika orang itu datang, Umar berkata, 'Bawalah madu ini ke pasar lalu juallah, dan kembalikan kepada kami modal kami. Jika ada kelebihan, berikan kepada Baitul Mal kaum Muslimin untuk pakan unta-unta pos. Seandainya muntahku bermanfaat bagi kaum Muslimin, niscaya aku telah berusaha muntah'. Dari Umar bin Muhajir, dia mengatakan, Umar bin Abdul Aziz menginginkan apel, lalu mengatakan, 'Seandainya kami punya buah apel, karena dia harum aromanya, enak rasanya.' Maka ber-dirilah salah seorang dari keluarganya lalu menghadiahkan apel kepadanya. Ketika utusan datang dengan membawa buah itu, maka Umar berkata, 'Betapa harum aromanya dan betapa bagusnya! Angkatlah wahai pemuda, lalu sampaikan salam kepada fulan. Katakan kepadanya bahwa hadiahmu telah sampai di tempat sebagaimana yang engkau inginkan.' Aku katakan, 'Wahai Amirul Mukminin, dia adalah anak pamanmu dan salah seorang dari ke-luargamu. Engkau telah mendapatkan berita bahwa Nabi makan hadiah dan tidak makan sedekah.' Umar menimpali, 'Kasihan engkau! Sesungguhnya hadiah tersebut untuk Nabi, sementara bagi kita saat sekarang ini adalah suap'.

Dari Rabi' bin Atha`, dia mengatakan, Suatu hari dibawakan kepada Umar bin Abdul Aziz sebuah Anbar (sejenis parfum) dari Yaman, maka dia meletakkan tangannya pada hidungnya dengan pakaiannya. Melihat hal itu, Muzahim mengatakan, 'Ini hanyalah baunya, wahai Amirul Mukminin.' Umar mengatakan, 'Kasihan engkau, wahai Muzahim, bukankah parfum itu tidak diambil man-faatnya kecuali aromanya?' Rabi' bin Atha` mengatakan, Tangan-nya tetap di hidungnya hingga parfum itu diangkat.

Dari Yahya bin Sa'id, dia mengatakan, Abdul Hamid bin Abdurrahman menulis surat kepada Umar bin Abdul Aziz, Dilaporkan kepadaku bahwa seseorang telah mencelamu –dan mungkin Hammad mengatakan, mencaci makimu– lalu aku bermaksud untuk memenggal lehernya. Akhirnya aku menahannya, dan aku menulis surat kepadamu untuk mengetahui pendapatmu mengenai hal itu.

Umar membalas suratnya,

Seandainya engkau membunuhnya, niscaya aku mengqishashmu. Karena seseorang tidak boleh dibunuh karena mencaci maki seseorang, kecuali siapa yang mencaci maki Nabi. Maka caci makilah ia, jika engkau mau, lalu bebaskanlah.

7. KETAWADHU'AN UMAR BIN ABDUL AZIZ

Dari Raja` bin Haiwah, dia mengatakan, Aku berjalan malam bersama Umar bin Abdul Aziz, lalu lampu rusak, maka aku ber-gegas untuk memperbaikinya. Namun, Umar memerintahkanku agar duduk, kemudian dia bangkit untuk memperbaikinya. Setelah itu, dia kembali lalu duduk, seraya mengatakan, 'Aku berdiri se-mentara aku adalah Umar bin Abdul Aziz. Aku duduk sementara aku adalah Umar bin Abdul Aziz. Seseorang dicela jika menjadikan tamunya sebagai pelayan'.

Dari Ayyub, dia mengatakan, Dikatakan kepada Umar bin Abdul Aziz, 'Wahai Amirul Mukminin, sekiranya engkau datang ke Madinah. Jika Allah menakdirkan kematian, maka engkau dikubur di tempat penguburan keempat bersama Rasulullah, Abu Bakar dan Umar. Umar mengatakan, Demi Allah, sungguh Allah mengazabku dengan segala azab –kecuali neraka, karena aku tidak tahan terhadapnya– lebih aku sukai daripada Allah mengetahui dalam hatiku bahwa aku memandang bahwa aku layak mendapat-kan hal itu.

Dari Basyir bin al-Harits, dia mengatakan, Ada seorang laki-laki memuji Umar bin Abdul Aziz secara berlebih-lebihan di hadapannya, maka Umar berkata, 'Wahai laki-laki, seandainya engkau mengetahui diriku sebagaimana aku mengetahuinya, nis-caya engkau tidak memandang wajahku'.

Dari Abu Sa'id al-Mu`addib, dari Abdul Karim, dia mengata-kan, Dikatakan kepada Umar, 'Semoga Allah membalasmu dengan sebuah kebaikan atas jasamu terhadap Islam.' Umar menimpali, 'Tidak, bahkan semoga Allah membalas Islam dengan sebuah ke-baikan atas jasanya terhadapku'.

Dari Umar bin Hafsh, dia mengatakan, Seorang syaikh men-ceritakan kepada kami, dia mengatakan, 'Ketika Umar bin Abdul Aziz menjabat sebagai gubernur di Dabiq (wilayah Syam), dia keluar pada suatu malam bersama penjaga. Lalu dia masuk masjid, dia melewati orang yang sedang tidur dalam kegelapan malam, lalu terpeleset karenanya (menginjaknya). Orang itu pun mengang-kat kepalanya kepadanya seraya mengatakan, 'Apakah engkau gila?' Umar menjawab, 'Tidak.' Ketika penjaga bermaksud mem-balasnya, maka Umar berkata kepadanya, 'Jangan, sesungguhnya dia hanyalah bertanya kepadaku, 'Apakah engkau gila?' Maka aku menjawab, 'Tidak'.

8. ITTIBA' UMAR BIN ABDUL AZIZ KEPADA SUNNAH

Dari Ziyad bin Mikhraq, dia mengatakan, Aku mendengar Umar bin Abdul Aziz saat berkhutbah kepada manusia berkata, Seandainya bukan karena sunnah yang aku hidupkan atau bid'ah yang aku matikan, niscaya aku tidak peduli bila aku tidak hidup walaupun sesaat. Adz-Dzahabi mengatakan, Ghailan menampakkan al-qadar (paham Qadariyah) pada masa pemerintahan Umar bin Abdul Aziz. Ketika Umar memintanya supaya bertaubat, maka dia me-ngatakan, 'Sungguh aku dulu sesat lalu engkau beri aku petunjuk.' Umar berucap, 'Ya Allah, jika dia jujur. Jika tidak, maka saliblah dia dan potonglah kedua tangan dan kedua kakinya.' Doanya pun terlaksana. Ghailan ditangkap pada masa kekhalifahan Hisyam bin Abdul Malik, lalu kedua kaki dan kedua tangannya dipotong, lalu disalib di Damaskus karena menyebarkan paham Qadariyah.

Selainnya mengatakan, Bani Umayyah biasa mencaci maki Ali bin Abu Thalib dalam khutbah. Ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah, maka dia membatalkan hal itu, dan menulis surat kepada semua wakilnya agar membatalkannya. Sebagai gantinya, membaca, Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan. (An-Nahl: 90).

Pembacaan ayat ini berlangsung hingga sekarang. Dari Hazm bin Abu Hazm, dia mengatakan, Umar bin Abdul Aziz mengatakan dalam ucapannya, 'Seandainya setiap bid'ah yang dimatikan oleh Allah lewat tanganku, dan setiap sunnah yang dihidupkan Allah lewat tanganku itu (dibalas) dengan imbalan sepotong dari dagingku hingga tiba yang terakhirnya berupa jiwa-ku, maka itu mudah dalam (berjuang di jalan) Allah'.

Telah disebutkan sebelumnya perkataan Imam Ahmad bin Hanbal,

إِنَّ اللّٰهَ يُقَيِّض لِلنَّاسِ فِيْ كُلِّ رَأْسِ مِائَةٍ مَنْ يُعَلِّمُ النَّاسَ السُّنَنَ وَيَنْفِي عَنِ النَّبِيِّ الْكَذِبَ، فَنَظَرْنَا فَإِذَا فِيْ رَأْسِ الْمِائَةِ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيْزِ، وَفِيْ رَأْسِ الْمِائَتَيْنِ الشَّافِعِيُّ.

Sesungguhnya Allah mendatangkan kepada manusia pada setiap penghujung seratus tahun (satu abad) orang yang mengajarkan sunnah-sunnah kepada mereka, dan menghilangkan kedustaan dari Nabi. Kami memperhatikan, ternyata di penghujung seratus tahun terdapat Umar bin Abdul Aziz, sedangkan di penghujung dua ratus tahun terdapat asy-Syafi'i.

9. GURU DAN MURID UMAR BIN ABDUL AZIZ

Gurunya:

Al-Mizzi mengatakan, Dia meriwayatkan dari Anas bin Malik, dan Anas shalat di belakangnya lalu mengatakan, 'Aku tidak melihat seorang pun yang lebih mirip shalatnya dengan shalat Rasulullah daripada pemuda ini.' Dia juga meriwayatkan dari ar-Rabi' bin Sabrah bin Ma'bad al-Juhani, as-Sa`ib bin Yazid, Sa'id bin al-Musayyab, dan dia minta hibah dari Sahl bin Sa'ad sebuah bejana yang dulu pernah dipakai minum oleh Rasulullah maka Sahl menghibahkannya. Dia juga meriwayatkan dari Amir bin Sa'ad bin Abi Waqqash, Abdullah bin Ibrahim bin Qarizh -ada yang me-ngatakan, Ibrahim bin Abdullah bin Qarizh-, Abdullah bin Ja'far bin Abu Thalib, Urwah bin az-Zubair, Uqbah bin Amir al-Juhani –konon, meriwayatkan secara mursal–, Muhammad bin Abdullah bin al-Harits bin Naufal, Muhammad bin Muslim bin Syihab az-Zuhri, dan dia mati sebelumnya, Naufal bin Musahiq al-Amiri, Yahya bin al-Qasim bin Abdullah bin Amr bin al-Ash, Yusuf bin Abdullah bin Salam, Abu Bakar bin Abdurrahman bin al-Harits bin Hisyam, Abu Salamah bin Abdurrahman bin Auf, dan Khaulah binti Hakim secara mursal.

Muridnya:

Adz-Dzahabi mengatakan, Yang menuturkan darinya ialah Abu Salamah, salah seorang syaikhnya, Abu Bakar bin Hazm, Raja` bin Haiwah, Ibnu al-Munkadir, az-Zuhri, Anbasah bin Sa'id, Ayyub as-Sakhtiyani, Ibrahim bin Ablah, Taubah al-Anbari, Humaid ath-Thawil, Mushlih bin Muhammad bin Za`idah al-Laitsi, putra-nya, Abdul Aziz bin Umar, saudaranya, Zabban, Sakhr bin Abdullah bin Harmalah, putranya, Abdullah bin Umar, Utsman bin Dawud al-Khaulani, saudaranya, Sulaiman bin Dawud, Umar bin Abdul Malik, Umar bin Amir al-Bajali, Amr bin Muhajir, Umair bin Hani` al-Anbasi, Isa bin Abi Atha` al-Katib, Ghailan bin Anas, sekretaris-nya, Laits bin Abu Ruqayyah, Abu Hasyim Malik bin Ziyad, Muhammad bin Abu Suwaid ats-Tsaqafi, Muhammad bin Qais al-Qash, Marwan bin Janah, Maslamah bin Abdul Malik al-Amir, an-Nadhr bin Arabi, sekretarisnya, Nu'aim bin Abdullah al-Qaini, maulanya, Hilal Abu Sha'mah, al-Walid bin Hisyam al-Muthi'i, Yahya bin Sa'id al-Anshari, Ya'qub bin Utbah al-Mughirah, dan banyak selain mereka.

10. KATA-KATA MUTIARA DARI UMAR BIN ABDUL AZIZ Abu al-Hasan al-Madayini mengatakan, Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepada Umar bin Ubaidullah bin Abdullah bin Utbah, sebagai takziah untuknya atas kematian anaknya,

Amma ba'du. Sesungguhnya kita adalah kaum dari ahli akhirat, yang ditempatkan di dunia, orang-orang yang akan mati, anak dari orang-orang yang sudah mati. Mengherankan memang mayit menulis surat kepada mayit, bertakziah kepadanya karena mayit, wassalam.

Dari Hamzah al-Jazari, dia mengatakan, Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepada seseorang, Aku berpesan kepadamu supaya bertakwa pada Allah yang tidak menerima selain ketakwaan, tidak merahmati kecuali ahli ke-takwaan, dan tidak memberi pahala kecuali atas dasar ketakwaan. Sesungguhnya orang-orang yang memberi nasihat dengannya sangat banyak, tetapi yang mengamalkannya sangatlah sedikit.

Dari Umar bin Muhammad al-Makki, dia berkata, Umar bin Abdul Aziz berkhutbah dengan mengatakan, Sesungguhnya dunia bukanlah negeri tempat tinggal kalian, negeri yang telah Allah tetapkan sebagai negeri yang fana, dan Dia menetapkan (bahwa) penghuninya akan meninggalkannya. Betapa banyak penghuni yang terikat (betah) pada tempat yang sedikit (nilainya) lagi (mudah) hancur, dan betapa banyak pemukim yang meninggalkan suatu yang sedikit (nilainya). Karena itu, pergilah sebaik-baiknya darinya dengan membawa muatan yang terbaik. Berbekallah, sesungguh-nya sebaik-baik perbekalan adalah takwa. Takwa itu hanyalah laksana awan yang menyusut lalu hilang. Tatkala keturunan Adam di dunia berlomba-lomba dalam perkara itu, dan dia bergembira dengannya, tiba-tiba Allah memanggilnya dengan qadarnya, me-lemparnya dengan hari kematiannya, merampas peninggalan dan dunia darinya, lalu tempat usaha dan kekayaannya menjadi milik orang lain. Sesungguhnya dunia ini tidak menyenangkan (bila ditimbang) dengan kadar sesuatu yang membahayakannya, se-sungguhnya dunia ini menyenangkan sedikit dan membawa ke-sedihan yang panjang.

Dari Abu Imran, dia mengatakan, Umar bin Abdul Aziz ber-kata, Barangsiapa yang kematian dekat dengan hatinya, maka dia akan memperbanyak apa yang ada di hadapannya (bekal akhirat).

Dari Muhammad bin Isa bin Abdul Aziz, dia mengatakan, sebagian pejabat yang diangkat Umar bin Abdul Aziz menulis surat kepadanya,

Amma ba'du. Sesungguhnya kota kami telah hancur. Jika Amirul Mukminin bersedia memberikan harta kepada kami, maka kami akan memperbaikinya.

Umar menulis surat balasan,

Amma ba'du. Aku telah memahami suratmu dan apa yang engkau sebutkan bahwa kota kalian telah rusak. Jika engkau telah membaca suratku ini, maka bentengilah kota itu dengan keadilan, dan bersihkanlah jalannya dari kezhaliman, karena itulah cara memperbaikinya. Wassalam.

Dari seorang laki-laki, dari anak Utsman bin Affan bahwa Umar bin Abdul Aziz berkata di sebagian khutbahnya, Sesung-guhnya tiap-tiap safar itu sudah pasti ada bekalnya, maka berbe-kallah untuk perjalanan kalian dari dunia menuju akhirat. Jadilah kalian laksana orang yang telah melihat secara langsung sesuatu yang telah disiapkan oleh Allah berupa pahala dan siksanya, nis-caya kalian akan berharap dan sekaligus cemas. Janganlah kalian berpanjang angan, yang menyebabkan hati kalian keras dan me-nyerah kepada musuh kalian. Karena, demi Allah, tidak terbentang angan orang yang tidak menyadari, barangkali dia tidak berada di pagi setelah berada di petang hari, dan tidak berada di petang hari setelah berada di pagi hari. Bisa saja terjadi sambaran kematian di antara waktu itu. Betapa banyak kita melihat orang yang terper-daya di dunia. Sesungguhnya yang merasa terhibur itu hanyalah orang yang percaya bahwa dirinya akan selamat dari azab Allah, dan yang merasa gembira itu hanyalah orang yang merasa aman dari peristiwa Kiamat yang mencekam.

Adapun orang yang tidak terbebas dari luka melainkan pasti tertimpa luka dari arah lainnya, aku berlindung kepada Allah dari memerintahkan kalian kepada perkara yang aku larang terhadap diriku, sehingga merugilah diriku, tampak kemiskinanku, dan terlihat kehinaanku, pada hari ketika di dalamnya yang kaya dan yang fakir tampak, serta timbangan-timbangan ditegakkan. Sung-guh kalian telah dibebani dengan sesuatu yang seandainya dibe-bankan kepada bintang-bintang, niscaya akan berjatuhan, seandai-nya dibebankan kepada gunung-gunung, niscaya akan meleleh, dan seandainya dibebankan kepada bumi, niscaya akan terbelah. Apakah kalian tidak tahu bahwa tidak ada tempat antara surga dan neraka, tapi kalian akan kembali kepada salah satu dari kedua-nya?!

Dari Abdurrahman bin Maisarah al-Hadhrami bahwa Umar bin Abdul Aziz pernah mengatakan, Takwa kepada Allah itu bukan dengan berpuasa di siang hari, Qiyamul Lail, dan mencam-pur di antara hal itu. Tetapi takwa kepada Allah ialah meninggal-kan sesuatu yang diharamkan Allah dan melaksanakan sesuatu yang diperintahkan Allah. Barangsiapa setelah itu diberi kebaikan, maka itu adalah kebaikan di samping kebaikan sebelumnya. Dari Maimun bin Mihran, dia mengatakan, Umar bin Abdul Aziz berpesan kepadaku dengan mengatakan, Wahai Maimun, janganlah kamu berduaan dengan perempuan yang tidak halal bagimu, meskipun engkau membacakan al-Qur`an padanya. Ja-ngan mengikuti penguasa, meskipun engkau memandang bahwa engkau akan menyuruhnya kepada kebajikan dan mencegahnya dari kemungkaran. Janganlah bergaul dengan orang yang meng-ikuti hawa nafsunya, lalu dia akan melontarkan dalam hatimu sesuatu yang membuat Allah murka kepadamu.

Dari Abdullah bin Muhammad bin Sa'ad al-Anshari bahwa Umar bin Abdul Aziz naik mimbar, sementara orang-orang ber-kumpul di hadapannya. Setelah memuji Allah dan menyanjung-Nya, dia mengatakan, Amma ba'du. Wahai manusia, sesungguhnya aku tidak mengumpulkan kalian karena suatu urusan yang aku ada-adakan di tengah kalian, tetapi aku memikirkan tentang urusan yang akan menjadi tempat kembali kalian. Aku tahu bahwa orang yang mempercayai hal ini adalah dungu, sedangkan orang yang mendustakannya akan binasa. Kemudian dia turun dari mimbar.

Dari Muhammad bin hajir, dia mengatakan, Umar bin Abdul Aziz memiliki tempat tidur Nabi, tongkat, bejana dan mangkok besar beliau. Ketika segolongan kaum Quraisy menemui-nya, mereka mengatakan, 'Ini adalah warisan orang yang karena-nya Allah memuliakan kalian, menolong kalian, dan seterusnya'.

Dari Abdullah bin al-Fadhl at-Tamimi, dia mengatakan, Akhir khutbah yang disampaikan Umar bin Abdul Aziz, bahwa dia naik ke atas mimbar, lalu dia memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian berkata, 'Amma ba'du. Sesungguhnya di tangan kalian terdapat barang-barang milik orang-orang yang sudah mati, dan semuanya akan ditinggalkan oleh orang-orang yang masih hidup sebagaimana telah ditinggalkan oleh orang-orang yang sudah berlalu. Apakah kalian tidak menyadari bahwa kalian dalam setiap sehari semalam pergi menuju Allah, baik siang maupun malam. Kemudian kalian diletakkan di bumi, kemudian di perut bumi tanpa alas dan tanpa bantal, dalam keadaan telah terlepas dari segala sebab, berpisah dari orang-orang yang dicintai, tinggal di dalam tanah, dan menghadapi hisab, dalam keadaan butuh ke-pada amal yang telah dia lakukan, dan tidak membutuhkan harta yang ditinggalkan oleh kakeknya. Demi Allah, aku benar-benar mengatakan hal ini sedang aku tidak mengetahui dari seorang manusia pun sebagaimana aku mengetahui dari diriku sendiri.' Kemudian dia meletakkan ujung pakaiannya pada kedua matanya, lalu menangis, kemudian turun dari mimbar. Setelah itu, dia tidak keluar hingga dia dikeluarkan ke kuburnya, semoga Allah merah-matinya.

11. SYAIR YANG DIPERTAMSILKAN ATAU YANG DIUCAPKAN UMAR BIN ABDUL AZIZ

Dari Muhammad bin Katsir, dia mengatakan, Umar bin Abdul Aziz berkata pada suatu hari, sedang dia mencela dirinya sendiri,

Apakah engkau terjaga hari ini ataukah engkau tidur Bagaimana mungkin orang yang bingung lagi sedih bisa tidur

Seandainya engkau terjaga pagi ini

Niscaya kedua matamu telah mengalirkan air mata deras Siang harimu, wahai orang yang terperdaya, hanya bergadang dan kelalaian

Sedangkan malammu adalah tidur dan kebinasaan selalu Engkau melalaikan amal yang kelak engkau tidak suka ketiadaannya

Demikian pula di dunia, engkau hidup seperti binatang ternak

Dari Aqil bin Murrah, dia mengatakan, Harami bin al-Haitsam menyenandungkan syair Umar bin Abdul Aziz kepadaku,

Tiada kebaikan pada kehidupan seseorang

yang tidak memiliki bagian bersama Allah di negeri keabadian

Jika dunia membuat manusia terkagum

Maka sesungguhnya ia kenikmatan sedikit dan sebentar lagi lenyap

Dari Yunus, dia mengatakan, Umar bin Abdul Aziz berjalan di tengah jamaah. Ketika banyak debu, dia menutup wajahnya, kemudian dia menyebutkan bait-bait yang diucapkan Abdul A'la al-Qurasyi,

Siapa yang dahinya terkena terik matahari atau debu, Dia khawatirkan wajahnya akan menjadi buruk Dia pun mencari naungan agar wajahnya tetap elok Tetapi kelak dia akan tinggal pada suatu hari dalam keadaan hina

Dalam lubang gelap, berdebu, berlubang Dia tinggal lama di bawah tanah di lubangnya yang sempit

Mas'ud bin Bisyr menuturkan bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Umar bin Abdul Aziz, ketika dia menjabat sebagai khalifah, Luangkanlah waktu untuk kami. Umar menjawab,

Telah datang kesibukan orang yang sibuk Sedang aku menyimpang dari jalan-jalan keselamatan Waktu luang telah pergi,

Sehingga tidak ada waktu luang Hingga Hari Kiamat

12. WAFAT UMAR BIN ABDUL AZIZ, DAN RITSA` (SYAIR PUJIAN UNTUK ORANG YANG SUDAH MENINGGAL) YANG DIDEDIKASIKAN UNTUKNYA

Umar bin Abdul Aziz wafat di Dair Sam'an, salah satu wilayah bagian Himsh, pada hari kesepuluh yang tersisa -konon, lima hari yang tersisa- dari bulan Rajab 101 H. Ketika itu dia ber-usia 39 tahun lebih enam bulan. Dia wafat karena racun. Bani Umayyah sudah merasa gerah terhadapnya, karena dia bersikap keras terhadap mereka, dan mengambil dari tangan mereka banyak dari harta yang telah mereka rampas. Sementara dia sendiri me-ngabaikan penjagaan.

Mujahid berkata, Umar bin Abdul Aziz berkata kepadaku, Apa yang dikatakan manusia tentang diriku? Aku menjawab, Mereka mengatakan, 'Dia terkena sihir'. Umar mengatakan, Aku tidak kena sihir. Sungguh aku benar-benar tahu kapan saat aku diberi minum. Kemudian dia memanggil budaknya lalu menga-takan kepadanya, Celaka kamu! Apa yang mendorongmu mem-beri aku minum racun? Dia menjawab, Imbalan seribu dinar yang akan diberikan kepadaku, dan aku dijanjikan akan dimerdekakan. Umar mengatakan, Bawalah ke mari seribu dinar itu. Ketika dia membawanya, maka Umar memasukkannya ke Baitul Mal, dan mengatakan kepadanya, Pergilah ke tempat yang tidak ada se-orang pun yang melihatmu.

Dari al-Mughirah bin Hakim, dia mengatakan, Fathimah binti Abdul Malik menceritakan kepadaku, dia mengatakan, Aku mendengar Umar saat sakitnya yang menyebabkan kematiannya berucap, 'Ya Allah, sembunyikanlah kematianku dari mereka, walau sesaat dari siang hari.' Tatkala pada hari kematiannya, aku keluar lalu duduk di rumah lainnya, sedangkan antara aku dengan-nya dipisahkan oleh sebuah pintu, dan dia berada di kubahnya, lalu aku mendengarnya mengucapkan, Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang ber-takwa. (Al-Qashash: 83).

Kemudian dia diam, dan aku tidak mendengar lagi suara desisan atau ucapan darinya, maka aku katakan kepada al-Washif yang membantunya, 'Lihatlah Amirul Mukminin.' Ketika mema-sukinya, dia berteriak, maka aku bangkit dan masuk kepadanya, ternyata dia sudah meninggal dalam keadaan menghadap kiblat. Dia memejamkan dirinya sendiri, dengan meletakkan salah satu tangannya pada kedua matanya, sementara tangannya yang lain pada mulutnya.

Dari Ubaid bin Hassan, dia mengatakan, Ketika Umar bin Abdul Aziz sekarat, dia mengatakan, 'Keluarlah dariku, sehingga tidak ada tersisa seorang pun di dekatku.' Saat itu Maslamah bin Abdul Malik berada di sisinya. Mereka pun keluar, lalu dia dan Fathimah duduk di depan pintu. Kemudian mereka mendengar Umar berucap, 'Selamat datang kepada wajah-wajah, bukan wajah-wajah manusia dan jin.' Kemudian dia berucap, Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang ber-takwa. (Al-Qashash: 83).

Kemudian suara senyap, maka Maslamah berkata kepada Fathimah, 'Suamimu telah meninggal.' Mereka pun masuk, ter-nyata mereka mendapatinya telah meninggal dalam keadaan telah terpejam matanya. Maslamah bin Abdul Malik memandang Umar bin Abdul Aziz yang telah diselimuti dengan kain seraya mengatakan, Se-moga Allah merahmatimu. Sungguh engkau telah melunakkan hati kami yang keras, dan engkau menyisakan nama yang bagus untuk kami di tengah orang-orang yang shalih. Katsir bin Abdurrahman al-Khuza'i mengatakan, Engkau menjabat khalifah lalu engkau tidak mengecam Ali Tidak mengintimidasi orang yang tidak bersalah Tidak pula memperturutkan keinginan orang yang jahat Engkau berkata lalu kata-katamu engkau buktikan dengan perbuatan Sehingga membuat ridha semua Muslim Jarir berkata, Orang-orang menyebarkan kabar kematian Amirul Mukminin kepada kami Wahai sebaik-baik orang yang berhaji dan berumrah ke Baitullah Engkau memikul perkara berat lalu engkau menjadi kuat dengannya Engkau berjalan di dalamnya dengan hukum Allah, wahai Umar Matahari bersinar tidak bergerhana Bintang-bintang malam dan bulan menangisimu Dari Umar bin Shalih az-Zuhri, dia mengatakan, seorang yang tsiqah menceritakan kepadaku, dia mengatakan, Ketika Muharib bin Ditsar mendengar berita tentang kematian Umar bin Abdul Aziz, maka dia memanggil sekretarisnya seraya mengatakan, 'Tu-lislah.' Maka dia menulis: Bismillah ar-Rahman ar-Rahim. Dia me-ngatakan, 'Hapuslah! Karena Bismillah ar-Rahman ar-Rahim tidak dituliskan pada syair.' Kemudian dia mengatakan, Andaikata kematian terbesar diciptakan untuk mengalahkan ke-adilannya Niscaya kematian tidak akan menimpamu, wahai Umar Betapa banyak syariat hak telah engkau hidupkan kembali Padahal nyaris mati, dan yang lainnya ditunggu darimu Wahai tambatan jiwaku dan tambatan orang-orang yang merasakan bersamaku Pada orang yang sangat adil yang diinginkan oleh semua lubang kubur Ada tiga orang yang mataku belum pernah melihat ada yang me-nyamai mereka Yaitu tiga orang yang tulang-tulang mereka dihimpun oleh lubang-lubang di dalam Masjid Sedang engkau mengikuti mereka tanpa kenal lelah Berusaha mengikuti sunnah-sunnah haq mereka Seandainya aku punya (kesempatan), sedangkan takdir itu

Biasanya datang dengan segera dan pagi-pagi sekali Niscaya aku palingkan Umar Kebajikan dari tempat kematiannya

Di Dair Sam'an, tetapi takdir mengalahkan Kita tutup dengan pernyataan yang disebutkan Ibnu al-Jauzi saat menutup biografinya. Dia mengatakan, Aku mendapatkan kabar bahwa al-Manshur berkata kepada Abdurrahman bin al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar, 'Nasihatilah aku!' Dia me-ngatakan, 'Berdasarkan apa yang aku lihat ataukah berdasarkan apa yang aku dengar?' Al-Manshur menjawab, 'Berdasarkan apa yang engkau lihat.' Dia mengatakan, 'Umar bin Abdul Aziz meninggal dengan meninggalkan 11 anak, dan harta peninggalan-nya mencapai 17 dinar. Dia dikafani dari harta peninggalan itu dengan biaya lima dinar, dan untuk membeli tempat pemakaman-nya dengan biaya dua dinar, lalu sisanya dibagi-bagikan kepada anak-anaknya. Masing-masing dari anaknya mendapatkan 19 dirham. Sementara Hisyam bin Abdul Malik meninggal dengan meninggalkan 11 anak, lalu warisannya dibagi-bagikan, dan masing-masing mendapatkan satu juta dari warisannya. Aku melihat seorang dari anak Umar bin Abdul Aziz dalam satu hari membawa muatan seratus kuda di jalan Allah, sedangkan aku melihat salah seorang anak Hisyam diberi sedekah'.

Sumber : Biografi 60 Ulama Ahlussunnah

penulis Syaikh Ahmad Farid

penerbit Darulhaq

harga Rp 135.000,-

| Index | Hits: 2339
 Info Pameran
  

  
 Toko Buku Online
  

  
 download
  Resensi Buku



kataloq warna


Qurban & Aqiqah Minhajul Muslim


Turunnya Isa bin Maryan


Keutamaan Tauhid (Kitab Fathul Majid)


Biografi Ibnul Arobi



  
       Pondok Gede, Bekasi 17411, Telp. 021-84999585, Fax. 021-84999530, layanan SMS : 081281200902