Buku Induk Aqidah Islam

 

DATA BUKU

Judul: Buku Induk Aqidah Islam
Judul Asli: Syarah al Aqidah Al Wasithiyah
Penulis : Syaikh Muhammad bin Sholih al Utsaimin Rohimahullah
Penerjemah: Izzudin Karimi, Lc
Penerbit: Darul Haq Jakarta

Terbit: Cetakan ke 3, Rabi’uts Tsani 1431H / April 2010 M
Halaman: 932 Halaman
Harga: Rp 130.000.00

PENDAHULUAN

الحمد لله رب العالمين و الصلاة و السلام على المبعوث رحمة للعالمين وعلى آله وأصحابه أجمعين ، أما بعد

Pada kesempatan kali ini, sekilas kita akan membahas satu dari sekian banyak judul buku yang merupakan buah karya yang sangat berharga bagi kaum muslimin khususnya para tholabul ‘ilmi yang dahaga akan ilmu –ilmu yang kelak akan kita pertanggung jawabkan di hadapan Alloh pemilik alam semesta, buku yang didalamnya terkandung nilai- nilai luhur ini merupakan buah karya salah satu guru besar kita Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah yang berjudul “Buku Induk Aqidah Islam”.

BIOGRAFI SYAIKH MUHAMMAD BIN SHALIH AL-UTSAIMIN

Berikut biografi singkatnya: Beliau adalah yang mulia asy-Syaikh, seorang ulama terkemuka, ahli tahqiq, ahli fikih, ahli tafsir, seorang yang wara’ dan zuhud. Muhammad bin Shalih bin Muhammad bin Sulaiman bin Abdurrahman, dari keluarga al-Utsaimin, dari al-Wahbah, keturunan Bani Tamim. Beliau lahir pada malam 17 Ramadhan, pada tahun 1347 H, di Unaizah, salah satu kota di daerah Qashim- Arab Saudi.

Beliau sangat haus akan ilmu yang membuat beliau tak enggan menimba ilmu dari para ulama- ulama masyhur pada zamannya, diantaranya Syaikh al- Allamah Abdurrahman bin Nashir as- Sa’di rahimahullah dan Syaikh al-Allamah Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah. Tak heran jika beliau piawai dalam menghafal ilmu-ilmu tafsir, hadits, sirah nabi, tauhid, ushul, fikih, faraidh, nahwu, matan-matan dan masih banyak ilmu yang beliau kuasai. Sehingga beliau pun mendapat anugerah hadiah internasional dari raja Faishol dalam bidang pelayanan Islam pada tahun 1414 H. Beliau wafat pada hari rabu, 15 Syawwal 1421 H, di kota Jeddah.

BIOGRAFI SYAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYAH

Buku ini merupakan syarah dari “al Aqidah al Wasithiyah” yang merupakan buah karya dari ulama terkemuka, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Syaikhul Islam adalah imam yang agung, nama beliau telah memenuhi ruang dan waktu, dan tidak diragukan lagi bahwa beliau merupakan satu karunia bagi umat islam, bahkan bagi alam semesta. Berikut ini sekilas tentang perjalanan beliau:
Nama dan nasab beliau: Ahmad bin Abdul Halim bin Abdus Salam bin Abdullah bin Muhammad bin al-Khidir bin Muhammad bin al- Khidir bin Ali bin Abdullah bin Taimiyah, al- Harrani kemudian ad-Dimasyqi. Kunyah beliau adalah Abul Abbas, dan digelari Syaikhul Islam. Beliau lahir pada 10 Rabi’ul Awal 661 H, di negeri Harran. Beliau tumbuh dalam nuansa yang penuh bertabur ilmu, fikih dan agama ditengah- tengah ulama-ulama yang masyhur,yang merupakan ayah, kakek dan saudara-saudaranya, sehingga terkumpullah pada diri beliau sifat- sifat mujtahid sejak dini. Serta beliau memiliki sejarah panjang perjalanan hidup beliau yang membuat jati diri beliau semakin terasah. Tak diragukan jika beliau memiliki segudang karya ilmiah yang sarat akan ilmu, yang melekat erat di hati para pecinta ilmu . Beliau wafat ketika berada di dalam penjara di kota Damaskus, pada malam Senin, 20 Dzul Qo’dah 728 H.

MUATAN BUKU

Kitab ini adalah buku yang ringkas,diberi nama “al-Aqidah al- Wasithiyah “ ditulis oleh Syaikhul Islam dengan permintaan dari salah seorang hakim kota Wasith yang mengadukan keluhan kaum muslimin kepadanya akibat pemikiran- pemikiran yang menyimpang dalam masalah nama dan sifat Alloh ( al-Asma’ wa ash-Shifat). Maka Syaikhul Islam menulis akidah ini yang merupakan intisari akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dalam perkara – perkara yang banyak dibicarakan dan dibahas, dimana tidak sedikit orang yang tergelincir dalam kesalahan penyimpangan dan kekeliruan dalam permasalahan ini.

Dalam buku ini penulis ingin meluruskan akidah kaum muslimin bahwasannya pondasi pertama yang harus ada pada diri seorang muslim adalah tauhid, sebagaimana seluruh risalah yang dibawa oleh para Rasul dari Nuh dan diakhiri dengan Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Salam adalah mengajak (menyeru) kepada tauhid.
Allah berfirman, artinya,

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan Kami Wahyukan kepadanya, ‘Bahwasannya tidak ada Ilah yang berhak disembah melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.”( Al- Anbiya’ :25)

Para Ulama Membagi Tauhid Menjadi Tiga
1. Tauhid Rububiyah, Yaitu mengesakan Alloh dalam tiga perkara : mencipta, menguasai dan mengatur.
Dalilnya, Allah berfirman, artinya, “ Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Alloh.” . (Al- A’raf: 54)
2. Tauhid Uluhiyah, Yaitu mengesakan Alloh dengan ibadah, dimana kita tidak menjadi hamba bagi selain Alloh.
3. Tauhid Asma’ wa ash- Shifat, Yaitu mengesakan Alloh dengan nama dan sifat- sifatNya tanpa adanya penafian.

Buku ini terdiri dari banyak sekali pembahasan- pembahasan penting seputar aqidah diantaranya:
-Makna Syahadat Laa Ilaaha Illallah
-Makna Syahadat Muhammadur Rasulullah
-Makna al- I’tiqad
-Pembahasan Rukun Iman
-Ayat-ayat Alloh Terbagi Menjadi Dua Bagian : Kauniyah dan Syar’iyyah
-Definisi Nabi dan Shiddiq, Syuhada dan Shalihin
-Pembahasan Tentang Surat Al-Ikhlash
-Tafsir Ayat Kursi
-Syarat-Syarat Taubat
-Tentang Iman Kepada Hari Akhir
-Tentang Tempat Bersemayamnya Alloh di Atas ’Arsy
-Tentang Kesalahan Orang Yang Membagi Bid’ah Menjadi Beberapa Bagian
-Ajakan Kepada Kemuliaan Akhlak

Serta masih banyak lagi pembahasan- pembahasan yang tidak kalah pentingnya dari pembahasan- pembahasan yang kami sebutkan diatas. Berikut ini kami akan sedikit mengupas dua pembahasan yang penting untuk diketahui , terutama karena seringnya diperbincangkan dan diperselisihkan diantara para kaum muslimin pada umumnya. Yaitu pembahasan yang menyangkut Tentang Tempat Bersemayamnya Alloh di atas ‘Arsy dan Tentang Kesalahan Orang Yang Membagi Bid’ah Menjadi Beberapa Bagian.

Alloh Bersemayam Diatas ‘Arsy
Perlu diketahui, penulis menetapkan Istiwa’ (bersemayamnya) Alloh diatas ‘Arsy Nya dan itu terdapat di tujuh tempat didalam al-Qur’an, diantaranya:
1. Tempat pertama, FirmanNya dalam surat Al- A’raf,artinya,
“Sesungguhnya tuhan kamu ialah Alloh yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam hari (masa), lalu Dia bersemayam di atas ‘Arsy. “(Al-A’raf:54).
2. Tempat kedua, dalam surat Yunus, Alloh berfirman,artinya,
“Sesungguhnya Rabbmu ialah Alloh yang menciptakan langit dan bumi dalam enam hari (masa), kemudian Ia bersemayam di atas ‘Arsy.” (Yunus:3)
3. Tempat ketiga, dalam surat Ar-Ra’d. Alloh berfirman,artinya,
“Alloh-lah yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy.” (Ar-Ra’d:2)
4. Tempat keempat, dalam surat Thaha, FirmanNya,artinya,
“Alloh yang Maha Pemurah, Yang bersemayam diatas ‘Arsy.” (Thaha:5)

Apabila kita katakan bahwa Alloh bersemayam di atas ‘Arsy, maka disini timbul pertanyaan yaitu bahwa Alloh menciptakan langit lalu kemudian bersemayam diatas ‘Arsy, apakah ini berarti bahwa sebelum itu Dia tidak Maha Tinggi?

Jawabannya: Tidak berarti begitu, karena Alloh bersemayam diatas ‘Arsy lebih khusus dari sekedar bertempat. Ia adalah bersemayam yang khusus bagiNya dan keberadaan Alloh diatas itu sendiri mencakup diatas seluruh makhluk. Jadi uluw Alloh tetap dimilikinya secara azali dan abadi. Dia Maha Tinggi di atas segala sesuatu sebelum menciptakan ‘Arsy. Sedangkan tidak bersemayamnya Alloh di atas ‘Arsy bukan berarti bahwa Dia tidak Maha Tinggi, Dia senantiasa Maha Tinggi dan kemudian setelah menciptakan langit dan bumi Dia bersemayam di atas ‘Arsy secara khusus.

Kesalahan Orang Yang Membagi Bid’ah Menjadi Beberapa Bagian

Seringkali kita mendengar hadits nabi Shallallahu ‘alaihi wa Salam yang berbunyi:
“Dan sesungguhnya perkara-perkara yang diada-adakan (tidak ada petunjuknya dari nabi) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah itu sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.”
Sabda nabi “perkara yang diada-adakan,” maksudnya adalah perkara- perkara dalam agama. Adapun perkara-perkara dunia, maka ia tidak termasuk ke dalam hadits ini, karena perkara-perkara dunia pada asalnya adalah halal, apa yang baru dalam perkara dunia adalah sah, kecuali jika ada dalil yang melarangnya. Sebaliknya, perkara-perkara agama pada asalnya adalah dilarang, apa yang diada-adakan didalamnya adalah haram dan merupakan perbuatan bid’ah, kecuali jika ada dalil dari A-Qur’an dan hadits yang mensyari’atkannya.
Sedangkan sabda nabi shallallahu ‘alaihi wa salam “Dan setiap bid’ah adalah kesesatan”. Kalimat ini bercabang kepada kalimat peringatan yang sebelumnya. Jadi maksudnya adalah penegasan peringatan dan penjelasan tentang hukum bid’ah. Ini adalah pengumuman yang kuat dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasalam yang merupakan orang paling mengetahui syari’at Alloh, orang yang paling fasih penjelasannya, dan orang yang paling jujur beritanya. Empat sifat yang ada pada diri beliau: ilmu, ketulusan nasihat, kefasihan, dan kejujuran.

Berdasarkan hal ini, siapapun yang beribadah kepada Alloh dengan akidah atau perkataan atau perbuatan yang bukan dari syari’at Alloh, maka ia adalah pelaku bid’ah. Sebagaimana orang- orang yang membuat-buat dzikir-dzikir tertentu dimana mereka beribadah kepada Alloh dengannya, mereka meyakini bahwa mereka berpahala.

Demikianlah beberapa point pembahasan yang bisa kami hadirkan dalam kesempatan yang singkat ini, masih banyak perkara penting dalam buku ini yang seyogyanya seorang muslim mengetahui dan memahaminya dengan baik, dalam rangka menjaga kemurnian tauhid nya dan mewujudkan kesungguhan mutaba’ahnya kepada Rosul yang mulia Muhammad sholallahu ‘alaihi wassalam. Maka tidak lah berlebihan kalau kami katakan bahwa apa yang ditulis oleh syaikhul Islam dalam risalahnya al aqidah al washitiah merupakan penjelasan yang ringkas namun begitu komprehensif tentang aqidah islam yang akan menghantarkan para pembacanya kepada benarnya keyakinan dan benarnya amalan dimana puncaknya adalah surga Allah yang Maha Tinggi, sebaliknya bagi mereka yang menolaknya atau bahkan mengingkarinya dan meyakini apa yang berlawanan dengan apa yang terdapat dalam risalah ini, maka ketauhilah sesungguhnya tempat kembalinya tidak lain adalah kesengsaraan yang tidak akan pernah berujung dalam pedihnya azab neraka Allah – wal’iyyadzubillah –

Semoga Allah memberikan kita keselamatan dan keistiqomahan dalam Islam dan sunnah dalam hidup dan mati kita, dan menjadikan kita semua orang-orang yang mencintai ilmu dan Ulama, yang dengan perantaranya Allah memberikan kepada kita kemudahan untuk memahami hakikat agama dalam kemudahan hukum-hukumnya dan keindahan syariatnya, wallahu ‘alam

Register